Teladani Pahlawan Bendung Propaganda Terorisme

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Jumat, 11 November 2016
Teladani Pahlawan Bendung Propaganda Terorisme

Menpora Imam Nahrawi (kemeja putih) ketika menghadiri acara Renungan dan Tasyakuran di Museum Sumpah Pemuda Jln. Kramat Raya, Senin, Jakarta Pusat, Sabtu (29/10) malam.(foto:muchlis/kemenpora.go.id)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih Nasional - Tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan untuk mengenang kisah heroik arek-arek Suroboyo saat mengusir penjajah dalam mempertahankan Kemerdekaan RI 71 tahun lalu. Kisah kepahlawanan itulah hendaknya dijadikan momentum bangsa Indonesia dalam membendung propaganda radikalisme dan terorisme. 

“Kita wajib meneladani jiwa patriotis para pahlawan dalam pencegahan terorisme, utamanya dalam membendung propaganda radikalisme. Khususnya buat generasi muda yang menjadi target penyebaran paham kekerasan tersebut,” kata Guru Besar Sosiologi Agama UIN Syarif Hidayatulah Prof. Dr. Bambang Pranowo, MA di Jakarta, Jumat (11/11). 

Menanggapi propaganda kelompok radikal yang mengatakan berjihad itu phalawan, Bambang Pranowo menegaskan, agar generasi muda tidak terpancing dengan hal seperti itu. Dalam hal ini, generasi muda Indonesia perlu melakukan kontra dengan memperdalam resolusi jihad yang ditanamkan KH Hasyim Ashari, Bung Tomo, dan Jenderal Soedirman.

“Kemerdekaan negeri ini merupakan hasil jihad para pahlawan yang disemangati oeh ajaran islam. Bukan jihad yang keliru seperti yang dilakukan kelompok radikal tersebut. Jadi salah besar kalau kita malah merusak NKRI ini,” tegas Bambang Pranowo.

Selain itu, kemerdekaan yang telah diperjuangan para pahlawan itu harus dirawat sebaik-baiknya oleh generasi selanjutnya. Menurut Bambang Pranowo, dengan merawat dan mengisi kemerdekaan dengan baik, orang Indonesia juga bisa menjadi pahlawan. Caranya membangun bangsa Indonesia dengan rasa penuh cinta tanah air dalam mewujudkan perdamaian antar sesama.

Selain itu, ia juga menegaskan pemahaman sejarah kepahlawanan juga harus benar-benar ditanamkan kepada masyarakat, baik melalui jalur formal maupun non formal. Untuk genersai muda yang umumnya masih sekolah atau kuliah, lanjut Bambang, jalur pendidikan menjadi jalan terbaik. Salah satunya program pendidikan bela negara harus lebih digalakkan. 

“Kalau dulu ada program P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Itu harus digalakkan lagi, apalagi dalam UUD 45 disebutkan bahwa bela negara itu wajib. Tapi pelaksanaannya harus disesuaikan dengan gaya generasi muda,” terang Bambang.

Ia mencontohkan, pelajaran P-4 itu bisa dilakukan melalui pertunjukan seni budaya, olahraga, lomba-lomba dan pertunjukan film-film sejarah perjuangan yang dilakukan pahlawan bangsa masa lalu, seperti film tentang Cut Nyak Dien atau film-film tentang tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan masa lalu.

“Jadi film-film seperti itu harus diputar di depan anak-anak muda. Dengan begitu rasa cinta tanah air dan kebangsaan generasi muda akan lebih kuat dalam membendung masuknya budaya dan propaganda kekerasan,” tutur Bambang Pranowo.

Selain menonton film-film perjuangan, juga harus ada misalnya seperti lomba menulis tentang pahlawan dan sebagainya. Selain itu perlu juga perlu adanya pendidikan agama yang rahmatan lil alamin bahwa agamaislam pada dasarnya mengajarkan untuk kedamaian, bukan mengajarkan kekerasan.

BACA JUGA:

  1. Menumbuhkan Nilai-Nilai Kepahlawan Cegah Radikalisme dan Terorisme
  2. Aksi 4 November Rawan Disusupi Kelompok Radikal, Umat Islam Diminta Rapatkan Barisan
  3. Pesantren Berperan Menanggulangi Paham Radikal
  4. Imam Besar Masjid Istiqlal: ISIS Selewengkan Arti Hijrah dan Jihad
  5. Imam Besar Masjid Istiqlal Kecam Kekerasan Bom Bunuh Diri

 

#Propaganda #Radikalisme #Hari Pahlawan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Regulasi penggunaan sosial media pada anak di Indonesia belum seketat negara maju lainnya.
Dwi Astarini - Senin, 07 September 2026
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Indonesia
Kemendikdasmen Perkuat Peran Sekolah Cegah Anak Terpapar Radikalisme di Media Sosial
Kekerasan yang perlu dicegah tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga dalam bentuk nonfisik, baik di dunia nyata maupun ruang digital.
Dwi Astarini - Kamis, 03 September 2026
Kemendikdasmen Perkuat Peran Sekolah Cegah Anak Terpapar Radikalisme di Media Sosial
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Indonesia
Polisi Tahan 8 Orang Diduga Lakukan Propaganda Digital, Barang Bukti Rp 220 Juta
​Dalam menjalankan aksinya, sindikat ini terbagi ke dalam lima peran terorganisir, yakni perekrut dan pembiaya, pembuat konten, penyebar konten, pengangkat konten
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 27 Juli 2026
Polisi Tahan 8 Orang Diduga Lakukan Propaganda Digital, Barang Bukti Rp 220 Juta
Indonesia
Paham Radikal Menyebar Cepat, Kadensus 88 Minta Orangtua Lindungi Anak di Ruang Digital
Pendekatan terhadap anak yang terpapar persoalan di ruang digital mengedepankan perlindungan, rehabilitasi, dan pendampingan.
Dwi Astarini - Kamis, 21 Mei 2026
Paham Radikal Menyebar Cepat, Kadensus 88 Minta Orangtua Lindungi Anak di Ruang Digital
Indonesia
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Kadensus 88 AT Polri mengungkap pola baru terorisme digital yang menyasar generasi muda melalui algoritma, komunitas virtual, dan kerentanan psikologis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Indonesia
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Wakapolri mengungkap pola baru terorisme dan ekstremisme yang kini berkembang melalui ruang digital. Polri juga menyoroti ratusan anak terpapar radikalisme di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Indonesia
Pemerintah Klaim RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing Masih Wacana
Pras membantah bahwa RUU tersebut membatasi atau melarang keterbukaan informasi di berbagai platform hingga media sosial.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 16 Januari 2026
Pemerintah Klaim RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing Masih Wacana
Indonesia
Prabowo Instruksikan Yusril dan Menkum Bikin UU Tangkal Propaganda Asing
Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan Rancangan Undang-Undang tentang Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing.
Wisnu Cipto - Kamis, 15 Januari 2026
Prabowo Instruksikan Yusril dan Menkum Bikin UU Tangkal Propaganda Asing
Indonesia
Interaksi Sosial di Platform Gim Daring Jadi Wadah Sebarkan Paham Radikalisme
BNPT mencatat sepanjang tahun 2025 terdapat sekitar 112 anak di 26 provinsi yang teridentifikasi terpapar paham radikalisme melalui ruang digital, baik melalui media sosial maupun gim daring.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 08 Januari 2026
Interaksi Sosial di Platform Gim Daring Jadi Wadah Sebarkan Paham Radikalisme
Bagikan