Moeldoko Sebut McDonald's Sebagai Invasi Budaya Acara Serah terima jabatan antara Panglima TNI Jenderal Moeldoko dan Gatot Nurmantyo di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (14/7). (Foto: MerahPutih/Rizki Fitrianto)

MerahPutih Peristiwa - Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko menjabarkan tantangan zaman dalam 20 tahun ke depan terletak pada invasi budaya. Hal itu diungkapkan Moeldoko dalam orasi ilmiahnya dihadapan kader Pemuda Pancasila dalam rangka memperingati HUT Pemuda Pancasila ke-56 di Jakarta, Sabtu, (14/11) malam.

Menurut Moeldoko, dalam 20 tahun ke depan dunia akan menghadapi 10 tren perkembangan. Di mana ada 5 faktor yang menjadi penentu perkembangan masa depan. Yang pertama, perubahan yang cepat yang mengandung risiko dan ada kompleksitas dan penuh dengan kejutan.

"10 hal yang kita hadapi di masa depan adalah, kelangkaan energi. Di mana 20 tahun kedepan energi kita akan mengalami kelangkaan yang krusial dan tidak bisa dianggap sepele. Kemudian inovasi ekonomi dari negara-negara internasional. Di mana negara yang tidak memiliki inovasi akan tertinggal. Kemudian peningkatan sumber daya manusia, dalam konteks ini di depan mata sudah ada Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang ditonjolkan adalah daya saing kompetitif, bukan daya saing komperatif seperti yang ada selama ini," ujar Moeldoko.

Moeldoko juga memprediksi dalam 20 tahun ke depan umat manusia menemukan serum yang dapat memperpanjang usia manusia hingga 100 tahun. "Dalam 20 tahun Tiongkok akan memiliki 300 juta manusia usia lanjut (manula), bisa dibayangkan bagaimana beban negara mengatasi 300 juta manula, kesehatannya, belum lagi angka kelahiran yang tinggi," ujarnya.

Masa depan globalisasi juga semakin tidak menentu, menurut Moeldoko, dunia menghadapi era baru di mana situasi keamanan tidak menentu. Seperti perang yang selama abad 21 dan sebelumnya selalu diinisiasi negara, di masa depan, negara tidak memiliki peranan yang signifikan lagi dan tidak bisa mengendalikan perang yang ada.

"Saat ini sudah terjadi paradigma baru tentang perang. Kalau dulu perang diinisiasi oleh negara, sekarang tidak lagi, contohnya ISIS, mereka bukan negara, tapi menginiasi perang dahsyat, kalau dulu perang memiliki front yang jelas, sekarang tidak, perang bisa dimana-mana, ditempat konser bisa ada bom dan tembakan. Dan yang paling berbahaya adalah perang budaya. Seperti diungkapkan Ayatullah Khomeini, peran budaya adalah menyenangkan korbannya," jelas Moeldoko.

Moeldoko mencontohkan narkoba dan McDonald's sebagai perang budaya yang saat ini tengah berlangsung. Dimana para korbannya justru merasa senang. "Sekarang sudah tidak bisa lagi bilang, 'Belanda masih jauh', sekarang sudah tidak bisa lagi bicara kumaha engke, yang harus dipikirkan, engke kumaha," ujarnya.(aka)

Baca Juga:

  1. Pemuda Pancasila Bangun Kerjasama dengan Kementerian Pertahanan
  2. Jangan Berikan TV dan Gadget Kepada Anak Secara Bebas
  3. Gina: Bangun Pendidikan Calon Pemimpin Masa Depan Bukan Pekerja
  4. Kabid Pendidikan Srikandi Pemuda Pancasila: Bangun Kecintaan Belajar itu Penting
  5. Pemuda Pancasila Bangun Pendidikan Bangsa Lewat Srikandi


Eddy Flo

YOU MAY ALSO LIKE