Kenali Filosofi Kue Tradisional Ikonik Seserahan Hajatan Pernikahan Kue yang disajikan memiliki makna tersendiri. (Foto: Pixabay/luckyhand2010)

TANPA roti buaya pernikahan adat Betawi terasa kurang genap. Sepasang roti berbentuk buaya dengan ukuran besar melambangkan pengantin lelaki dan ukuran kecil melambangkan pengantin perempuan acap jadi seserahan wajib pada pernikahan adat Betawi.

"Ukuran roti buaya berupa buaya besar dan kecil menggambarkan lelaki dan perempuan, sesuai dengan karakternya di alam karena buaya termasuk binatang dengan ciri dismorfisme seksual, sebab ukuran buaya jantan lebih besar daripada buaya betina," tulis Vera Budi Lestari Sihombing dkk pada "Integrasi Pengetahuan Lokal dan Ilmu Pengetahuan; Penelaahan Roti Buaya dalam Perspektif Zoologi," jurnal Patrawidya, Vol. 20, No.2, Agustus 2019.

Bentuk buaya dipilih, pada Kuliner Betawi: Selaksa Rasa & Cerita karya Akademi Kuliner Indonesia, karena dianggap sebagai simbol janji setia mempelai lelaki pada mempelai perempuan lantaran masyarakat Betawi percaya buaya hanya nikah sekali seumur hidup sehingga dianggap hewan paling setia.

Di masa lalu, ketika harga gandum sebagai bahan baku tepung masih tinggi maka masyarakat Betawi membuat roti buaya dengan singkong. Roti buaya sengaja dibuat bantat karena memang bukan untuk konsumsi, malahan jika dimakan akan beroleh bala bagi kedua mempelai.

Meski terkesan sederhana, justru filosofi roti buaya dalam pernikahan adat Betawi begitu penting. Bahkan filosofi tersebut menggugurkan anggapan istilah 'lelaki buaya darat' merujuk pada seseorang nan gemar berganti pasangan. Selain roti buaya, di dalam penyelenggaraan pernikahan adat di pelbagai suku antero Nusantara terdapat kue tradisional lain nan memiliki makna filosofi mendalam bagi kedua mempelai. Apa saja?

Baca juga:

Panduan Buat Kamu Ketika Masih Bingung Datang ke Hajatan Mantan

Kue Tradisional dan Filosofinya di Setiap Hajatan
Kue klepon memiliki makna kesederhanaan. (Foto: [email protected] naufal)

Di Indonesia terdapat berbagai pernikahan adat dari berbagai tradisi menghadirkan pula kue tradisonal ikonik dengan filosofinya masing-masing. Selain roti buaya, terdapat kue tradisional lain nan wajib ada pada upacara pernikahan adat, meliputi wajik, bannang-bannang, hingga baruasa.

Wajik disediakan sebagai hantaran atau hidangan jajanan untuk para tamu undangan di berbagai hajatan, khususnya masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kue terbuat dari campuran beras ketan, gula merah, dan parutan kelapa ini memang menjadi camilan masyarakat Jawa dari masa lalu hingga kini.

Kue ini melambangkan harapan untuk kedua mempelai agar bisa selalu bersama dan "lengket" sampai lanjut usia. Selain itu, pengantin juga diharapkan selalu sabar dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan melewati kerikil kehidupan.

Baca juga:

Kangen Kpopers Menyambangi Hajatan Konser Kpop

Kue Tradisional dan Filosofinya di Setiap Hajatan
Ilustrasi kue bannang-bannang. (Foto: Pixabay/luckyhand2010)

Selanjutnya, tidak kalah populer adalah kue klepon. Klepon nan sempat viral karena diperdebatkan warganet dengan onde-onde tersebut awalnya diperkenalkan pertama kali di Negeri Kincir Angin oleh seorang imigran Indonesia berasal di Pasuruan, Jawa Timur. Klepon diambil dari bahasa Jawa dengan arti indung telur hewan, mengacu pada bentuknya bulat dan kecil. Masyarakat Jawa biasanya menyajikan klepon bersamaan dengan getuk dan cenil.

Dari Jawa, beralih ke kue tradisional khas Sulawesi Selatan, bannang-bannang. Kue berbahan dasar dari tepung beras dan gula merah ini memiliki bentuk seperti benang kusut dan kerap disajikan dalam lamaran atau pernikahan.

Benang kusut nan tidak tahu pangkal dan ujungnya menggambarkan manusia tidak perlu mempermasalahkan asal usulnya, asalkan tiap perbuatan dilakukan dengan niat mulia. Dalam konteks rumah tangga, Bananng-bannang dilambangkan sebagai satu kesatuan saling terkait dan hanya maut memisahkan. Semakin kusut, maka semakin sulit dipisahkan.

Sulawesi Selatan juga punya kue bernama baruasa dengan rasa gurih dan manis. Bahan utamanya tepung beras dan kelapa parut sangrai dicampur gula merah. Kue ini bahkan bisa bertahan sebulan karena tidak memiliki bahan pengawet. Ini juga berhubungan dengan filosofi pernikahan, agar usia rumah tangga pasangan abadi hingga maut memisahkan. (and)

Baca juga:

Kepoin Hajatan Tahunan Jenama Lokal Tanah Air

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
3 Prediksi Film yang akan Menjadi Box Office Pada 2022
ShowBiz
Fakta-fakta Egg Freezing
Fun
Fakta-fakta Egg Freezing

Egg freezing merupakan solusi jitu agar sel telur ...

Microsoft Office 2021 Segera Dirilis
Fun
Microsoft Office 2021 Segera Dirilis

Berbagai fitur baru hadir di Microsoft Office 2021.

Kenali nih, Perbedaan Investasi dan Spekulasi
Hiburan & Gaya Hidup
Kenali nih, Perbedaan Investasi dan Spekulasi

Tetap perlu berhati-hati agar kerugian yang kita alami tidak terlalu besar dan sesuai dengan tujuan keuangan

5 Profesi Ini Bisa Bikin Jalan-Jalan Jadi Ladang Cuan
Fun
5 Profesi Ini Bisa Bikin Jalan-Jalan Jadi Ladang Cuan

Hobi jalan-jalan tak selalu hanya bisa dilakukan sesekali, kamu juga bisa melakukannya.

Menu Buka Puasa dan Sahur yang Baik untuk Penyintas Diabetes
Fun
Menu Buka Puasa dan Sahur yang Baik untuk Penyintas Diabetes

Ada beberapa jenis makanan yang dianjurkan penyintas diabetes untuk berbuka puasa dan sahur.

E-Commerce Dukung Pemulihan Bisnis UMKM
Fun
E-Commerce Dukung Pemulihan Bisnis UMKM

Pandemi kondusif, bisnis UMKM mulai pulih.

Festival Film Indonesia Tetap Berikan yang Terbaik di Masa Pandemi
ShowBiz
Festival Film Indonesia Tetap Berikan yang Terbaik di Masa Pandemi

Demi menjaga muruah perfilman Indonesia tetap kreatif dan bergerak meski banyak keterbatasan.

Facebook Luncurkan Iklan Untuk Tingkatkan Literasi Media dan Perangi Hoaks
Fun
Yuk Flashback, Film Terbaik Sepanjang Masa Jackie Chan
ShowBiz
Yuk Flashback, Film Terbaik Sepanjang Masa Jackie Chan

Jackie Chan memiliki kepopuleran yang hampir sama dengan Bruce Lee.