10 November
Siapa Usmar Ismail, Pahlawan Nasional Berlatar Perfilman? Film 'Darah dan Doa' garapan Usmar Ismail. (Wikipedia)

SUTRADARA sekaligus tokoh perfilman Misbach Yusa Biran terang-terangan menyatakan sejarah perfilman di Indonesia sebelum Usmar Ismail membuat Darah dan Doa pada 1950 hanya sebatas sejarah pembuatan film di Indonesia. "Sejarah perfilman di Indonesia terjadi setelah film pertama Usmar Ismail (Darah dan Doa) dibuat," tulis Yusa Biran pada Perkenalan Selintas Mengenai Perkembangan Film di Indonesia.

Darah dan Doa memang bukan film pertama Usmar Ismail. Maka, Yusa Biran menandai dengan tegas khusus film Darah dan Doa sehingga baru bisa disebut sejarah perfilman dimulai tepat ketika film tersebut dibuat.

Baca juga:

Usaha Usmar Ismail Menangkap Kekikukan Kehidupan Bekas Pejuang Setelah Kemerdekaan

Film awal Usmar Ismail tercatat ada dua; Tjitra (1949) dan Harta Karun (1949). Keduanya dibuat setelah ia keluar penjara Cipinang. Usmar Ismail ditangkap dengan tuduhan kegiatan subversif ketika sedang bertugas meliput perundingan di kapal Renville karena memiliki identitas sebagai anggota TNI.

Ketika Ibukota berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta, Usmar Ismail menjadi bagian dari rombongan para pejuang berikut pengungsi pendukung republik hijrah di 'Kota Pelajar'. Di Yogyakarta, Usmar lantas bergabung menjadi anggota TNI dan menyandang pangkat Mayor bidang intel.

Usmar Ismail
Sosok Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail. (sumber-wikipedia)

Meski jadi tentara, aktivitas Usmar justru lebih banyak di dunia kesenian dengan kawan-kawannya, seperti D Djajakusuma, S Sumanto, Gayus Siagian, dan lainnya nan sempat bekerja di Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso) pada masa Pendudukan Jepang. Usmar dengan kawan-kawannya malah asyik mempelajari film meski secara peralatan dan film sangat amat terbatas.

Namun, kegiatan tersebut terhenti begitu Usmar masuk bui, dan baru bisa kembali mendalami dunia perfilman setelah bekerja pada South Pacific Film Corp (SPFC) selepas bebas. Di SPFC, Usmar membuat dua film nan menurut Yusa Biran ceritanya menyimpang dari model cerita sebelum perang.

Baca juga:

Cerita di Balik Kelahiran Festival Film Indonesia

Dua film Usmar jadi berbeda, lanjut Yusa Biran, tentu tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai seorang sastrawan dalam arus roman dan novel Balai Pustaka. Putra pasangan Ismail Gelar Datuk Manggung dan Siti Fatimah, kelahiran Sumatera Barat, 20 Maret 1921, tersebut semula dikenal luas sebagai sastrawan dan dramawan. Keahlian sastranya mulai beroleh penajaman ketika Usmar melanjutkan pendidikan AMS di Yogyakarta Jurusan Klasik Timur.

Ia kemudian bekerja di kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso). Di sana, Usmar rajin menulis cerpen dan mulai menekuni sandiwara secara serius bersama Sanusi Pane. Ia bahkan aktif di kelompok sandiwara Maya. Di sela kesibukannya berpentas, Usmar mulai mengenal film antara lain setelah perkenalannya dengan aktor Anjar Asmara. Selain itu, secara tidak sengaja, Usmar menemukan lemari berisi banyak buku tentang film sehingga seperti surga baginya. Film lantas menjadi arena baru buat Usmar Ismail.

Usmar Ismail
Usmar Ismail pojok kanan bersama tim. (perpusnas.go.idSinematek Indonesia)

Meski telah melahirkan dua film awal, Usmar menolak dua karya tersebut sebagai hasil kreasinya. "Saya tak dapat mengatakan kedua film itu adalah film saya, karena pada waktu penulisan dan pembuatannya, saya banyak sekali harus menerima petunjuk-petunjuk nan tak selalu saya setujui dari pihak produser," kata Usmar dikutip Majalah Intisari, 17 Agustus 1963.

Tak puas terlalu banyak campur tangan porduser, Usmar bertekad membuat film sendiri dengan melibatkan lebih banyak Bumiputera. Ia lantas keluar dari TNI, lalu bersama para temannya, dan dengan uang pesangon di tangannya digunakan bagi pendirian Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) pada 13 Maret 1950.

Baca juga:

Mengenal Empat Tokoh Disematkan di Penghargaan Baru Festival Film Indonesia 2021

Perfini secara serius berusaha memberikan tontonan terbaik. "Menghasilkan film-film Indonesia nan nasional coraknya, tinggi mutu dan teknik, nilai artistiknya, dan dapat disejajarkan dengan film-film dari mana pun di dunia," tulis Usmar pada Memperingati Sewindu Perfini dikutip dari Sofian Purnama pada tesis berjudul "Usmar Ismail dan Tiga Film Tentang Revolusi Indonesia (1950-1954)".

Tak tanggung-tanggung, Perfini mulai memproduksi film Darah dan Doa (1950), mengisahkan hijrahnya pasukan Siliwangi dari Jawa Barat ke Yogyakarta pada masa Agresi Militer Belanda 1948. Kalangan pengamat film dan senima memuji kualitas film Usmar Ismail, namun ada pula kecaman datang dari pihak militer non pasukan Siliwangi terkait penggambaran adegan pertempuran.

Sukses di film pertama, ia membuat Enam Djam di Jogja (1951) berkisah tentang Serangan Umum 1 Maret 1949. Disambung kemudian, film Dosa Tak Berampun (1951), diambil dari sebuah lakon sandiwara di masa Jepang berjudul Ajahku Pulang. Usai menamatkan film ketiga, Usmar beroleh kesempatan belajar tentang dilm secara formal di University of California, Los Angeles, Amerika Serikat.

Usmar Ismail
Caption

Sepulang dari 'Negeri Paman Sam', ia langsung membuat film Kafedo (1953) namun beroleh tanggapan miring dari banyak kritikus. Ia lantas mengobati rasa kecewa dengan menggarap Krisis (1953), dan membuat ulang dengan judul Lagi-Lagi Krisis (1955). Namun, setelah masa kepulangannya dari Amerika, justru film Lewat Djam Malam (1954) dipuji banyak pihak lantaran sanggup menangkap suasana jaman.

Selama hidupnya, antara 1950-1970, Usmar Ismail telah melahirkan 33 film layar lebar: drama (13 film), komedi atau satire (9 film), aksi (7 film), musical/entertaiment (4 film).

Pada film terakhir bertajuk Ananda belum sepenuhnya selesai dalam proses produksi, Usmar Ismail menghembuskan napas terakhir pada 2 Januari 1971. Ia wafat karena mengalami pendarahan otak. Sepeninggal Usmar, Perfini perlahan-lahan mengalami kemunduran hingga akhirnya berhenti beroperasi pada 1997.

Hari ini, 10 November 2021, Usmar Ismail ditabalkan sebagai Pahlawan Nasional. Ia menjadi satu-satunya orang di perfilman Indonesia beroleh gelar Pahlawan Nasional. (Far)

Baca Juga:

Karcis Bioskop, Benda Bersejarah Pemicu Nostalgia

Penulis : Febrian Adi Febrian Adi
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Berbeda dengan Pasta, Inilah Egg Noodles
Kuliner
Berbeda dengan Pasta, Inilah Egg Noodles

Beberapa berpendapat bahwa jenis tepung yang digunakan menjadi faktor pembeda yang kedua.

Daerah Tujuan Wisata di Lampung Barat yang Wajib Dikunjungi
Travel
Daerah Tujuan Wisata di Lampung Barat yang Wajib Dikunjungi

Kabupaten Lampung Barat merupakan daerah tujuan pariwisata yang potensial.

Tiga Standar Baru dalam Tren Wisata 2022
Travel
Tiga Standar Baru dalam Tren Wisata 2022

Perubahan sedang terjadi dalam dunia wisata.

Apa Saja Perbedaan Gundala Versi Klasik Versus Film Joko Anwar?
Indonesiaku
Rusip, Olahan Ikan Teri Oleh-oleh Khas Bangka yang Merdesa
Kuliner
Rusip, Olahan Ikan Teri Oleh-oleh Khas Bangka yang Merdesa

Rusip dijual di dalam toples dengan harga yang beragam.

KGPAA Mangkunegoro X Bawa 3 Tarian ke Mancanegara
Tradisi
KGPAA Mangkunegoro X Bawa 3 Tarian ke Mancanegara

memboyong tari khas Pura Mangkunegara pentas ke luar negeri.

Reuneuh Mundingeun yang Kian Terlupakan
Tradisi
Reuneuh Mundingeun yang Kian Terlupakan

Tradisi reuneuh mundingeun merupakan tradisi yang berhubungan dengan bumil.

 Pendekatan Teknologi Jadi Kunci Bangkitnya Pariwisata di Tengah Pandemi
Travel
Pendekatan Teknologi Jadi Kunci Bangkitnya Pariwisata di Tengah Pandemi

Adanya pendekatan teknologi terbukti sangat membantu industri pariwisata di Indonesia.

Warga +62 Bicara Damai Ajalah
Tradisi
Warga +62 Bicara Damai Ajalah

Damai Ajalah menjadi semangat paling ikonik Warga +62 di tiap problematika. "Yang waras ngalah"

Weton, Prediksi Menggunakan Perhitungan Kearifan Lokal
Tradisi
Weton, Prediksi Menggunakan Perhitungan Kearifan Lokal

weton Jawa merupakan sebuah prediksi peristiwa yang akan terjadi pada hari tertentu.