Selisik Cerita Hasmi Menelurkan Komik Gundala, Apakah Sancaka Anak Buruh? Gundala mengeluarkan jurus pamungkas petir. (Foto: Bumilangit)

SANCAKA dan Awan masuk gedung pertunjukan. Mereka sama-sama ingin menyaksikan pentas Teater Stemka Yogya bertajuk Roro Mendut. Saat sedang asyik menonton penampilan Mendut kontra Tumenggung Wiraguna di atas pentas, tiba-tiba kondisi bangku penonton berubah ricuh saat seseorang berteriak. "Copeeeet!!!".

Kalung berliontin milik Sancaka biasa digunakannya sebagai medium berubah menjadi Gundala jatuh. Begitu pulan cicin kepunyaan Awan lumrah dipakai agar bersalin rupa menjadi Godam terpental jatuh ke lantai. Mereka sama-sama meraba mencari kalung dan cincin.

Baca juga:

Apa Saja Perbedaan Gundala Versi Klasik Versus Film Joko Anwar?

Tiba-tiba, di tengah situasi ricuh, keduanya salah mengambil. Sancaka jadi Godam dan Awan berubah Gundala. Keduanya lantas sama-sama saling menuduh satu sama lain palsu, bahkan semula adu mulut berujung perkelahian.

"Orang ini tentulah Godam palsu," kata Awan mengenakan kostum Gundala pada Gundala VS Godam tahun 1971, menuding lawannya.

"Kau pasti bukan Gundala! Hayo katakan di mana sarang Ghazul sekarang! Atau kuremuk tubuhmu!." balas Sancaka menggunakan busana Godam.

Komik Gundala Vs Godam. (Foto: Bumi langit)
Komik Gundala Vs Godam. (Foto: Bumi langit)

Keduanya bertarung kesetanan. Mereka saling tuduh musuh bebuyutan keduanya, Ghazul dan Doctor Setan, sebagai biang kerok muncul Gundala dan Godam palsu.

Penonton lain melihat perkelahian dua jagoan tersebut bingung bukan kepalang. "Mungkin mereka berebut pacar," seloroh salah satu penonton warga Yogyakarta. Pertarungan tak menghasilkan kemenangan maupun kekalahan. Mereka tak puas kemudian mengadu pada Kaisar Crons dan Bapak Kebenaran. Keduanya akhrinya tahu penyebab mereka tertukar kostum.

Baca juga:

Mencoba Keseruan Gim Gundala

Ketika Hasmi membuat cergam tersebut, muncul desas-desus di kalangan masyarakat Yogyakarta menyua kabar keretakann hubungannya dengan Widodo Noor Slamet alias Wid NS penggubah Godam.

"Justru hubungan Pak Hasmi dan ayah saya baik sekali. Sudah seperti saudara. Kan karena memang dekat sekali makanya bisa saling bikin cross cerita begitu," kata Fajar Sungging, putra Wid NS kepada Merahputih.com.

gundala
Gundala saat menangkis serangan musuh. (Foto: Bumilangit)

Dalam membuat ide cerita, Hasmi dan Wid NS, biasa tukar pikiran. Hasmi akan bertanya apakah cerita telah dibuatnya bagus menurut pandangan Wid. Begitu juga sebaliknya. Bahkan setiap mereka bertemu selalu menelurkan ide baru seperti kreasi Gundala VS Godam.

Hasmi memang seolah bermain-main dalam membuat plot cerita Gundala. Ia terkadang memberi nama tokoh di komiknya dari siapa saja ditemuinya, begitu pun latar tempat, bahkan petugas peron kereta api di stasiun Nganjuk pernah berbincang dengan Gundala. Pernah pula Gundala berteleportasi kembali ke masa Panembahan Senopati bertemu Gajah Abur-Abur, lalu mengajaknya kembali ke masanya melihat kereta tanpa kuda alia mobil dan gedung tinggi.

"Hasmi semasa kecil sering didongenkan ibunya kisah tentang sejarah atau legenda sehingga, peristiwa semacam Panembahan Senopati sudah ada di kepalanya," tambah Sungging, mengisahkan hubungan antara Hasmi dan Ibu serta ayahnya nan merupakan abdi dalem keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Selain dari segi cerita, secara visual penggambaran musuh-musuh Gundala di Planet Covox pun mirip dengan buta pada kisah pewayangan dengan mata besar.

Baca juga:

7 Action Figure dan Statue Resmi Gundala Kreasi Dolanan Keren

Memang antara Hasmi dan Yogyakarta, menurut Fajar Sungging, tak akan bisa dilepaskan karena dari segi kisah maupun visual banyak dibubuhkan lokasi, bangunan, dan gaya bercanda khas Kota Pelajar di dalam cergam Gundala. Hasmi menyajikan sosok Sancaka sebagai seorang insinyur kimia di Universitas Gajah Mada (UGM) sedang melakukan penelitan tentang serum antipetir, namun ketertarikannya begitu kuat dengan penelitian tersebut berbuntut pupusnya hubungan cintanya dengan Minarti.

Sancaka, dalam keadaan kalut, membuang serum antipetir padahal sudah jadi, lalu keluar ruangan berlari di bawah deras hujan sampai di sebuah tanah lapang, kemudian disambar petir. Namun, petir tenyata membawa Sancaka bertemu Kaisar Kronz, penguasa Kerajaan Petir di antariksa. Ia ditabalkan menjadi anak Kaisar Crons, diberi nama Gundala dan diberi liontin sehingga bisa berubah mengenakan kostum dan mengeluarkan jurus ampuh mengeluarkan petir dari kedua tangannya.

gundala
Gundala saat mencoba kekuatan petir. (Foto: Bumilangit)

Hasmi menggubah Gundala pada tahun 1969 di Yogyakarta, menurut Fajar Sungging, lantaran permintaan penerbit mengingkan sebuah cerita bergambar serupa supehero di Amerika. Gundala terinspirasi dari sosok The Flash dan kisah legenda Ki Ageng Selo Nyepeng Gelap. Tak heran selain Gundala bisa mengeluarkan petir juga bisa berlari cepat setelah diberi kekuatan tambahan dari Raja Taifun.

Meski mengambil inspirasi dari superhero Amerika, Gundala gubahan Hasmi menjadi ikonik serta digemari banyak kalangan lantaran pembubuhan unsur-unsur lokal, seperti sempalan cerita Panembahan Senopati, lokasi-lokasi di Yogyakarta sehingga dekat dengan pembaca, dan gaya bercanda khas seperti sedang menyaksikan Dagelan Mataram atau Srimulat.

Baca juga:

Beda Rupa Kostum Gundala, Gimana Ceritanya?

Hasmi, lanjut Sungging, dikenal sebagai sosok senang berkelakar. Bahkan menurut pengakuannya, sosok Gundala merupakan bualan Hasmi, namun tak disangka bualan itu ternyata disukai publik hingga akhirnya terkenal.

"Pak Hasmi pernah bilang, 'aku asal membual, tapi pada suka'. Jadi sejak kecil, Hasmi diperkaya dengan cerita wayang, cerita apa saja. Ketika kecil banyak peristiwa dalam hidupnya dan selalu terekam dengan baik di situlah muncul ide," terangnya.

Dalam membuat cerita Gundala, Hasmi senang memasukan candaan kesehariannya ke dalam komik. Risetnya pun tak terlalu banyak, meskipun tentu cerita disajikan tak bisa dibilang asal-asalan.

Hasmi selalu menuangkan ide dari kesehariannya. (Foto: Komik Gundala)
Hasmi selalu menuangkan ide dari kesehariannya. (Foto: Komik Gundala)

"Jadi soal nama (dalam komik) itu nama-nama keseharian di kampung. Semua candaan di lingkungan dimasukan. Lebih ke implusif dan spontan. Kalau ngobrol seharian dengan Pak Hasmi pasti tahu bagaimana karakternya," tambah Sungging.

Hasmi bahkan memasukan sosoknya di dalam cergam Gundala. Sosok tersebut bernama Nemo, sosok ngeselin, slengean, dan lucu, menurut Sungging, persis seperti penggubahnya.

"Itu bagaian pak hasmi dari sisi lain," kata Sungging.

Sedari tahun 1969 hingga 1982, Hasmi tercatat telah melahirkan 23 judul Gundala. Meski begitu seri Gundala pamungkas di tahun 1982 berjudul Surat Terakhir dari Akherat dianggap paling membuatnya tak begitu puas lantaran separuhnya dikerjakan orang lain sehingga tak sesuai keinginannya. Hasmi kala itu tak mampu menyelesaikan Gundala seri terakhir karena kepincut proyek penggarapan komik Serangan Umum Soeharto. (Yni)

Baca juga:

Tersihir Gundala Putra Petir

Kanal
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Aksi Bang Pi`ie Jago Revolusi
Indonesiaku
Aksi Bang Pi`ie Jago Revolusi

Serang kilat pasukan Bang Pi`ie membuat pasukan NICA mundur.

'Wonderful Indonesia' Berkeliaran di Wina
Travel
'Wonderful Indonesia' Berkeliaran di Wina

Kedubes RI di Wina mendukung upaya promosi Wonderful Indonesia di Eropa.

Kawasan Wisata Mawatu, Destinasi Wisata di Labuan Bajo
Travel
Kawasan Wisata Mawatu, Destinasi Wisata di Labuan Bajo

Labuan Bajo akhirnya punya destinasi baru enggak kalah memorable, yakni Mawatu. Vasanta Group melalui PT Graha Propert Sentosa

5 Destinasi Favorit Liburan Akhir Tahun, Ada Kotamu?
Travel
5 Destinasi Favorit Liburan Akhir Tahun, Ada Kotamu?

Setiap kota punya ceritanya masing-masing.

Peneliti Asing: Saung Angklung Udjo Harus Didukung
Tradisi
Peneliti Asing: Saung Angklung Udjo Harus Didukung

Angklung adalah alat musik yang bisa meng-cover semua nada musik dengan nada Sunda yang luar biasa indah.

Membedah Artefak Peninggalan Prasejarah Tatar Sunda
Tradisi
Membedah Artefak Peninggalan Prasejarah Tatar Sunda

Tatar Sunda memiliki riwayat perjalanan sejarah yang panjang.

Restoran Dragon Hot Pot dari Melbourne Hadir di Gading Serpong
Kuliner
Restoran Dragon Hot Pot dari Melbourne Hadir di Gading Serpong

Dragon Hot Pot merupakan salah satu restoran hotpot ternama di Melbourne, Australia, yang saat ini sudah hadir di Gading Serpong.

Menjalankan 4 Brata di kala Nyepi
Tradisi
Menjalankan 4 Brata di kala Nyepi

Hari Raya Nyepi sebagai pergantian tahun baru Saka membuat pulau cantik itu 'tidur' total selama 24 jam.

Ketika Macet Malah Jadi Wisata Alam di Negeri Aing
Travel
Ketika Macet Malah Jadi Wisata Alam di Negeri Aing

Menghabiskan waktu dengan makan dan gelar tikat saat macet memang paling abdol.

Cuma di Indonesia, Bumbu Masak Jadi Oleh-Oleh Pelesir
Travel
Cuma di Indonesia, Bumbu Masak Jadi Oleh-Oleh Pelesir

Bahkan ada yang beraroma menyengat.