Podcast Serupa dengan Radio Podcast merupakan salah satu bentuk perkembangan radio. (Foto: Pixabay/StockSnap)

TEKNOLOGI digital memungkinkan orang saat ini untuk menciptakan inovasi di dunia radio. Perjalanan inovasi ini sudah berlangsung satu dekade lalu. Terutama adalah mendapatkan informasi yang lebih luas dan selektif sesuai dengan kebutuhan.

Salah satu inovasi dalam dunia penyiaran adalah Podcast. Bisa jadi kamu sebenarnya sudah menggunakan podcast hanya saja tidak menyadarinya. Podcast, merupakan salah satu bentuk perkembangan radio di era saat ini. Layaknya radio, selain untuk memperoleh informasi, masyarakat juga dapat program hiburan pula.

Baca Juga:

Dari Depan Mikrofon ke Kamera, Penyiar ini Sukses Jadi Bintang Layar Kaca

radio
Podcast dapat didengarkan kapan saja dan berulang-ulang. (Foto: Pixabay/gustavofer74)

Penggunaan kata Podcast pertama kali keluar di tahun 2004 dari hasil kreasi jurnalis bernama Ben Hammersley. Ia mengambilnya dari kata iPod yang merupakan perangkat musik yang diciptakan perusahaan Apple. Kemudian diramu dengan kata Cast yang mengacu dari kata broadcasting yang berarti penyiaran. Sebenarnya kata yang muncul adalah iPod Broadcasting, kemudian disederhanakan menjadi Podcast. Podcast populer di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa lainnya.

Sama halnya seperti radio, podcast merupakan media yang memproduksi informasi dan hiburan dalam format audio. Namun, ada perbedaan yang signifikan antara radio dan podcast, yakni dari segi waktu dan platform. Pada podcast, para pendengar bebas mendengarkan kapan saja kemudian dapat memilih topik yang didengarkan. Topik-topik itu bisa apa saja, seperti horor, komedi, gaya hidup, wisata, fashion, dan masih banyak lagi.

Salah satu alasan mengapa podcast banyak digemari adalah kontennya yang bervariasi dan fleksibilitas dalam mengakses podcast. Mobilitas yang tinggi dalam peradaban saat ini dengan kehadiran Podcast memungkin seseorang tetap mendapatkan informasi sesuai kebutuhan dan tak melupakan sisi hiburan pula. Salah satu kelebihan podcast adalah tidak adanya iklan yang diselipkan di dalamnya. Jika tertarik dengan satu siaran, dapat kamu dengarkan berulang-ulang.

Baca Juga:

Saskia, Jurnalis Virtual Pertama di Indonesia

radio
Semua orang dapatmembuat program dalam podcast. (Foto: Pixabay/PIX1861)

Sesuai karakteristik radio, Podcast dapat membangun theatre of mind bagi para pendengarnya. Pendengar seolah-olah ditarik ke dalam atmosfir yang dibangun oleh penyiarnya. Seiring perkembangannya, podcast kini dapat dikemas dalam bentuk video.

Podcast bisa didengar melalui streaming ataupun mengunduh secara gratis. Kamu bisa mendengarkannya lewat Spotify, Youtube, Soundcloud, bahkan Apple Podcast.Tak hanya sebagai pendengar saja, kamu bisa juga memproduksi program-program podcast dengan memanfaatkan ponsel pintar. Tentunya dapat memberikan kamu pemasukan tertentu. Sepertinya belum banyak yang melakukan kegiatan ini berbanding dengan Youtube.

Di Indonesia usia pendengar podcast 40 persen lebih dari usia 20 sampai 25 tahun (42,12 persen), diikuti oleh usia 26 sampai 29 tahun (25,52 persen) dan usia 30 sampai 35 tahun (15,96 persen). Artinya, generasi millenial dapat menikmati berbagai macam topik lewat podcast. Secara tidak langsung, kalangan usia tersebut sangat suka dengan hal-hal yang dianggap baru. (And)

Baca Juga:

Berubah Seiring Teknologi, inilah Gaya Nonton dari Masa ke Masa


Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH