Perjuangan Penyiar Radio Mengabarkan Proklamasi, Nyaris Mati Ditebas Samurai Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dibacakan Sukarno. (wikipedia)

KEMUNCULAN Syahruddin, jurnalis kantor berita Domei, di dalam gedung Hoso Kyoku (cikal bakal RRI) siang, 17 Agustus 1945, mengagetkan Joesoef Ronodipoero. Joesoef yang merupakan jurnalis Hoso Kyoku itu bingung bagaimana rekan Syahruddin bisa masuk ke gedung tempat dia bekerja. Padahal sejak pagi Tentara Dai Nippon menjaga ketat gedung Hoso Kyoku. Joesoef dan seluruh kru radio itu tertahan di dalam gedung.

Syahruddin tak banyak ngomong. Secara diam-diam dia menyodorkan secarik kertas kepada Joesoef. Lalu pergi meninggalkan gedung. Pria kelahiran Salatiga, 30 September 1913 itu, lalu membaca kertas pemeberian rekan sejawatnya. Ternyata surat dari tokoh pemuda Menteng 31. Adam Malik.

Baca Juga:

Soal Sejarah Radio Sepak Bola, Arsenal yang Pertama

Pernah Lihat 'AM' dan 'FM 'di Radio? Ini Artinya

Isinya, menurut Joesoef Ronodipoero dalam 30 Tahun Kemerdekaan RI 17-8-75: Mengungkap Kembali Semangat Perjuangan 1945, corat-coret proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Di bawahnya dibubuhkan tanda tangan Sukarno-Hatta. Joesoef langsung paham harus berbuat apa.

Cari Celah

Keberadaan tentara Jepang masih mengancam gerak-gerik seluruh karyawan radio. Joesoef pun harus hati-hati. Joesoef harus menyiarkan kabar kemerdekaan Indonesia tanpa diketahui tentara Jepang di Hoso Kyoku. Sedikit saja ceroboh, kabar tentang proklamasi kemerdekaan tak akan tersiar.

proklamasi kemerdekaan indonesia
Ilustrasi RRI. (victimvapor.weebly)

Hampir seluruh ruang siaran dapat intaian langsung tentara Negeri Sakura. Joesoef menahan langkah untuk tak segera bersiaran. Ia mencari celah, memutar otak, untuk dapat mengelabui tentara.

Sejurus kemudian, ia beroleh akal untuk menggunakan ruang siaran tak terpakai. Dahulu ruangan itu digunakan untuk memberitakan kabar-kabar luar negeri. Ia pun mengendap-endap masuk.

Baca Juga:

Merekam Sepak Terjang Radio dalam Film

Siaran Kemerdekaan

Joesoef bersama rekannya Bachtiar Loebis dan beberapa pemuda lain berhasil masuk ruang siaran tak terpakai pukul 19.00. Mereka tak tercium tentara Jepang.

Di dalam, masing-masing orang langsung sibuk menyiapkan siaran. Namun, di luar dugaan, terdapat kendala teknis. Ruangan itu lantaran telah lama tak digunakan, maka sudah tak lagi tersambung pemancar.

Joesoef Ronodipuro
Joesoef Ronodipuro. (Wikipedia)

Mereka kembali putar otak. Joesoef akhirnya menyambung pemancar dari studio lain. Tak lama, suara Joesoef pun mengudara menyampaikan kabar gembira kemerdekaan Republik Indonesia.

Dia bahkan membaca teks proklamasi menggunakan bahasa Inggris sehingga radio luar negeri bisa meneruskannya.

Kabar kemerdekaan berhasil tersiar, namun bahaya segera mereka hadapi.

Nyaris Ditebas Samurai

Siaran Joesoef dan Bachtiar segera sampai di telinga Jepang. Tentara segera menggeledah gedung Hoso Kyoku. Satu per satu ruangan didatangi. Sampai, di sebuah ruang studio tak terpakai, tentara mendapati para penyiar kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga:

Podcast Serupa dengan Radio

Mereka langsung dibekuk. Tentara, menurut Sedjarah Radio di Indonesia, meminta Joesoef dan Bachtiar bertanggung jawab. Tentara menginterogasi habis-habisan. Adu mulut pun terjadi.

Keadaan makin panas. Tentara Jepang pun menghajar mereka hingga babak belur. Beberapa tentara tak mampu menahan diri hingga mencabut samurai. Leher Joesoef dan Bachtiar telah dibidik untuk ditebas.

Tentara mulai mengayunkan samurai. Pedang khas Jepang telah diangkat tinggi lalu menukik keras. Dan... Seorang perwira Jepang datang menghentikan eksekusi itu. Joesoef dan Bachtiar bernapas lega. Mereka selamat dari sabetan samurai. (yudi anugrah)


Tags Artikel Ini

Thomas Kukuh

LAINNYA DARI MERAH PUTIH