Gugur Dokter Karena COVID-19 Ilustrasi layananan dokter. (foto: Antara).

MerahPutih.com - Puluhan perawat dan karyawan Rumah Sakit Carolus, Salemba, Jakarta Pusat, mereka berbaris dan melambaikan tangan ke arah mobil jenazah yang membawa jenazah dr. Gardjito, sebagai penghormatan terakhir berbaris dipiggir jalan Itulah culikan vidio yang viral 11 September Lalu. Kesedihan terus dirasakan, para tenaga kesehatan ini kala melihat koleganya dibungkus peti mati.

Paling tidak, seratusan dokter telah berguguran selama menangani COVID-19 di Indonesia tujuh bulan terakhir. Mereka meninggal bukan hanya karena keganasan penyakit tersebut, Namun minimnya fasilitas pelindung diri saat dokter melayani pasien.

Data yang dihimpun oleh Tim Mitigasi PB IDI (17 September 2020 pukul 14.00 WIB) menyebutkan, tercatat total 117 dokter Indonesia yang meninggal akibat terpapar Covid-19.

Baca Juga:

PBNU: Tunda Pilkada Serentak 2020

Sebagai perbandingan, satu dokter mampu melayani 2.500 pasien. Jika kehilangan 115, maka 300 ribu warga Indonesia akan kehilangan pelayanan dari dokter, begitu juga dengan meninggalnya dokter gigi dan perawat. Apalagi dengan meninggalnya dokter spesialis yang saat ini masih dirasakan kurang di Indonesia .

"Kehilangan dokter tentunya akan dapat berakibat menurunnya kualitas pelayanan bagi Rakyat Indonesia jelas Adib Khumaidi, yang juga Ketua Tim Mitigasi PB IDI / Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia beberapa waktu lalu

Selain itu, kematian pada tenaga kesehatan akibat COVId-19 dibandingkan dengan tingkat kematian tenaga medis di Amerika Serikat dan Inggris hanya di bawah 1%, dengan rincian 0,16% untuk AS dan 0,5% di Inggris.

Jumlah dokter di Indonesia saat ini, terendah kedua di Asia Tenggara yaitu sebesar 0,4 dokter per 1.000 penduduk. Artinya, Indonesia hanya memiliki 4 dokter yang melayani 10.000 penduduknya. Rasio dokter spesialis juga rendah, sebesar 0,13% per 1.000 penduduk.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mendorong pemerintah membentuk Komite Keselamatan Kesehatan. Hal ini sebagai upaya menjaga dan melindungi para tenaga medis dan tenaga kesehatan selama bertugas di tengah wabah, apalagi virus ini juga diprediksi belum selesai hingga 2021.

Komite Keselamatan Kesehatan ini tugasnya untuk mengawasi dan memberikan perlindungan penuh terhadap para tenaga medis dan tenaga kesehatan yang bertugas di tengah wabah.

Dengan begitu, ditegaskan IDI, pemerintah bisa memberi perhatian lebih terkait standarisasi kesehatan di lingkungan kerja para tenaga medis dan tenaga kesehatan. Dari mulai protokol, pembagian jam kerja hingga keadaan tempat kerja para tenaga medis ini.

Baca Juga:
JHL Group Usulkan Tenaga Medis Tangani COVID-19 Dianugerahi Piagam “Pahlawan Kemanusiaan”

Ketua Tim Mitigasi PB IDI menegaskan, angka kematian dokter yang semakin cepat dan tajam ini menunjukkan masyarakat masih abai terhadap protokol kesehatan yang diserukan oleh para tenaga kesehatan dan pemerintah.

Adib menyebutkan dengan jumlah dokter yang berguguran maka menjadi pekerjaan besar untuk tetap bisa memberikan proporsional dalam pelayanan kesehatan, para tenaga kesehatan kini menjadi benteng terakhir dalam penanganan COVID 19.

"Indonesia bahkan belum mencapai puncak pandemi gelombang pertama pandemi ini dikarenakan ketidakdisiplinan protokol kesehatan yang masif. Apabila hal ini terus berlanjut, maka Indonesia akan menjadi episentrum Covid dunia - yang mana akan berdampak semakin buruk pada ekonomi dan kesehatan negara kita."

Sementara itu, Ketua Tim Protokol Tim Mitigasi PB IDI Eka Ginanjar menegaskan, jumlah kematian masyarakat dan tenaga kesehatan di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia.

Padahal, tegas ia, kasus penularan yang tidak terkontrol di masyarakat, akan mengakibatkan kolapsnya sistem kesehatan yang ditandai dengan tingginya tenaga kesehatan yang terpapar COVID dan sulitnya mencari tempat perawatan.

"Akibatnya, korban pasien COVID meningkat dan disertai juga peningkatan angkat kematian pasien NON-COVID. Tugas kami - para tenaga kesehatan- tidak akan ada artinya tanpa peran serta masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan," kataya.

Layanan swab
Tenaga kesehatan sedang layani warga. (Foto: Antara).

Pemerintah sesumbar bahwa sistem kesehatan dalam negeri siap. Terkait dokter, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyebut ada belasan ribu relawan tenaga kesehatan yang siap membantu penanganan COVID-19 jika dibutuhkan.

Terawan merinci, total relawan tenaga kesehatan Nusantara Sehat dan internship yang sudah ditempatkan ada sebanyak 16.286 orang tersebar di rumah sakit COVID-19 dan laboratorium sarana kesehatan untuk melayani terkait COVID-19. Selain itu, ada 3.500 dokter internship yang siap diterjunkan untuk penanganan COVID-19. Ada 800-an tenaga kesehatan, termasuk dokter, yang juga siap ditempatkan.

Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah pusat memberikan perhatian serius pada perkembangan situasi dan akan selalu meningkatkan kapasitas rumah sakit dan fasilitas kesehatan.

"Jadi peningkatan rumah sakit dan fasilitas kesehatan itu juga akan terus menambah fasilitas di hotel termasuk memanfaatkan hotel bintang 2 dan 3 seperti yang dicontohkan di Sulawesi Selatan dan juga mempersiapkan ruang isolasi mandiri di Wisma Atlet," ujarnya Dalam konferensi pers yang disiarkan YouTube BNPB, Kamis (10/9/2020).

Pemeritahpun, menjado ketersediaan obat-obatan baik untuk rumah sakit maupun pasien isolasi mandiri pemerintah sudah memproduksi obat antivirus seperti Tamiflu atau Oseltamivir bahkan bertambah hampir 480 ribu.

"Pemerintah menegaskan tidak ada kapasitas kesehatan yang terbatas. Pemerintah sudah punya dana yang cukup dan pemerintah akan menambah kapasitas bed sesuai dengan kebutuhan dan meyakinkan bahwa seluruh daerah, DKI Jakarta, kapasitas pelayanan kesehatan akan terus dimaksimalkan oleh pemerintah," tegas Airlangga.

Banyaknya tenaga medis yang berguguran, membuat Founder JHL Group Jerry Hermawan Lo prihatin dan merasa terpukul. Menurutnya, tingginya jumlah tenaga medis yang terpapar bahkan sampai meninggal disebabkan kurangnya alat pelindung diri (APD) untuk mereka.

Jerry mengajak para pengusaha berbarengan dirinya membantu memberikan ribuan alat pelindung diri kepada para medis melalui posko Merah Putih Kasih Fondation (MPKF) Peduli.

“Kita harus memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para medis. Terutama bagi mereka yang gugur,” ujar pengusaha Tangerang ini. (Knu)

Baca Juga:

Daerah Minim Lakukan Pelacakan Kontak COVID-19


Tags Artikel Ini

Alwan Ridha Ramdani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH