5 Masjid Tertua nan Bersejarah di Banten Situs Pacinan Tinggi, Banten Lama. (Foto: instagram.com/abaysyabil)

WISATA religi Banten banyak diminati oleh pengunjung baik lokal maupun luar daerah. Misalnya kawasan Banten Lama yang merupakan ibu kota Kesultanan Banten, di utara Banten ini peninggalan Islam sangat lekat.

Tidak hanya di Banten Lama, beberapa masjid yang dahulu menjadi pusat penyebaran Islam masih dapat dikunjungi bahkan masih dipergunakan untuk beribadah. Berikut 5 masjid tua bersejarah di Banten yang bisa menjadi pengingat dan bahan pelajaran generasi saat ini.


1. Masjid Cikoneng

Arsitektur Masjid Cikoneng. (Foto:  (Foto: Balai Arkeologi Bandung)
Arsitektur Masjid Cikoneng. (Foto: (Foto: Balai Arkeologi Bandung)

Masjid Cikoneng terletak di Jalan Raya Anyer, Kampung Cikoneng, Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang. Masjid ini memiliki arsitektur perpaduan antara Islam, Eropa dan Lampung. Beberaa di antaranya corak Islam kuat terlihat berupa kaligrafi, Eropa tampak dari bentuk tiang, sedangkan budaya lampung terlihat dari hiasan sleger.

Bentuk atap Masjid Cikoneng bersusun mengerucut dengan jumlah empat atap. Hiasan di bagian puncak sangat unik yang disebut mamolo atau mustaka. Mastaka ini terdapat hiasan berbentuk beberapa naga. Masjid Cikoneng tidak memiliki serambi. Di bagian dalam, terdapat dua mihrab yaitu mihrab untuk imam dan mihrab untuk khatib.

Masjid Cikoneng memiliki nama lain yaitu Masjid Darul Fallah. Masjid ini dibangun oleh masyarakat Lampung yang ada di Anyer. Masyarakat sekitar masjid meyakini bahwa pendirian masjid berhubungan dengan utusan dari Kerajaan Tulang Bawang, Lampung yang menyebarkan Islam di Banten.

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Jaga Diri di Bulan Suci, Ini Tips Puasa Medsos yang Bisa Dilakukan Bertahap


2. Masjid Agung Carita

Masjid Agung Carita.  (Foto: disbudpar.bantenprov.go.id)
Masjid Agung Carita. (Foto: disbudpar.bantenprov.go.id)

Mesjid Carita terletak di Kampung Pagedongan, Desa Sukajadi, Kecamatan Carita. Mesjid Carita terletak kurang lebih 51 kilometer ke arah barat dari Kota Pandeglang. Juga dapat ditempuh dari pesisir utara melewati Pantai Anyer, Serang. Jika dari Ibu Kota Serang berjarak kurang lebih 76 kilometer.

Kedahsyatan letusan Gunung Krakatau memang meluluhlantakan daerah pesisir. Masjid Carita dibangun pasca meletusnya Gunung Krakatau.

Berdasarkan penuturan masyarakat setempat secara turun temurun, Masjid Carita berdiri pada tanggal 27 Haji 1309 H atau 1889 M, atau enam tahun setelah Gunung Krakatau meletus pada 1883. Pembangunan masjid ini selesai pada tanggal 30 Jumadil Awal 1315 H atau 1895 M.


3. Masjid Caringin

Masjid Agung Carita. (Foto: dibudpar.bantenprov.go.id)
Masjid Agung Carita. (Foto: dibudpar.bantenprov.go.id)

Masjid Caringin menjadi peninggalan muslim Banten pada masa pemerintahan kolonial Belanda di bawah Gubernur Jenderal Herman Hillem Daendels. Sebagian pekerja paksa dalam pembangunan Jalan Anyer-Panarukan memberontak dan melarikan diri mengarah ke selatan, hingga ke Caringin dan menetap di sana.

Hingga saat ini, Masjid Caringin masih dipakai untuk beribadah dan menjadi desnitasi wisata sejarah sekaligus wisata religius di Banten. Masjid Caringin terletak tidak jauh dari desnitasi wisata Pantai Carita. Masjid Caringin terletak di pinggiran Jalan Raya Labuan-Carita, Kampung Caringin, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.

Masjid Caringin juga menjadi saksi bisu dahsyatnya letusan Gunung Krakatau. Setelah 10 tahun ditinggalkan, pembangunan kembali masjid juga melibatkan seorang ulama bernama Syekh Asnawi dan penduduk. Secara gotong royong, Masjid Caringin kembali didirikan. Masjid ini kemudian menjadi pusat syiar Islam dan basis perjuangan rakyat Banten melawan penjajahan.

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Tips Tetap Bisa Berolahraga di Bulan Puasa


4. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten. (Foto: disbudpar.bantenprov.go.id)
Masjid Agung Banten. (Foto: disbudpar.bantenprov.go.id)

Masjid Agung Banten yang berdiri sejak tahun 1569 merupakan salah satu peninggalan sejarah Kesultanan Banten, yakni Sultan Maulana Hasanudin yang merupakan putra pertama dari Sunan Gunung Jati.

Arsitektur bangunan Masjid Agung Banten terdiri dari perpaduan beberapa sentuhan budaya, antara lain yaitu Tiongkok, Jawa, Hindu, serta Eropa.

Lalu yang menjadi salah satu ciri khas Masjid Agung Banten sendiri yaitu sebuah menara setinggi 24 meter. Menara ini dapat diakses hingga ke puncak dengan melewati 83 anak tangga serta melewati lorong sempit.


5. Masjid Pacinan Tinggi

Masjid Pacinan Tinggi. (Foto: penghubung.bantenprov.go.id)
Masjid Pacinan Tinggi. (Foto: penghubung.bantenprov.go.id)

Tidak jauh dari Benteng Surosoan, keraton Kesultanan Banten, terdapat peninggalan mesjid tua yaitu Masjid Pacinan Tinggi. Masjid ini tepatnya terletak di Kampung Pacinan, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang.

Nama "Masjid Pacinan" karena dahulu masjid ini dibangun untuk orang-orang China atau etnis Tionghoa muslim. Pada masa kesultanan Banten, banyak orang China berdagang dan bermukim di Banten.

Masjid Pacinan Tinggi menurut sejarah merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Pembangunan masjid ini kemudian dilanjutkan oleh putranya Sultan Hasanuddin. Berbeda dengan Masjid Banten Lama yang hingga kini masih dapat digunakan, Masjid Pacinan Tinggi saat ini hanya meninggalkan sisa-sisa bangunan. (*)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Jelajah Timur Tengah, Berikut 10 Kegiatan Terfavorit yang Bisa Dilakukan di Bahrain

Kredit : zulfikar


Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH