Waspadai Batu Ginjal Tanduk Rusa yang Muncul Tanpa Gejala Batu tanduk rusa yang ada pada ginjal menyerupai bentuk tanduk rusa yang bercabang-cabang. (Foto: Unsplash/Edward Taylor)

BATU ginjal masih menjadi satu masalah kesehatan yang berkaitan dengan urinologi dari masa ke masa. Ternyata, batu ginjal sendiri memiliki berbagai macam jenis salah satunya disebut staghorn stone (batu tanduk rusa).

Apa itu batu tanduk rusa? Batu tanduk rusa merupakan batu ginjal yang bentuknya menyerupai tanduk dan memiliki cabang-cabang di pelvis renalis.
Baca Juga:
ginjal
Salah satu penyebabnya adalah adanya riwayat asam urat. (Foto: Pixabay/OpenClipart-Vectors)
Dokter Spesialis Urologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr. Ponco Birowo, Sp.U(K), Ph.D menyebutkan ada berbagai hal yang memicu terjadinya batu tanduk rusa. "Faktor yang mempengaruhi terjadinya batu tanduk rusa yakni riwayat keturunan asam urat, infeksi saluran kemih, ginjal tunggal, obesitas, dan sindrom metabolik," urainya melalui Zoom Meeting, Rabu (29/7).
Selain riwayat penyakit keturunan tersebut, batu tanduk rusa juga berpotensi dialami pengidap penyakit lain seperti hiperparatiroidisme, penyakit ginjal polikistik, penyakit pencernaan (reseksi usus, chron, atau gangguan absorpsi), dan kelainan tulang belakang. "Untuk mereka yang pernah mengidap penyakit-penyakit tersebut biasanya ditandai dengan gejala sering mengompol," jelasnya.
Yang membuat penyakit ini semakin berbahaya yakni ia hadir tanpa gejala atau keluhan. "Jika ada seringkali tidak disadari," imbuhnya. Hal itu membuat batu ginjal jadi membesar.
Ada beberapa gejala yang bisa diwaspadai misalnya nyeri pinggang yang hilang timbul, kencing keruh berpasir atau kencing berwarna merah. "Bila sudah sampai tahap infeksi maka menimbulkan demam dan nyeri saat buang air," ucap Ponco.
Baca Juga:
ginjal
Butuh prosedur operasi untuk mengangkat batu ginjal tanduk rusa. (Foto: Pixabay/4466844)
Meskipun berbahaya, batu tanduk rusa bisa ditangani melalui operasi dengan luka minimal bernama Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL). "Metode operasi ini tidak menggunakan x-ray melainkan ultrasonik (USG) sehingga risiko paparan radiasinya nol," tuturnya. Selain itu, teknik operasi ini juga menimalisasi obat-obatan sehingga relatif menghemat biaya.
Kendati penanganannya simpel dan minim resiko, Ponco menghimbau pengidap batu tanduk rusa untuk menjaga pola makam pascaoperasi. Hal tersebut dilakukan agar batu tanduk rusa tidak kembali muncul.
"Konsumsi air mineral cukup, mengontrol konsumsi garam dan protein hewani, kurangi minuman beralkohol dan mengonsumsi makanan berserat tinggi dapat mengurangi peluang kembalinya infeksi saluran kemih," tegasnya. Olahraga yang teratur minimal 75 menit perminggu juga bisa membantu kita untuk tidak lagi mengidap batu tanduk rusa. (avia)
Baca Juga:
Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH