Vaksin Bandung Sejak Zaman Hindia Belanda Lab Vaksin COVID-19 (Foto: bumn.go.id))

MerahPutih.com - Penelitian vaksin di Indonesia bukan baru dilakukan kemarin sore. Tapi sudah dimulai sejak zaman Hindia Belanda. Meski tentu yang paling menyedot perhatian saat ini ialah uji klinis vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech, China, oleh Bio Farma dan Fakultas Kedokteran Unpad.

Sehingga menengok sejarah vaksin tak lepas dari sejarah berdirinya BUMN yang berpusat di Jalan Pasteur, Bandung. Mengutip situs resminya, timeline vaksin di Bio Farma dimulai tahun 6 August 1890, ketika negeri ini masih dijajah Belanda.

Saat itu didirikan Parc Vaccinogene berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor 14 tahun 1890 di Rumah Sakit Militer Weltevreden, Batavia, yang saat ini telah berubah fungsi menjadi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD Gatot Soebroto), Jakarta.

Baca Juga:

Gugur Dokter Karena COVID-19

Kelak, Parc Vaccinogene menjadi cikal bakal Bio Farma. Namun sebelumnya perusahaan ini sering sekali berganti nama seiring pergantian kebijakan dan kekuasaan di Hindia Belanda.

Parc Vaccinogene mengalami pergantian nama menjadi Parc Vaccinogene en Instituut Pasteur, antara 1895-1901. Parc Vaccinogene en Instituut Pasteur ganti nama lagi menjadi Landskoepoek Inrichting en Instituut Pasteur (1902-1941).

Baru pada 1923, embrio Bio Farma menempati lokasi di Jalan Pasteur No. 28 Bandung di bawah pimpinan L. Otten.

Antara 1942 – 1945, Jepang masuk ke nusantara. Kedatangan mereka bikin tentara Belanda kalangkabut. Negeri Sakura berhasil mengusir Belanda sampai melakukan banyak perubahan di Hindia Belanda, termasuk mengganti nama Landskoepoek Inrichting en Instituut Pasteur menjadi “Bandung Boeki Kenkyushoo” dan dipimpin Kikuo Kurauchi.

Di masa kemerdekaan, antara 1945-1946, Bandung Boeki Kenkyushoo berganti nama menjadi "Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur" yang dipimpin oleh R.M. Sardjito.

Sardjito sekaligus menjadi orang Indonesia pertama yang memimpin lembaga penelitian tersebut. Pada saat kepemimpinan Sardjito, lokasi perusahaan sempat dipindahkan ke Klaten.

Belanda belum rela Indonesia merdeka. Negeri Orange-Nassau itu melakukan Agresi Militer Belanda 1946 -1949. Bandung kembali diduduki. Perusahaan vaksin kembali berganti nama menjadi Landskoepoek Inrichting en Instituut Pasteur.

Kali ini Belanda tak bertahan lama. Antara 1950-1954, perusahaan kembali berganti nama menjadi “Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur” yang merupakan salah satu jawatan dalam lingkungan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Menteri BUMN Erick Thohir di Bio Farma.
Menteri BUMN Erick Thohir di Bio Farma. (Foto: Antara).

Babak baru terjadi antara 1955-1960 yang merupakan era nasionalisasi kepemilikan perusahaan Belanda di Indonesia. Perusahaan vaksin kemudian berganti nama kembali menjadi "Perusahaan Negara Pasteur" dan lebih dikenal dengan nama PN Pasteur.

PN Pasteur berubah namanya menjadi Perusahaan Negara Bio Farma pada 1961. Selanjutnya, PN Pasteur berubah nama menjadi Perusahaan Umum Bio Farma, tapi lebih dikenal dengan nama Perum Bio Farma, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1978.

Perusahaan Umum Bio Farma mengalami babak baru ketika menjadi perseroan (PT), berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1997. Di sinilah Bio Farma resmi jadi PT milik BUMN dengan kepemilikan saham 100% milik pemerintah.

Fokus Bio Farma dalam penelitian vaksin membuahkan hasil signifikan mulai 1997. Tahun tersebut Bio Farma mendapatkan Pra-Kualifikasi WHO untuk 12 jenis vaksin sehingga bisa memasuki pasar ekspor.

Bio Farma pun semakin pede melangkah menuju perusahaan vaksin kelas dunia yang berdaya saing global. Direktur Operasi PT Bio Farma, M Rahman Roestan, bilang Bio Farma mendapatkan kepercayaan global memproduksi vaksin polio dan campak pada 1997 itu.

Bio Farma kemudian meluncurkan vaksin Pentavalent, yaitu Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B, HiB yang menyokong pencanangan program imunisasi nasional.

“Dan sampai tahun ini tercatat 14 vaksin produksi Indonesia yang sudaha diakui WHO dan sudah didistribusikan ke 150 negara di mana 52 negara di antaranya adalah negara Islam anggota OIC,” kata M Rahman Roestan, seperti dikutip pada acara orasi ilmiah, baru-baru ini.

Potensi vaksin Bio Farma semakin besar karena di negara-negara Organization of the Islamic Conference (OIC) masih sedikit yang memiliki pabrik vaksin. Dari 57 anggota OIC, hanya 7 negara yang memiliki pabrik vaksin, dan dari 7 negara itu hanya satu yang sudah diakui WHO, Indonesia.

Menurut Rahman Roestan, quality management system bidang vaksin Bio Farma telah diakui WHO. “Dengan kompetinsi itulah Indonesia mendapat amanah dari hasil konferensi IOC di Jeddah ditunjuk sebagai excellent untuk memproduksi vaksin dan produk bioteknologi,” katanya.

Kini, di musim pandemi COVID-19, semua mata tertuju pada penelitian vaksin terhadap 1.620 relawan yang dilakukan Bio Farma bersama Unpad di Bandung, Jawa Barat. Semua orang menunggu kabar baik sambil dituntut taat menjalankan protokol kesehatan. (Iman Ha/Jawa Barat)

Baca Juga:

Diplomasi Vaksin COVID-19 Ala Indonesia


Tags Artikel Ini

Alwan Ridha Ramdani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH