Menggali Kisah Runtah Si Mata Malaikat Serenta Kaki-Tangannya Mata Malaikat diserang murid perguruan Elang Putih. (Foto: Si Buta Dari Gua Hantu, Ganes TH)

LELAKI paruh baya berpakaian lusuh berdiri bertumpu pada sebuah tongkat kayu di antara mayat-mayat bergelimpangan. "Beritahu gurumu," kata lelaki buta mengenakan ikat kepala tersebut kepada seorang sengaja disisakan masih bernyawa pada Si Buta Dari Gua Hantu gubahan Ganes TH. "Aku Si Mata Malaikat akan menanti di bawah lembah Jagat Pangeran di sebelah barat desa". Seorang selamat meski penuh luka lari tunggang-langgang pulang menuju perguruan Elang Putih.

Baca juga:

Siapa Si Buta Dari Gua Hantu?

Di depan pintu perguruan Elang Putih, Walang Sangsa, setengah tersengal menceritakan penyebab kematian saudara seperguruan beserta Gandra Lelayang dan anak gadisnya, Marni Dewianti.

Mereka tehenyak, terlebih Barda Mandrawata lantaran selain rekan seperguruannya mati juga calon istri setempo berselang akan dinikahi, Marni.

si buta
Caption

Murid tertua Elang Putih, Hambali, berusaha membalas namun rubuh bermandi darah. Bahkan, sang mahaguru Paksi Sakti Indrawatara tak bisa menandingi sehingga meregang nyawa di tangan Mata Malaikat.

Si Mata Malaikat akhirnya menguasai desa, mengubah perguruan Elang Putih jadi padepokan Mata Malaikat, selepas Barda ikuti nasihat sang ayah memecahkan jurus membedakan suara sebelum menuntut balas dendam.

Baca juga:

Rahasia Senjata Si Buta Dari Gua Hantu

Mata Malaikat bernama lahir Runtah, berarti sampah dalam bahasa Sunda. Lelaki kelahiran 1825, seturut cerita pada Si Buta Dari Gua Hantu Volume I, Mata Malaikat, tersebut telah buta sejak menghirup udara dunia kali pertama. Ayahnya, Kasrip, seorang pembunuh. "Ini semua gara-gara kamu! Kita Jadi kena kutuk. Kamu habis bunuh orang lagi!" kata Rabin memarahi suaminya sebagai sumber malapetaka sehingga putranya menjadi buta.

Sejak kecil Runtah selalu beroleh rundungan sampai tak terhitung berapa kali kena 'tangan' teman sebayanya. "Woi picek! Melek dulu sana! Baru boleh ikutan," umpat teman-temannya disambung tawa melecehkan.

si buta
Caption

Melihat anaknya jadi bulan-bulanan karena buta, Kasrip turun tangan mengajarinya ilmu silat agar tidak jadi lemah. "Ayo bangun! Kalau kamu lemah. Kamu benar-benar cuma bawa sial! Sampah!" teriak ayahnya. Runtah di kemudian hari berubah jadi Mata Malikat, pengelana pencabut nyawa menggunakan tongkat kayu berujung mata tobak bergantung tiga tengkorak.

"Sebenarnya Mata Malaikat bukan jahat. Tidak terlihat baik-jahat di cerita Si Buta. Mata Malaikat ingin mengirim orang baik ke surga sebab tak pantas tinggal di dunia busuk," kata Goklas Teguh Sujiwo atau akrab disapa Oyasujiwo, Senior Editor Bumilangit Comic, kepada Merahputih.com.

Mata Malaikat, lanjut Oyasujiwo, membunuh Gandra Lelayang, Marni Dewianti, Hambali, dan Paksi Sakti Indrawatara lantaran tak sudi menjumpa orang baik di dunia penuh hinaan bagi orang cacat seperti dirinya.

si buta
Caption

Meski begitu, aksinya membunuh 'orang baik' justru membuat orang ditinggalkan mendendam, khususnya Barda Mandrawata. "Tujuan lainnya, Mata Malaikat sengaja membuat dendam karena ingin membuat Barda sepertinya," kata Oyasujiwo. Barda beroleh ilmu di gua berpenunggu ular raksasa dari petapa atau Patua, sama seperti Mata Malaikat.

"Mereka satu guru," lanjut komikus peraih Best Character Kosasih Award pada tahun 2007.

Runtah alias Mata Malaikat punya pengikut setelah mendirikan padepokan di desa Eretan, Banten. Selain muridnya, paling tidak ada beberapa pendekar lain berkubu kepadanya melawan Si Buta Dari Gua Hantu, seperti Tri Tunggal Cemeti Alam dan Maung Lugai atau Sapujagat.

Tri Tunggal Cemeti Alam merupakan sebutan tiga pendekar kembar bersenjatakan cemeti dengan bola kecil di ujungnya. Mereka dekat dengan Lugai. Maung Lugai atau Sapujagat, di dalam Volume 3 Sapujagat, tampil sebagai teman kecil Barda dan Marni. Lugai berbalik arah menjadi seteru setelah ada hasrat merebut Marni juga menumpahkan segala kesalahan pada Barda, selain keburu ketahuan usahanya mendaku pembunuh Runtah Si Mata Malaikat. (Far)

Baca juga:

Mengajak Barda 'Si Buta' Mandrawata Bicara Empat Mata

Penulis : Febrian Adi Febrian Adi
Kanal
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Jumenengan KGPAA Mangkunegoro X akan Berlangsung pada Sabtu (12/3)
Tradisi
Jumenengan KGPAA Mangkunegoro X akan Berlangsung pada Sabtu (12/3)

Upacara adat itu akan menampilkan tarian sakral Bedhaya Anglir Mendhung.

Final Piala Presiden Siap Dorong Perkembangan Wisata Bali
Travel
Final Piala Presiden Siap Dorong Perkembangan Wisata Bali

Grand Final Piala Presiden 2021 dihelat 17-19 Desember.

Galang Rambu Anarki dan Panggilan Terompet Tahun Baru
Tradisi
Galang Rambu Anarki dan Panggilan Terompet Tahun Baru

Lagu 'Galang Rambu Anarki' menyuarakan suara hati ayah muda yang sukses menangkap kegalauan mayoritas rakyat republik ini.

Bom Surabaya, Tragedi Mengoyak Toleransi
Fun
Bom Surabaya, Tragedi Mengoyak Toleransi

Lokasi peledakan yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan.

9 Stupa Candi Borobudur Dihempas oleh Bom
Travel
9 Stupa Candi Borobudur Dihempas oleh Bom

Dianggap memiliki keterkaitan dengan peristiwa Tanjung Priok.

Film NUSSA Resmi Rilis Original Soundtrack
Kuliner
Film NUSSA Resmi Rilis Original Soundtrack

NUSSA merupakan debut film animasi panjang pertama Visinema dan The Little Giantz.

Desa Pujon Kidul hingga Penglipuran, Rekomendasi Wisata di 2022
Travel
Desa Pujon Kidul hingga Penglipuran, Rekomendasi Wisata di 2022

Desa wisata selalu punya daya tarik untuk liburan.

Di Belakang Layar Film Dokumenter Eksperimental Kantata Takwa
Indonesiaku
Di Belakang Layar Film Dokumenter Eksperimental Kantata Takwa

Gitaris Kantata Takwa sekaligus pengusaha ternama tanah air tersebut meminta Erros mendokumentasikan konser Kantata di Gelora Bung Karno

Flores Keindahannya Juga Melingkupi Tradisinya
Tradisi
Flores Keindahannya Juga Melingkupi Tradisinya

Flores memiliki tradisi yang mengakar di masyarakat.

Betawi Punya Kuliner Lezat dan Cocok di Lidah, Kudu Coba!
Kuliner
Betawi Punya Kuliner Lezat dan Cocok di Lidah, Kudu Coba!

Kuliner Betawi memiliki sejarahnya tersendiri.