Kisah Mikael Jasin, Dari Tukang Cuci Piring Hingga Panggung Barista Dunia Mikael Jasin, Barista kelas dunia asal Indonesia (Foto: Mp/Rizki Fitrianto)

KOPI selalu menjadi candu yang dirindu, aromanya yang memikat membuat penikmatnya bersemangat. Lantas membuat banyak orang yang begitu tertarik dengan kopi, bahkan mendedikasikan dirinya untuk terjun langsung ke dunia perkopian.

Salah satunya Mikael Jasin, Barista kelas dunia asal Indonesia. Pria berpenampilan maskulin yang memilih untuk fokus di dunia kopi.

Baca Juga:

Tak Cuma Bikin Kopi, Seorang Barista Juga Harus Punya 4 Skill Ini

Mikael Jasin
Mikael Jasin salah satu barista beprestasi asal Indonesia (Foto: side.id/andhika hutama putra)

Seperti yang diketahui, Mikael Jasin merupakan barista peringkat keempat tingkat dunia di kompetisi taraf internasional, World Barista Championship. Selain itu Mikael Jasin merupakan juara 1 Indonesia Barista Championship di Tahun 2019 dan 2020, serta juara 2 di kompetisi Coffee and Good Spirits di Australia.

Semua berawal dari 'dapur' kafe di Autralia. Kala itu Miki, demikian akrabnya, mengambil pekerjaan paruh waktu disela-sela kuliah S1 jurusan Psikolog. Saat itu usia Miki masih 22 tahun.

Alasan Miki bekerja di kafe, yakni untuk menambah biaya kuliah dan biaya hidup di Australia. Namun tujuan utamanya yakni ingin mendapatkan ilmu lebih banyak tentang kopi.

"Awal kerja dulu di kafe gitu, kebetulan di Australia semuanya harus dimulai dari bawah, dish washer dulu. Baru lama-lama diajarin bikin kopi dan naik pangkat jadi barista," tutur Mikael Jasin saat ditemui merahputih.com.

Usai lulus dari pendidikan S1 Psikologinya di Australia, Mikael Jasin melanjutkan pendidikan S2 Marketing di Australia. Meski begitu, Jasin tak lantas memilih bekerja kantoran, dia tetap bekerja di dunia kopi.

Baca Juga:

Mikael Jasin Raih Gelar Juara Indonesia Barista Championship 2020

Karir Mikael Jasin
Keluarga sempat khawatir tentang karir Mikael Jasin yang memilih dunia kopi (Foto: Side.id/Andhika Hutama Putra)

Ketika Miki terus konsen bekerja di dunia kopi, dirinya tak menampik jika pihak keluarga sempat khawatir dengan pilihan karier Micky, khususnya dari segi pendapatan.

"Keluarga lama-lama ngedukung, awalnya bukan enggak didukung sih tapi ditanyain, yakin enggak? Bisa bikin hidup enggak? Kerjanya lama enggak? Sustainable enggak? Tapi setelah lama-lama mereka lihat saya kerja, akhirnya mendukung juga," ungkap Miki dengan antusias.

Saat ini dia memiliki usaha training center dan pengolahan biji kopi. Setelah sebelumnya sempat bekerja di Common Grounds.

Namun, setelah berkecimpung kurang lebih 8 tahun di dunia perkopian. Miki mengaku tak ingin membuka coffee shop sendiri. Hal itu lantaran dirinya lebih menyukai memperdalam ilmu tentang mengolah biji kopi.

"Saya pribadi tak ingin punya coffee shop karena bukan mimpi saya. Saya sukanya di kebun kopi ngulik-ngulik proses, ngajarin orang bikin kopi, kalau punya kafe kan operasional day to day gitu. Semuanya menjanjikan sih, tapi panggilan saya di coffee farm aja," jelas Miki.

Impian terbesarnya, mencari cara agar Indonesia tak hanya memproduksi kopi yang banyak, namun memiliki kualitas yang semakin baik setiap tahunnya. Tentunya agar harga kopi Indonesia semakin naik, dan para petani kopi di Indonesia lebih sejahtera. (ryn)

Baca Juga:

Harison Chandra Berbagi Teknik Brewing Terkini di Acara Kisah Kopi Volume 2

Kredit : raden_yusuf


Raden Yusuf Nayamenggala

LAINNYA DARI MERAH PUTIH