Apa Saja Perbedaan Gundala Versi Klasik Versus Film Joko Anwar? Gundala saat mengeluarkan jurus andalan kekuatan petir. (Foto: Bumilangit)

MYRA Kiriyuu mengernyitkan dahi sehabis nonton Gundala. Ia menyimpan beberapa pertanyaan pada beberapa adegan di film garapan Joko Anwar tersebut. "Siapa sih 'Ana-Anak Bapak' kok kayaknya sakti tapi kalahnya cepat banget," kata konten kreator pengulas film tersebut.

Myra lantas tak puas nonton sekali, bahkan, demi mencari jawaban sebagai bekal mengulas film, akhirnya ikut grup diskusi tentang Gundala di Twitter.

Baca juga:

Mencoba Keseruan Gim Gundala

"Dari situ banyak dapat jawaban. Apalagi ternyata Gundala juga ada di zaman dulu, versi komik dan film (1981)," kata Myra nan sekarang aktif di Rakyat Bumilangit, komunitas penggemar karakter jagoan lokal bermula dari diskusi di Twitter.

Setelah dapat bekal di grup Twitter, ia kembali menonton Gundala bahkan berulang-ulang. Myra akhirnya beroleh beberapa detail perbedaan Gundala versi Joko Anwar dan versi klasik di cerita bergambar (cergam) karya Hasmi dan film tahun 1981.

Sancaka, di dalam film Gundala garapan Joko Anwar, digambarkan sebagai anak buruh, tinggal di rumah petak kontrakan, kelak kehilangan ayah dan ibu, sedari kecil menggelandangan, lalu ketika dewasa bekerja sebagai pihak keamanan (security) di pabrik.

Petir, Lari Secepat Angin, dan Bela Diri Jadi Jurus Gundala Lawan Para Musuh
Aksi Gundala mengeluarkan jurus andalan kekuatan petir. (Foto: Bumilangit)

Di pabrik, Sancaka dekat dengan Pak Agung, atasannya. Tiap terjadi masalah, ia selalu bercerita kepadanya, mulai dikeroyok preman, ketakutannya terhadap petir, sampai kebingungan mendadak bisa mengeluarkan petir dari tangan. Maka, begitu paham petir jadi bagian tak terpisahkan dari dirinya, ia mengumpulkan beberapa barang, di antaranya potongan logam dari logo tempat pabriknya bekerja, potongan belt rubber, goggle glass, dan bahan kulit dari tas Wulan.

"Kostumnya memang beda sama komik klasik Pak Hasmi," kata Onta, sapaan pemilik akun Jagoan Kancil, begitu menyaksikan Sancaka mengkreasikan bahan-bahan di sekitar pabrik menjadi busana agar orang-orang terdekatnya tidak terkena aliran listrik atau petir dari tubuhnya.

Baca juga:

7 Action Figure dan Statue Resmi Gundala Kreasi Dolanan Keren

Jika Myra kali pertama menyaksikan Gundala sama sekali buta, justru Onta punya bekal telah membaca cergam Gundala garapan Hasmi sehingga mudah baginya melihat banyak perbedaan.

"Memang banyak perbedaan, tapi saya tidak kecewa terhadap film Gundala karena Joko Anwar berusaha memberi cerita logis buat penoton sekarang," katanya menilai reboot film Gundala.

Pada versi cergam, Sancaka merupakan ilmuwan, berangkat dari keluarga kelas menengah atas, memiliki ayah dan ibu harmonis, namun asmaranya kerap kandas lantaran banyak, salah satunya terlalu sibuk di laboratorium saat membuat serum antipetir sehingga harus putus hubungan dengan Minarti. Ia patah hati, membuang serum padahal sudah jadi, lari menuju sebuah padang di tengah hujan deras, lantas tersambar petir.

gundala
Gundala saat berhadapan dengan musuh-musuhnya, 'Anak-Anak Bapak'. (Foto: Bumilangit)

Bukannya terluka atau sampai meninggal, petir justru membawa Sancaka menuju sebuah tempat bernama Kerajaan Petir bertemu Kaisar Crons. Ia diminta Kaisar Crons menjadi panglima perang Kerajaan Petir menghadapi Kerajaan Mega.

"Sancaka, pakaian ini khusus ku sediakan buatmu. Pakaian itu tersimpan dalam liontin kalung ini," kata Kaisar Crons sembari memberikan liontin ke Sancaka, di dalam cergam Gundala Putra Petir. "Nah, cobalah".

Begitu liontin dipegang, Sancaka berubah menjadi Gundala dengan kostum berwarna biru gelap lengkap dengan sarung tangan merah, dan celana dalam tapi dipakai di luar, sementara di bagian kepala terdapat dua buah sayap berwarna putih sebagai pelengkap. Kekuatannya mampu mengalirkan listrik atau petir dari telapak tangannya bahkan kali pertama dicoba mampu menghancurkan sebuah balok baja 125 meter kubik.

Baca juga:

Beda Rupa Kostum Gundala, Gimana Ceritanya?

Selama di antariksa, Gundala bertualang menghadapi kerajaan Mega, mengunjungi Planet Covox, hingga akhirnya setelah sebelum kembali ke Bumi ia diberi kekuatan dari Raja Taifun jurus berlari secepat kilat. Dengan kekuatan tersebut Gundala mempunyai tugas penting di Bumi.

"Membasmi kejahatan dengan berlari secepat topan dan petir menggelegar dari kedua telapak tangannya, itulah jasa Gundala kepada bumi Nusantara," tulis penjelasan singkat penulis di dalam halaman depan cergam Gundala Putra Petir.

Selama di Bumi, Gundala dengan kekuatannya hanya melumpuhkan tidak sampai membunuh para penjahat, lain seperti masih di antariksa saat menghadapi musuh di Planet Covox.

gundala
Gundala berhadapan dengan Adi Sulaiman. (Foto: Bumilangit)

"Pak Hasmi memang humanis, takut sekali terhadap kejadian mengerikan, makanya jarang ditampilkan gambar mengerikan di Gundala," kata Fajar Sungging, putra Widodo Noor Slamet (Wid NS) penggubah Godam sahabat baik bahkan seperti keluarga bagi Hasmi.

Kesuksesan cergam Gundala membawa cerita tentang jagoan lokal gabungan antara inspirasi dari The Flash dan legenda Ki Ageng Selo Nyepeng Gelap lantas dialihwahana pada layar lebar. Saat diadaptasi ke dalam film, sutradara Lilik Sudjio tak mengubah banyak cerita Gundala nan diperankan Teddy Purba. Hanya saja, film Gundala Putra Petir tahun 1981, tak menampilkan kejadian di Kerajaan Petir dan Planet Covox lantaran kepadatan cerita.

Baca juga:

Proses Kreatif Dolanan Keren Membuat Collectible Action Figure Gundala

Musuh utama Gundala, di dalam film tersebut, seorang gembong narkoba bernama Ghazul. Perbedaannya, di komik terutama pada cerita awal sekembali Gundala dari antariksa, Ghazul tampil sebagai penjahat ulung nan terobsesi pada harta karun. Selebihnya, tak ada perbedaan mencolok, lantaran antara cergam dan film tahun 1981, unsur Yogyakarta digambarkan dengan suasana kampus dan lainnya masih sangat kentara betul.

Justru, di film garapan Joko Anwar tak tampak sama sekali unsur khas Yogyakarta. "Pak Hasmi dan Yogyakarta enggak bisa dipisahkan, makanya di komiknya hampir kebanyakan cerita tentang ruang hidupnya. Unsur itu memang enggak ada di film (Joko Anwar)," sambung Fajar Sungging.

GM Bumilangit Studios Wim Berlinawan mengatakan perubahan latar belakang Sancaka tidak spesifik untuk menarget pasar penonton tertentu. "Joko dan tim Bumilangit ingin membuat film ini agar bisa dinikmati oleh mereka yang belum pernah tahu tentang Gundala," ungkapnya.

gundala
Gundala saat mengeluarkan jurus andalan. (Foto: Bumilangit)

Perbedaan profesi secara mencolok antara Sacanak pada film 2019 dan komik maupun film 1981, lanjutnya, agar cerita menjadi lebih dekat dengan kondisi Indonesia di masa kini. "Jadi kita mencari profesi Sancaka yang lebih dekat dengan orang Indonesia," kata Berlinawan.

Perlu diingat anggaran film Gundala, menurut Imansyah Lubis, Production Manager Bumilangit Studios, tak besar hanya Rp30 miliar bahkan jauh sekali dari anggaran produksi film supehero di Hollywood sehingga pihaknya harus memutar otak agar unsur lain bisa lebih beroleh eksplorasi.

"Ini tantangan juga buat kami, untuk membawa sesuatu yang keren pada zamannya, dan ingin dibuat keren lagi di zaman berbeda. Dulu tahun segitu (era 70 sampai 80-an) profesi scientist itu keren. Sekarang pun masih keren banget, tetapi seberapa relate dengan kehidupan sehari-hari?" tambahnya Imansyah.

Kisah asmara Gundala juga berbeda. Di film 1981, Sancaka punya kekasih bernama Minarti nan sempat putus hubungan namun akhirnya kembali menjalin cinta. Namun, di dalam cergam tentu saja ada Minarti, lalu ada Sedhah Esti Wulan (kelak menjadi Merpati), dan perempuan lain. Sementara di film 2019, Sancaka semacam jadi teman dekat Wulan. (SHN)

Baca juga:

Tersihir Gundala Putra Petir

Penulis : annehs annehs
Kanal
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
5 Tradisi  Indonesia Rayakan Isra Mikraj
Tradisi
5 Tradisi Indonesia Rayakan Isra Mikraj

Tiap daerah punya tradisi tersendiri yang unik.

Rahasia Senjata Si Buta Dari Gua Hantu
Indonesiaku
Rahasia Senjata Si Buta Dari Gua Hantu

Ia salah seorang mahir memainkan jurus Golok Elang Putih dengan kemampuan kecepatan tebasan.

Banjaratma, Rest Area Unik Bagaikan Museum
Travel
Banjaratma, Rest Area Unik Bagaikan Museum

Rest area Tol Pejagan-Pemalang KM 260B ini favorit banyak orang.

Ulu Cliff House, Restoran Instagramable di Tebing Uluwatu Bali
Travel
Ulu Cliff House, Restoran Instagramable di Tebing Uluwatu Bali

Ulu Cliff House menawarkan tempat makan dengan view lautan nan indah.

Ragam Kolak Nusantara yang Siap Menggugah Selera Buka Puasa
Kuliner
Cuma di Negeri Aing Pesta Pernikahan Sampai Menutup Jalan
Tradisi
Cuma di Negeri Aing Pesta Pernikahan Sampai Menutup Jalan

Banyak pesta pernikahan di Indonesia yang digelar hingga menutup jalan desa bahkan jalan raya.

Pentingnya Perlindungan Masyarakat Adat untuk Keanekaragaman Alam
Tradisi
Pentingnya Perlindungan Masyarakat Adat untuk Keanekaragaman Alam

Masyarakat adat memerlukan perhatian pemerintah.

Dianggap Penting, Budaya Magis Banten akan Diseminarkan
Tradisi
Dianggap Penting, Budaya Magis Banten akan Diseminarkan

Dunia magis, adalah dunia yang tak bisa dipisahkan dari budaya masyarakat Nusantara

Remaja Jakarta Tak Sabar Taman Ismail Marzuki Kembali Dibuka
Travel
Remaja Jakarta Tak Sabar Taman Ismail Marzuki Kembali Dibuka

Beberapa remaja yang ditemui di area plaza TIM sudah tak sabar serta penasaran melihat berbagai spot menarik di pusat kesenian itu