Sejarah Tari Kretek, Representasi Buruh Rokok di Kabupaten Kudus Tari kretek dipentaskan saat Aksi Kabangsaan Indonesia Raya 412 di Jakarta. (Foto: MerahPutih/Widi Hatmoko)

MerahPutih Budaya - Tari kretek adalah tarian tradisional khas Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Sejarah lahirnya tarian ini tidak lepas dari kota Kudus sebagai produsen penghasil rokok kretek pertama di Indonesia. Awalnya, tarian ini bernama tari mbatil. Namun karena nama mbatil tidak begitu dikenal di masyarakat, digantilah dengan tari kretek.

Tari kretek pertama kali dipentaskan adalah pada saat peresmian Museum Kretek, 3 Oktober 1986, yang diprakarsai Gubernur Jawa Tengah kala itu Soepardjo Roestam. Dalam acara ini, tari kretek dimainkan oleh 500 orang penari sekaligus.

Tari Kretek sendiri diciptakan oleh Endang Tonny, pemilik Sanggar Seni Puring Sari. Tarian ini menceritakan tentang para buruh rokok yang sedang bekerja membuat rokok, mulai dari pemilihan tembakau hingga rokok siap dipasarkan. Tarian dibawakan beberapa penari perempuan sebagai representasi buruh mbatil dan penari lelaki sebagai representasi dari seorang mandor.

Buruh mbatil adalah buruh rokok yang kerjanya mengguntingi atau merapikan ujung-ujung rokok. Sementara sang mandor adalah bos yang mengawasi buruh rokok dan mempunyai kuasa untuk menyortir atau menyeleksi rokok garapan buruh.

Kostum, atribut dan perlangkapan tari kretek di antaranya; konde bernama konde ayu; cunduk, cunduk ada dua macam yaitu cunduk ece (yang di pakai untuk usia SLTP ke bawah) dan cundek jepu (yang dipakai untuk remaja sampai dewasa ); giwang markis (tak lagi dipakai), karena sekarang giwang markis susah dicari maka diganti dengan permata (kalung susun renteng 9, angka 9 melambangkan wali sanga); bros atau gendhem 5, angka 5 mempunyai arti rukun Islam; gelang lungwi; kebaya kartininan warna biru; selendang toh watu; tangen (kendit); idet; jarik kaseman san sore bisa juga menggunakan jarik kudusan; celana rancingan kuning; pek timang (sabuk) dan gesper.


Tari kretek dipentaskan saat Aksi Kabangsaan Indonesia Raya 412 di Jakarta. (Foto: MerahPutih/Widi Hatmoko)

Bupati Kudus Musthofa Wardoyo mengungkapkan, melihat Kudus bukan sekadar daerah industri, jauh dari itu merupakan daerah yang memiliki kultur dan filosofi “gusjugang”. Menurut Musthofa, filosofi gusjigang sendiri merupakan salah satu nasihat atau pegangan hidup masyarakat Kudus yang diajarkan oleh Sunan Kudus.

“Agar kita semua bisa senantiasa menjadi makhluk atau sosok yang ideal, yang memiliki akhlak atau perangai yang bagus, taat beragama, berintelektualitas tinggi, dan pandai mencari uang dengan berdagang, serta mempunyai jiwa entrepreneurship sebagai seorang pengusaha,” ujar Musthofa kepada merahputih.com, usai pementasan tari kretek di panggung terbuka Aksi Kabangsaan Indonesia Raya 412, Patung Arjuna Wijaya atau Patung Asta Brata, persimpangan Jalan MH Thamrin dengan Jalan Merdeka Barat Monas, Jakarta, Minggu (4/12).

Ia juga mengungkapkan, gusjigang merupakan singkatan dari tiga kata, yang artinya; Gus berasal dari kata "bagus", ji adalah dari kata "ngaji", dan gang adalah "dagang." (Wid)

BACA JUGA:

  1. Tari Kretek Semarakkan Panggung Parade Nusantara
  2. Cintai Budaya Lokal Lewat Karya Tari Kreasi
  3. Tari Kreasi Lenggang Puspa Simbol Pluralisme Kota Tangsel
  4. Puspo Budoyo Hadiahkan Tari Lenggang Puspo untuk Sewindu Tangsel
  5. Penampilan Tari Bali Pukau Penonton di India


Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH