Sinarmas MSIG Life Luncurkan My Health Risk Score, Cara Mudah Cek Kesehatan

Andika PratamaAndika Pratama - Kamis, 13 April 2023
Sinarmas MSIG Life Luncurkan My Health Risk Score, Cara Mudah Cek Kesehatan
PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG meluncurkan website My Health Risk Score. Foto: MP/Asropih

MerahPutih.com - PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG meluncurkan website My Health Risk Score. Situs tersebut pertama di Indonesia yang dapat memprediksi risiko kesehatan secara personal dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat dengan mudah dan gratis.

My Health Risk Score menggunakan algoritma yang menghitung risiko statistik seseorang atas berbagai penyakit kritis agar dapat mengambil langkah preventif untuk hidup sehat sejak dini.

Baca Juga

Acquaree Spa Journey Meriahkan Perayaan Sinarmas World Academy ke-15

Presiden Direktur Sinarmas MSIG Life, Wianto Chen mengatakan, pihaknya terus berkomitmen untuk berperan dalam penyedia produk asuransi jiwa dengan terus berinovasi.

"Dan berupaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia agar lebih sehat, sejahtera dan terlindungi dalam mencapai tujuan hidup," kata Wianto di Jakarta Selatan, Kamis (13/4).

Kendati demikian, Wianto menyayangkan masih rendahkan ketahanan sosial masyarakat Indonesia dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Baca Juga

Bambang Susantono dan Petinggi Sinarmas Land Jadi Pimpinan Kepala Otorita IKN

Menurut dia, ketahanan sosial warga Indonesia bergantung pada saudara dan juga jaminan BPJS.

"Bagaimana kita buat industri ini maju dan kita juga jadi maju. Buat pemberitaan positif untuk asuransi, supaya orang nggak takut bayar asuransi. Asuransi membayarkan Rp 200 triliun tahun lalu," papar dia.

Dalam catatan Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG hanya mengalokasikan 1,5 persen dari total GDP untuk asuransi. Angka ini kalah cukup jauh dari Malaysia yang alokasinya tembus sekitar 3-4 persen. Sedangkan Jepang hampir 6 persen bahkan Singapura 8 persen yang notabenenya negara kecil.

"Artinya Malaysia punya penetrasi dari segi GDP. Malaysia 3 kalinya (Indonesia), Thailand 2 kali lebih. Dan Singapur 6 kalinya," ujarnya.

Adapun angka diagnosis penyakit kritis di Indonesia tergolong tinggi. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2019 menunjukkan penyakit stroke dan jantung iskemik menjadi penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

"Pola makan dan pola gerak yang kurang baik, diikuti dengan penerapan sedentary lifestyle serta kurangnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi penyebab utama," tutupnya. (Asp).

Baca Juga

Jadi Wakil Otorita IKN, Dhony Rahajoe Mundur Dari Seluruh Jabatan di Sinarmas

#PT Sinarmas
Bagikan
Ditulis Oleh

Asropih

Bagikan