Kokohnya Radio di Tengah Hantaman Era Digital Radio bukan sekedar musik saja. (Foto: Pixabay/vectronom)

SEBELUM terpaan era digital yang begitu dahsyat melanda, kamu yang lahir di tahun 80-90an mungkin pernah merasakan indahnya memberikan salam-salam untuk someone spesial di sebuah dengan cara menelepon stasiun radio, atau sekedar rekues lagu kesukaanmu. Maklum yah dulu kan media sosial belum seramai dan seaddict saat ini.

Apalagi jika kamu mengetahui si doi sedang mendengarkan salam yang kamu rekues di sebuah stasiun radio, pastinya hati terasa bahagia berbunga-bunga dan penuh cinta. Bahkan tak sedikit pula yang mencurahkan isi hatinya di radio yang menyediakan sebuah program ‘suara pendengar’.

Baca Juga:

Radio Analog Vs Radio Digital Vs Radio Daring, Apa Sih Bedanya?

Lalu kamu pasti akan betah stay tuned terus di stasiun radio favorit jika kamu menyukai suara serta pembawaan si penyiar. Ngaku aja dulu pas jamannya radio tengah berjaya pasti kamu memiliki penyiar favorit, meski kamu belum melihat wujud aslinya. Namun suara khas serta pembawaanya yang bersahabat dan unik bikin ngangenin.

Kalau saat ini sih milenial mungkin enggak tahu, indahnya kenangan yang sederhana namun begitu manis seperti itu. Moonmap nih, rata-rata milenial sekarang sih tahunya cuma dengerin musik di platform digital seperti spotify, joox, soundcloud, iTunes dan sebagainya. Ada sih mungkin beberapa, tapi paling sedikit lah cuma segelintir orang saja.

Terus nih yah, biasanya para milenial habis dengar lagu dari spotify diupload ke instagram story pamer lagi dengarin lagu, biar apa coba? Padahal enggak bisa diplay juga kalau followers instagramnya enggak punya aplikasi platform musik digital tersebut. Bisa jadi biar seluruh netijen +62 tahu lagu kesukaanya.

radio
Radio lebih dekat dengan pendengarnya. (Foto: Pexels/Skitterphoto)

Baca Juga:

Pernah Lihat 'AM' dan 'FM 'di Radio? Ini Artinya

Radio di Indonesia belum mati

bayu
Bayu Oktara, radio adalah media yang dapat dinikmati meskipun tengah dalam mengerjakan sesuatu. (Foto: istimewa)


Radio yang sekilas seperti mulai ditinggalkan dan dilupakan ternyata masih kokoh berdiri tegak. Hal itu dipaparkan oleh Bayu Oktara, pemain sinetron, presenter sekaligus penyiar radio yang telah melanglang di dunia radio sejak tahun 1996.

Menurut penyiar radio yang pernah menjadi penyiar di Hardrock FM, Female Radio, Prambors, dan kini di KIS FM tersebut, Radio memiliki sesuatu yang tak dimiliki media lainnya, dan Bayu pun menegaskan jika Radio saat ini tak ‘lesu’, meski dahsyatnya terpaan era digital dengan munculnya berbagai platform musik digital dan media sosial.

“Yang membuat radio bisa bertahan, karena radio merupakan salah satu media yang bisa dinikmati sambil melakukan hal lainnya. Itu media lain enggak punya, seperti sambil menyetir mobil, sambil belajar dan sebagainya,” ucap Bayu Oktara saat dihubungi merahputih.com, Rabu (11/9).

Bagi penyiar kelahiran Jakarta 1 Oktober 1978 itu, ada beberapa hal yang membuat radio bisa bertahan di era digital ini. Salah satunya ialah dengan ikut memanfaatkan era digital tersebut, karena menurut Bayu, jika tidak seperti itu maka Radio akan tertinggal dengan yang lainnya.

“Untuk menghadapi era digital ini, radio juga harus masuk dalam digital seperti halnya dengan membuat channel streaming maupun aplikasi,” tambah Bayu.


Baca Juga:

Soal Sejarah Radio Sepak Bola, Arsenal yang Pertama

rama
Rama Nidji, enggak hanya mendengarkan musik (Foto: dok. global radio)


Tapi ada satu hal yang tak kalah penting, menurut Bayu faktor kepiawaian seorang penyiar dalam menyampaikan pesan dan berkomunikasi dengan pendengar sangat penting. Seperti halnya mempunyai ciri khas siaran yang unik, menjadikan pendengar sebagai sahabat, dan pastinya pandai membuat si pendengar nyaman. Karena bagi Bayu, kemampuan para penyiar juga merupakan kunci kesuksesan dari radio itu sendiri.

Senada dengan Bayu Oktara, Rama Nidji, musisi sekaligus penyiar radio di Global Radio ini mengatakan jika radio belum mati tak akan mati. Meskipun pada era digital banyak bermunculan berbagai wadah untuk mendengarkan musik dan mendapatkan informasi, tapi radio tetap memiliki tempat spesial di hati para pendengarnya .

Menurut pemilik nama lengkap Muhammad Ramadhista Akbar itu, banyak sekali faktor-faktor yang membuat radio bisa bertahan di era digital ini.

“Meski sekarang ada Spotify dan platform digital musik lainnya, radio kan punya ciri khas sendiri, enggak hanya mendengarkan musik tapi ada yang siaran yaitu penyiarnya,” ucap Rama pada merahputih.com, Rabu (11/9)

Rama juga menegaskan jika di era digital ini Radio semakin kekinian dan memanfaatkan era digital itu sendiri, contoh konkretnya ialah dengan lebih dekat pada para pendengar lewat digital.

“Radio kan juga sekarang lebih dekat dengan para pendengarnya di media sosial, seperti twitter, instagram dan sebagainya, jadi bisa dibilang enggak kalah saing lah dengan media yang saat ini,” ucap Rama.

Baca Juga:

Perjuangan Penyiar Radio Mengabarkan Proklamasi, Nyaris Mati Ditebas Samurai

Radio selalu memberikan peluang

radio
Radio memberikan peluang finansial dan jaringan. (Foto: Pixabay/splitshire)


Radio yang nyatanya tetap kokoh namun sekilas terlihat redup, mungkin menuai spekulasi publik jika bekerja di dunia radio khususnya menjadi seorang penyiar tak menjanjikan, dalam hal ini dari segi finansial.

Namun hal itu dibantah oleh Bayu Oktara selaku penyiar radio yang namanya sudah tak asing lagi di Indonesia, bagi Bayu saat ini menjalani profesi sebagai penyiar radio masih cukup menjanjikan. Karena radio di era digital kini tak seperti dulu, banyak jalur untuk meraih pundi-pundi rupiah.

“Radio masih menjanjikan kok bagi seorang penyiar, sekarang kan pendapatan enggak cuma hanya dari iklan tapi bisa juga dari event dan sebagainya,” kata Bayu.

Bayu juga menambahkan “Apalagi jika seorang penyiar itu punya jam terbang tinggi, punya karakter, memiliki banyak fans dan bisa membuat para pendengar selalu tertarik, pasti pendapatannya akan tinggi dan dicari banyak radio, jadi bisa dibilang cukup menjanjikan dari segi finansial.”

“Kalau enggak menjanjikan yah enggak ada yang mau jadi penyiar radio. Apalagi untuk yang fokus dan punya kemampuan dibidang itu. Lalu dari segi finansial networking juga cukup menguntungkan. Istilahnya dari radio gue kenal banyak orang dan gue dapat banyak jaringan yang sangat berharga. Bisa banget berguna buat kedepan, untuk bisnis misalnya dan sebagainya lah,” jelas Rama Nidji yang dulu sempat menjadi penyiar di MTV SKY (sekarang Trax FM). (ryn)


Baca Juga:

Podcast Serupa dengan Radio

Kredit : raden_yusuf


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH