hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-1
Bongkar Klaim Vitamin C Dapat Menyembuhkan COVID-19 Vitamin C aman dikonsumsi dan mudah didapatkan (Foto: Pixabay/sweetlouise)
hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-2
hiburan-gaya-hidup-mobile-singlepost-banner-7

KARENA dapat meningkatkan daya tahan tubuh, vitamin C disebut-sebut bisa mengobati COVID-19. Salah satu cara agar tidak terkena virus Corona ialah dengan menjaga daya tahan tubuh. Dengan begitu, virus akan terbasmi oleh sistem daya tahan tubuh yang kuat.

Namun, apa benar vitamin C dapat menyembuhkan COVID-19? Melansir Alodokter, vitamin C (asam akrobat) adalah nutrisi pembentuk kolagen, yaitu zat yang dibutuhkan untuk memperbaiki kulit, tulang, dan gigi.

Baca Juga:

Daftar Vitamin untuk Daya Tahan Tubuh yang Lebih Baik

Vitamin C bisa kamu dapatkan secara alami dari berbagai jenis buah dan sayur, seperti seperti jambu biji, jeruk, stroberi, cabai, brokoli, dan kentang. Untuk kandungan vitamin C paling tinggi dimiliki oleh jambu biji, yakni sebesar 206 mg. Sedangkan jeruk mengandung vitamin C sebesar 59-83 mg per buahnya.

Walaupun kamu telah merasa banyak mengonsumsi buah dan sayuran tersebut, tubuh kamu masih bisa kekurangan vitamin C. Hal tersebut biasa terjadi pada orang yang sering mengonsumsi minuman beralkohol, perokok, dan pengguna Narkoba, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA).

Jus jeruk tidak dapat mencegah flu, apalagi COVID-19 (Foto: Pixabay/stevepb)

livescience.com menjelaskan, ketika menderita flu biasa, banyak orang menenggak jus jeruk dan menelan suplemen vitamin C dalam upaya untuk "meningkatkan" sistem kekebalan tubuh mereka. Namun, vitamin C tidak menangkal pilek pada kebanyakan orang, dan sangat sedikit bukti bahwa mereka memberikan kekebalan terhadap COVID-19.

Mengutip tulisan Peter McCaffery di laman theconversation.com, mengonsumsi vitamin C tidak dapat mencegah atau menyembuhkan orang yang telah terinfeksi COVID-19.

Vitamin C untuk mengobati flu biasa adalah ide yang dipopulerkan oleh ahli kimia pemenang Hadiah Nobel, Linus Pauling, dan selanjutnya dipromosikan oleh industri diet suplemen. Sayangnya, sejak klaim Pauling pada tahun 1970-an, hanya sedikit bukti untuk mendukungnya.

Artikel-artikel menyesatkan tentang vitamin C dapat mencegah dan menyembuhkan COVID-19 telah menyebar dengan cepat. Hal ini yang menjadi kemungkinan penyebab kelangkaan pasokan vitamin C di Asia, juga meningkatkan permintaan akan vitamin C dan multivitamin sebanyak 5 kali lipat di Singapura.

Efek kecil dari vitamin C dapat mendorong percobaan klinis baru terhadap COVID-19 (Foto: Pixabay/mohamed_hassan)

Namun tunggu dulu, akan berlebihan jika mengatakan vitamin C benar-benar tidak ada gunanya tehadap COVID-19. Efek-efek kecil dari vitamin C pada virus Corona yang menyebabkan flu biasa telah mendorong percobaan klinis baru yang mencari untuk menyembuhkan infeksi COVID-19, yakni dengan menggunakan dosis vitamin C intravena yang sangat tinggi. Percobaan ini baru saja dimulai dan belum ada hasil yang diposting.

Baca juga:

Mesin Pengering Tangan Bisa Membunuh Virus Corona? Ini Penjelasannya

Sebuah riset dari Shanghai Coronavirus Disease Clinical Treatment Expert Group menemukan mengonsumsi vitamin C bisa melindungi seseorang dari produksi sel daya tahan tubuh yang berlebihan di paru-paru. Tetapi uji klinis tersebut belum terbukti keampuhannya.

Pemberian vitamin C secara intravena akan menghasilkan tingkat vitamin yang jauh lebih tinggi dan lebih cepat dalam darah daripada jumlah yang ditemukan dalam suplemen vitamin C yang dikonsumsi secara oral.

Konsumsi banyak suplemen vitamin C tidak akan menyembuhkan COVID-19 (Foto: Pixabay/ivabalk)

Meskipun pendekatan ini dapat meningkatkan efek perlindungan vitamin C secara ringan, namun ini adalah injeksi hipotetis dan intravena yang disertai dengan risiko sendiri, seperti infeksi, kerusakan pembuluh darah, emboli udara, atau pembekuan darah.

Jadi, walaupun vitamin C memiliki efek terhadap flu biasa dalam skala kecil, konsumsi suplemen vitamin C dalam takaran besar tidak akan mungkin menyembuhkan COVID-19, atau berdampak besar sama sekali.

Bahkan jika vitamin C yang didapat secara intravena berfungsi untuk mempersingkat durasi terjangkiti atau bahkan menyembuhkan COVID-19. Itu kemungkinan hanya akan menjadi celah sebelum terapi yang diarahkan pada virus, seperti vaksinasi atau mengambil alih.

Cara yang paling efektif agar terhindar dari virus ini tetaplah mencuci tangan, tidak menyentuh mata, hidung atau mulut, dan menjaga jarak dengan seseorang yang menunjukkan gejala-gejala COVID-19. (arb)

Baca juga:

Yuk Masak Sendiri Selama 'Self Isolation' dari Virus Corona


hiburan-gaya-hidup-mobile-singlepost-banner-3

Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-4
hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-5