Kuliner Indonesia
Tiga Fakta Sejarah dan Budaya pada Kuliner Gorontalo Nasi Kuning, Tili’aya, telur rebus, dan pisang yang dibagikan kepada petani dan tetangga sekitar saat menghambur benih padi. (Foto:Zahra Khan/@bakulgoronto)

KULINER daerah memang selalu menarik untuk diulik, termasuk kuliner Gorontalo yang belum terlalu luas dikenal. Padahal, Gorontalo punya kekayaan kuliner yang menakjubkan, dan sudah menjadi bagian dari budaya warga Gorontalo.

Food anthropologist dan peserta MasterChef Indonesia Musim 8, Seto Nurseto, mengatakan makanan terkait erat dengan siklus kehidupan manusia. Karena itu, ia meyakini, ada makanan Gorontalo yang terkait kelahiran, pernikahan, dan kematian. "Salah satunya, Tili’aya, yang menjadi syarat dalam acara syukuran adat," kata Seto dalam keterangan resminya yang diterima merahputih.com, Kamis (16/12).

Baca Juga:

Menikmati Mi di Penjuru Ibu Kota

Zahra Khan, pelaku UMKM Bakul Goronto yang berdarah Gorontalo, menyebutkan, di setiap perayaan kelahiran, kematian, dan doa-doa syukur, nasi kuning dan Tili’aya selalu disajikan. Tili’aya merupakan makanan manis serupa Srikoyo dari Padang.

Yuk, kita telusuri jejak sejarah dan budaya yang terkait kuliner Gorontalo.

1. Pengaruh Arab yang kuat

Ikan bakar khas Gorontalo kadang tidak diberi bumbu sama sekali. (Foto: Unsplash/Clint Bustrillos)

Seto, yang juga merupakan dosen antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Padjadjaran, Bandung, menjelaskan, kuliner Gorontalo memiliki sejarah panjang. Ketika bangsa Arab, Tiongkok, dan Belanda datang, berbagai sisi kebudayaan etnis Gorontalo terpengaruh, termasuk budaya kulinernya.

“Pengaruh Islam dalam kuliner Gorontalo sangat kuat. Yang menarik, kuliner menjadi identitas pembeda antara Gorontalo dan etnis lain yang menjadi tetangganya, misalnya Minahasa. Karena kepercayaan yang berbeda, bahan pangan yang digunakan jadi berbeda. Jika etnis Minahasa mengonsumsi daging babi, etnis Gorontalo mengonsumsi daging sapi. ”

Zahra menambahkan, masyarakat belum memeluk agama apa pun, sebelum Islam masuk ke tanah ini. Penduduknya masih memeluk kepercayaan. Hingga kemudian bangsa Arab datang dan menyebarkan agama Islam. Saat itulah kuliner Gorontalo juga banyak terpengaruh.

Pada dasarnya, kuliner Gorontalo terbilang minim bumbu. Ketika memasak ikan bakar, misalnya, ada yang tidak memberi bumbu sama sekali, ada juga yang hanya memberi bumbu minimalis, seperti perasan jeruk nipis dan garam.

“Sementara itu, makanan Arab menggunakan banyak sekali rempah aromatik, seperti kayu manis, jinten, dan ketumbar."

2. Simbol perdamaian dua kerajaan

Ilabulo. (Foto: Instagram/@dokter_pew)

Terkait sejarah yang berhubungan dengan keberadaan kerajaan, Gorontalo masih memiliki makanan yang menjadi makanan tertua di daerah tersebut, yaitu Ilabulo. Makanan ini menjadi simbol perdamaian di antara raja-raja yang sedang bertikai.

Zahra bercerita, zaman dulu terjadi perang antara Kerajaan Limutu dan Kerajaan Holunthalangi. Ceritanya, mereka kemudian bersepakat untuk berdamai dan mengakhiri pertikaian dengan cara menyatukan cincin keduanya, kemudian cincin itu dibuang di Danau Limboto. Karena itu, tugas orang yang berdarah Gorontalo adalah menjaga agar danau tersebut tidak kering. Sebab, ketika kering, cincin jadi terlihat dan perang bisa kembali tersulut.

Baca Juga:

Berbeda dengan Pasta, Inilah Egg Noodles

Ilabulo dibuat dari sagu dan kulit ayam yang dicampurkan, dibungkus daun pisang, lalu dikukus atau dibakar. Makanan sederhana tersebut sampai sekarang masih mudah ditemukan di berbagai acara maupun sebagai jajanan sehari-hari. Seiring perkembangan zaman, oleh warga Gorontalo makanan ini disimbolkan sebagai syukuran setelah khitanan.

“Setelah dikhitan anak biasanya kehabisan energi karena menangis. Untuk mengembalikan energinya, ia diberi makanan yang enak, sehat, dan mudah disantap," kata Zahra.

3. Ada makanan yang nyaris langka

Alopa, olahan singkong parut yang dicampur kelapa cukur, lalu dikukus dan dimakan dengan ikan bakar dan dabu-dabu. (Foto: Zahra Khan/@bakulgoronto)

Zahra bercerita sebelum bisa mengakses beras, warga Gorontalo mengonsumsi singkong yang diparut atau sagu yang santap dengan kelapa cukur. “Ibu saya menyebutnya Alopa. Singkong atau sagu diberi bumbu bawang putih dan jahe, lalu dikukus. Makanan ini disantap bersama ikan bakar dan dabu-dabu. Tapi, makanan ini sudah tidak ada lagi.”

Ada lagi makanan yang nyaris langka, yaitu Bode’o. Semacam sambal, serundeng, atau abon, tapi berbeda. Bode’o terbuat dari kelapa cukur yang disangrai, lalu ditumbuk halus, serta diberi bumbu, seperti jinten, ketumbar, jahe, kunyit, lengkuas, dan sereh. Biasanya makanan ini dibawakan untuk anak dari desa yang merantau untuk sekolah di kota. Bode’o umumnya disantap bersama nasi atau singkong.

Zahra menyebutkan, makanan yang sudah benar-benar hilang adalah nasi jagung, yang 100 persen terbuat dari jagung putih dan jagung kuning varietas lokal. Makanan ini disebut Alimbuluto. Nasinya berwarna kuning dengan tekstur lembek. Dua jenis jagung yang sudah dipecahkan dimasak dengan santan. Nasi jagung ini dulu disantap sebagai makanan pokok, karena beras terbilang mahal.

"Generasi sekarang mungkin sudah tidak pernah dengar Alimbuluto. Makanan ini hilang karena pola makan berganti dengan makan nasi beras," kata Zahra. (ikh)

Baca Juga:

Makan Jeroan Terlalu Sering Bisa Mengancam Kesehatan

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Koridor Bus Trans Metro Bandung akan Bertambah
Travel
Koridor Bus Trans Metro Bandung akan Bertambah

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pelayanan transportasi publik di Kota Bandung.

Keberadaan Desa Trunyan Bali di Era Modern
Travel
Keberadaan Desa Trunyan Bali di Era Modern

Jumlah jenazah yang ditaruh di bawah pohon Taru Menyan tidak boleh lebih dari sebelas orang.

Kontroversi Hari Jadi Kota Bandung
Travel
Kontroversi Hari Jadi Kota Bandung

Deandles menandatangani surat keputusan untuk mengadakan sarana dan prasarana di Kota Bandung.

Sambut Idul Adha, Simak Tips Mengolah Daging Kurban Biar Naik Kelas
Fun
Sambut Idul Adha, Simak Tips Mengolah Daging Kurban Biar Naik Kelas

Daging kurban bisa diolah lewat berbagai resep.

12 ribu Umat Buddha Pecahkan Rekor Muri Puja Asap dan Ulambana
Tradisi
12 ribu Umat Buddha Pecahkan Rekor Muri Puja Asap dan Ulambana

12 ribu umat Buddha menghadiri ritual upacara Puja Asap dan Ulambana

Pembinaan Tepat akan Dongkrak Sektor Pariwisata
Travel
Pembinaan Tepat akan Dongkrak Sektor Pariwisata

Usaha untuk memulihkan sektor wisata yang terdampak pandemi.

Berkunjung ke Kampung Adat Ciptagelar Sukabumi
Travel
Berkunjung ke Kampung Adat Ciptagelar Sukabumi

Berbagai kegiatan dilakukan sesuai kebiasaan nenek moyang seperti cara bertani hingga gaya berpakaian.

Rekomendasi Gunung untuk Rayakan Agustusan
Travel
Rekomendasi Gunung untuk Rayakan Agustusan

Tidak semua gunung berstatus aman dan sudah dibuka untuk pendakian.

Weton, Prediksi Menggunakan Perhitungan Kearifan Lokal
Tradisi
Weton, Prediksi Menggunakan Perhitungan Kearifan Lokal

weton Jawa merupakan sebuah prediksi peristiwa yang akan terjadi pada hari tertentu.

Keraton Surakarta Kirab Sembilan Pusaka Keramat, Gibran Ikuti Prosesi Jalan Kaki Nyeker
Tradisi
Keraton Surakarta Kirab Sembilan Pusaka Keramat, Gibran Ikuti Prosesi Jalan Kaki Nyeker

Kirab dimulai pukul 00.00 WIB, dengan berjalanya empat kerbau bele keturunan Kyai Slamet.