Kesehatan

Waspada Kanker Darah Mengintai Lansia

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 10 Juni 2022
Waspada Kanker Darah Mengintai Lansia

Sayangi lansia, waspadai kanker darah.(foto: pexels-andrea-piacquadio)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) telah memproyeksikan dunia harus bersiap menghadapi masyarakat yang menua. Antara 2015 dan 2050, proporsi populasi dunia di atas 60 tahun akan naik hampir dua kali lipat dari 12 persen menjadi 22 persen. Pada 2030, 1 dari 6 orang di dunia akan berusia 60 tahun atau lebih. Jumlah orang berusia 80 tahun atau lebih diperkirakan tiga kali lipat antara tahun 2020 dan 2050, yakni mencapai 426 juta.

Dengan laju penuaan yang lebih cepat, salah satu tantangan besar yang dihadapi semua negara ialah memastikan kesiapan sistem kesehatan dan sosial. Penuaan merupakan dampak dari kerusakan molekul dan sel tubuh dari waktu ke waktu yang mengakibatkan peningkatan risiko penyakit dan kematian.

BACA JUGA:

Studi: MSG Bisa Bantu Pemenuhan Gizi Lansia

Salah satu penyakit yang menyerang di usia lanjut ialah kanker darah. Di negara yang lebih maju, jumlah total kasus baru kanker darah yang terjadi pada orang berusia 70 tahun atau lebih sebesar 45 persen dari total kasus. Keganasan ini terkait erat dengan usia dan tingkat insiden meningkat secara eksponensial setelah usia 50 tahun.

Dalam tubuh, darah menyumbang sekitar 8 persen dari berat badan normal. Darah berfungsimemasok oksigen, nutrisi, hormon, dan antibodi ke seluruh tubuh. Darah terdiri dari campuran plasma dan sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Serangan kanker pada darah disebabkan disfungsi dalam pertumbuhan sel. Dalam tubuh yang sehat, sel darah putih baru secara teratur dihasilkan untuk menggantikan yang lama dan rusak. Namun, pada pasien kanker darah terjadi produksi atau pertumbuhan sel darah yang berlebihan.

dr Nadia

Dr Nadia Ayu Mulansari, SpPD-KHOM pada acara webinar Sayangi Lansia Kita dengan Deteksi Dini Kanker Darah. (Foto: dok Johnson & Johnson)

Di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar pada 2018, angka kematian didominasi penyakit tidak menular (PTM). Penyakit itu meliputi kanker, stroke, penyakit ginjal, penyakit sendi, diabetes mellitus, penyakit jantung, hipertensi, dan kelebihan berat badan/obesitas. Tren kemunculan penyakit tersebut menunjukkan peningkatan ketimbang laporan sebelumnya pada 2013.

“Penyebab pasti penyakit kanker darah sampai saat ini masih belum diketahui, tetapi bersifat multifaktorial,” kata Dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD-KHOM dalam acara webinar Sayangi Lansia Kita dengan Deteksi Dini Kanker Darah yang digelar Johnson & Johnson, beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan ada tiga golongan kanker darah, yaitu limfoma, leukemia dan mieloma multipel. Nadia mengatakan salah satu mekanisme yang diduga terkait dengan kemunculan kanker ialah penurunan imunitas adaptif yang berhubungan dengan penambahan usia. Hal itulah yang membuat risiko mengalami kanker darah akan meningkat pada usia lanjut. “Ada beberapa gejala yang dianggap sebagai alarm, antara lain demam yang berulang dan penurunan berat badan yang sulit dijelaskan. Diagnosis pasti penyakit kanker darah akan ditegakkan dokter ahli hematologi dan onkologi medis,” jelasnya.

BACA JUGA:

Suplemen Vitamin D dan Minyak Ikan dapat Kurangi Risiko Autoimun pada Lansia

Oleh karena itu, pemahaman mengenai bahaya kanker darah untuk usia lanjut sangat diperlukan, terlebih dengan adanya laju pertumbuhan lansia yang lebih cepat. Sebagai negara dengan populasi terbanyak keempat di dunia, Indonesia juga harus bersiap. Studi The Road to Healthy Ageing: What Has Indonesia Achieved So Far? yang diterbitkan di jurnal Nutrients menyebut kita harus menghadapi kenaikan jumlah penduduk berusia lanjut yang diperkirakan akan sebesar 11 persen pada 2035.

“Kesadaran akan penyakit kanker darah pada umumnya belum setinggi pada penyakit kanker organ padat. Kanker darah yang sering menyerang lansia sering kali tidak menunjukkan gejala atau tanda yang spesifik sehingga berpotensi terjadi keterlambatan diagnosis,” ujar Head of Medical Affairs dari PT Johnson & Johnson Indonesia dr Rospita Dian dalam keterangan pers yang diterima Merahputih.com, Kamis (9/6). Dengan demikian, kata Rospita, deteksi dini sangat penting untuk mendapatkan pengobatan sejak dini serta pemantauan berkala untuk mengoptimalkan keberhasilan terapi.(dwi)

BACA JUGA:

Meski Aktivitas Fisik Terbatas, Lansia Harus Tetap Jaga Asupan Cairan dan Gizi

#Kesehatan
Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Love to read, enjoy writing, and so in to music.

Berita Terkait

Dunia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Perubahan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump meminta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) meninjau bagaimana negara-negara sejawat merekomendasikan vaksin.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
  AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Indonesia
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Pemerintah DKI telah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ihwal Super Flu ini.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Indonesia
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Dikhawatirkan, penyakit ini berdampak pada beban layanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Indonesia
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Indonesia
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Indonesia menjadi salah satu negara yang terpapar jenis virus ini.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Lifestyle
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Siloam Hospitals Kebon Jeruk memiliki dan mengoperasikan tiga sistem robotik, yakni Da Vinci Xi (urologi, ginekologi, bedah digestif, dan bedah umum), Biobot MonaLisa (khusus diagnostik kanker prostat presisi tinggi), dan ROSA (ortopedi total knee replacement).
Dwi Astarini - Jumat, 19 Desember 2025
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Indonesia
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Pemkot segera mulai menyiapkan kebutuhan tenaga medis, mulai dari dokter hingga perawat.
Dwi Astarini - Senin, 24 November 2025
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Indonesia
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya
emerintah memberikan kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan penghapusan tunggakan iuran sehingga mereka bisa kembali aktif menikmati layanan kesehatan.
Dwi Astarini - Rabu, 19 November 2025
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya
Berita Foto
Prodia Hadirkan PCMC sebagai Layanan Multiomics Berbasis Mass Spectrometry
Direktur Utama PT Prodia Widyahusada memotong tumpeng bersama Komisaris Utama PT Prodia Widyahusada, Andi Widjaja saat peresmian PCMC di Jakarta.
Didik Setiawan - Sabtu, 15 November 2025
Prodia Hadirkan PCMC sebagai Layanan Multiomics Berbasis Mass Spectrometry
Indonesia
Senang Ada Temuan Kasus Tb, Wamenkes: Bisa Langsung Diobati
Kemenkes menargetkan hingga akhir tahun ini bisa mengobati 900 ribu orang yang terkena Tb.
Dwi Astarini - Kamis, 13 November 2025
Senang Ada Temuan Kasus Tb, Wamenkes: Bisa Langsung Diobati
Bagikan