Rekayasa Genetik, Solusi atau Masalah untuk Ketahanan Pangan? Tanpa kita sadari, banyak orang yang tidak bisa mendapatkan makanan dengan mudah seperti kita (Foto: Pixabay/silviarita)

KELAPARAN merupakan salah satu masalah terbesar yang tengah dihadapi oleh seluruh negara di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Tidak sedikit orang yang belum bisa memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Akibatnya, hal tersebut memengaruhi kesehatan atau bahkan sampai membahayakan nyawa.

Masalah pangan ini masih jadi kekhawatiran besar dan belum bisa sepenuhnya teratasi, karena banyaknya faktor yang berpengaruh. Entah karena kemiskinan, pembangunan infrastruktur yang tidak merata, sempitnya lahan pertanian dan peternakan akibat pembangunan industri, atau bahkan dampak pemanasan global yang mempengaruhi produktivas pertanian.

Baca juga:

Ketersediaan Pangan Tanggung Jawab Siapa?

Rekayasa Genetik, Solusi atau Masalah Baru untuk Ketahanan Pangan?
Jagung manis yang sering dinikmati banyak orang ternyata hasil dari rekayasa genetik (Foto: Pixabay/Alicja)

Tapi bukan berarti umat manusia menyerah begitu saja. Banyak peneliti yang tengah mencari solusi untuk mengatasi masalah terkait pangan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Salah satu solusi yakni pangan rekayasa genetik (PRG).

Seperti namanya, PRG adalah tumbuhan atau hewan yang genetiknya telah dimodifikasi. Dengan begitu, organisme tersebut memiliki kelebihan tersendiri. Contohnya, seperti tanaman Bt yang pernah dibahas di Universitas Harvard.

Dilansir dari laporan penelitian yang dilakukan Harvard, tanaman Bt memiliki gen bakteri Bacillus thuringiensis. Bakteri itu biasanya digunakan dalam semprotan insektisida. Dengan menggabungkan gen bakteri tersebut ke dalam gen tanaman, dapat secara langsung membunuh hama yang memakan mereka. Dengan begitu petani dapat menghemat biaya produksi, tak perlu lagi membeli pestisida.

Disini lah masalah seputar PRG muncul. Banyak orang yang jadi takut mengonsumsi makanan hasil PRG. Karena menurut mereka bahan makanan PRG membahayakan kesehatan.

Padahal orang-orang tidak perlu takut terhadap PRG. Kita ambil contoh lagi lewat tanaman Bt. Meski memang tanaman Bt berbahaya bagi sistem pencernaan serangga, penelitian Harvard menemukan bahwa bakteri Bt sendiri aman dikonsumsi oleh mamalia (termasuk manusia).

Baca juga:

Urban Farming Cara Efektif Tingkatkan Ketahanan Pangan

Rekayasa Genetik, Solusi atau Masalah Baru untuk Ketahanan Pangan?
Semangka tanpa biji juga merupakan hasil dari rekayasa genetik (Foto: Pixabay/congerdesign)

Jika kamu masih enggak percaya, ini sama halnya seperti coklat. Makanan yang telah lama menjadi delikasi bagi manusia, tapi berbahaya bagi anjing karena mengandung zat Theobromine.

Tentunya sebelum dipasarkan, efek PRG juga telah diawasi dan diuji coba oleh berbagai pihak. Salah satunya World Health Organization (WHO). Di situs resminya, WHO menuliskan bahwa ada enam hal yang mereka uji dari PRG:

1. Tingkat toksisitas (efek langsung terhadap kesehatan)
2. Tingkat alergenisitas
3. Komponen penting (baik nutrisi maupun racun)
4. Stabilitas gen
5. Efek kandungan nutrisi
6. Efek tak terduga yang dibawa gen baru

Pemerintah Indonesia pun telah membuka lalu lintas produk PRG lewat undang-undang No. 21 Tahun 2004. BPOM menuliskan di situs miliknya bahwa PRG melalui tahapan pengkajian atau penilaian keamanan pangan sama seperti bahan pangan lainnya. Yaitu sesuai dengan UU No. 7 tahun 1996 tentang pangan dan PP No. 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu, dan gizi.

Jadi kamu enggak perlu takut mengonsumsi PRG. Berbagai penemuan telah membuktikan bahwa kandungan dan efek PRG tak berbeda jauh dari bahan makanan biasa. Justru ada PRG yang memiliki tingkat nutrisi lebih. Seperti contohnya golden rice, beras yang memiliki kandungan dan beta carotene. (Sep)

Baca juga:

Bukan Nasi, Bahan Pangan ini Bisa Jadi Sumber Karbohidrat



Ananda Dimas Prasetya

LAINNYA DARI MERAH PUTIH