hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-1
TikTok 'Skullbreaker Challange', Tren Viral yang Berujung Fatal! Tantangan Berbahaya di Aplikasi TikTok, Skullbreaker Challenge (Foto: Search Engine Journal)
hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-2
hiburan-gaya-hidup-mobile-singlepost-banner-7

BAGI kamu yang suka ikut-ikutan tren di dunia maya, coba dipertimbangkan lagi mulai sekarang. Pikirkan juga keselamatan diri sendiri, berbahaya atau tidak. Jangan asal ikut-ikutan karena lagi tren dan viral saja.

Baca juga:

Lima 'Challenge' kekinian yang Berbahaya dan Berisiko Kematian

Belakangan dunia maya dihebohkan dengan adanya Skullbreaker Challenge yang viral di media sosial. Tantangan ini juga sudah mencelakai seorang pelajar di Florida, Amerika. Videonya menjadi sorotan dan memancing komentar dari banyak orang. Tren TikTok terbaru, Skullbreaker Challenge melibatkan tiga peserta dengan posisi berdiri dalam barisan. Orang yang berada ditengah melompat antara dua temannya.

TikTok 'Skullbreaker Challange', Tren Viral yang Berujung Fatal!
Ilustrasi korban cidera serius (Foto: Pixabay/MRI)

Hal yang paling membahayakan adalah posisi jatuh peserta di tengah dan bagi keselamatan kepala. Milenial di Cianjur ikut menanggapi adanya challenge yang berbahaya ini. Tantangan ini berasal dari kata Spanyol rompcráneos atau skullbreaker dalam bahasa Inggris. Kebanyakan tren media sosial, tak ada yang mengetahui siapa yang membuatnya. Bagaimanapun juga salah satu video yang viral dibuat di sekolah yang berada di Venezuela. Lalu, tren itu berlanjut ke Eropa dan Amerika Serikat. Sementara, India tak ikut mengambil risiko tersebut.

Baca juga:

5 Tarian TikTok yang Viral di Sosial Media, Cocok untuk Seru-Seruan!

Melansir laman Headline, KPAI atau Komisi Perlindungan Anak Indonesia membuka suara dan meminta para orang tua dan guru waspada, karena tantangan itu sangat berbahaya. Jika ada anak yang berpotensi melakukan tantangan itu, maka orang tua atau guru harus segera mencegah. "Ini sangat berbahaya untuk anak. Maka, kepada guru dan orang tua agar waspada. Jika ada anak-anak yang berpotensi melakukan hal yang sama harus dicegah sedini mungkin," ujar Susanto pada 15 Februari 2020.

Kominfo diharapkan bisa mengambil langkah cepat dan menghapus konten-konten bersifat negatif. Tak hanya KPAI, pihak kepolisian juga menghimbau supaya masyarakat khususnya para millenial tak coba-coba memainkan skullbreaker challenge. Hal ini disampaikan Kombes Hendra Rochmawa selaku Kabid Humas Polda Kalteng. "Kami meneruskan imbauan dari Divisi Humas soal skullbreaker challenge yang berbahaya," ujarnya. (Bfm)

Baca juga:

Tren 'Challenge' Jus Seledri, Bagus atau Tidak?


hiburan-gaya-hidup-mobile-singlepost-banner-3

Ananda Dimas Prasetya

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-4
hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-5