Usai Ledakan dan Tekanan Publik, PM Lebanon Mundur Keadaan pada Rabu (5/8/2020) di wilayah pelabuhan yang mengalami kerusakan akibat ledakan yang terjadi sehari sebelumnya di Beirut, Lebanon. (REUTERS/Mohamed Azakir/foc/djo/Antara))

MerahPutih.com - Pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Lebanon Hassan Diab bubarkan setelah ia memilih mengundurkan diri pada Senin (10/8). Namun, Presiden Lebanon meminta menjadi pelaksana tugas sampai kabinet baru terbentuk.

PM Diab yang baru menjabat pada awal tahun lalu, mundur di tengah tekanan masyarakat yang menggelar rangkaian aksi protes menuntut otoritas setempat bertanggung jawab atas ledakan yang menghancurkan Kota Beirut.

Ledakan ini, memperburuk krisis ekonomi dan politik yang telah terjadi selama berbulan-bulan di Lebanon. Sebelum PM mengundurkan diri, beberapa menteri sudah mengundurkan diri lebih awal.

Baca Juga:

Abu Vulkanik Gunung Sinabung Berpotensi Meluas hingga ke Malaysia

Dalam pengunduran dirinya, PM Diab menyebut ledakan itu dan aksi kemarahan warga merupakan buah dari korupsi yang telah mendarah daging di Lebanon.

"Hari ini kami mengikuti kehendak masyarakat yang menuntut tanggung jawab otoritas terkait terhadap bencana ini, (mereka) yang memilih untuk bersembunyi selama tujuh tahun, (dan kami akan mengikuti) keinginan mereka yang menuntut perubahan," kata PM Diab seperti dilansir kantor berita Antara.

Warga Lebanon
Seorang pengunjuk rasa yang terluka dievakuasi saat protes menyusul ledakan yang terjadi pada hari Selasa, di Beirut, Libanon, Sabtu (8/8/2020). REUTERS/Hannah McKay/hp/cfo (REUTERS/HANNAH MCKAY/ANTARA)

Saat ini, sebagian besar masyarakat Lebanon telah lama menuntut pemerintahan yang dipimpin PM Diab dibubarkan. Diab telah meminta pemilihan parlemen diselenggarakan lebih cepat.

"Seluruh rezim harus berubah. Tidak ada artinya ada pemerintahan baru (jika rezim tak berubah). Kami menuntut segera ada pemilihan umum,"kata seorang insinyur asal Beirut, Joe Haddad.

Sampai saat ini, ledakan yang disebabkan oleh lebih dari 2.000 ton amonium nitrat di gudang pelabuhan pada 4 Agustus menyebabkan 163 orang tewas dan lebih dari 6.000 warga luka-luka, serta merusak sebagian besar bangunan di Beirut, ibu kota Lebanon.

Baca Juga:

Tak akan Jadi King Maker, Pilpres 2024 The Last Battle Bagi Prabowo


Tags Artikel Ini

Alwan Ridha Ramdani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH