Perjalanan Panjang STM Hingga Doyan Tawuran Massa pelajar yang beraksi di Gedung DPR membakar sepeda motor milik wartawan (MP/Ponco Sulaksono)

SEKOLAH Teknik Menengah (STM) belakangan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Bagaimana tidak, sehari setelah aksi besar-besaran mahasiswa di depan gedung DPR-RI, Selasa (24/9), anak STM yang rata-rata berasal dari sekolah sekitaran Jakarta ikut turun ke jalan.

Para pelajar itu berkumpul atas seruan yang tersebar melalui broadcast grup WhatsApp. Di media sosial Twitter muncul juga tagar #STMmelawan yang merajai trending topic. Mereka mengaku turun ke jalan untuk meneruskan perjuangan mahasiswa untuk menolak RUU KUHP dan UU KPK.

Baca juga:

Terkena Gas Air Mata Kedaluwarsa, Apakah Berbahaya?

Para pelajar yang beraksi di area Gedung DPR melempari polisi dengan petasan dan membakar apa saja yang ada dekat mereka (MP/Kanu)
Para pelajar yang beraksi di area Gedung DPR melempari polisi dengan petasan dan membakar apa saja yang ada dekat mereka (MP/Kanu)

STM memang selalu diidentikan dengan tawuran. Bahkan ketika mendengar STM melakukan aksi demonstrasi banyak yang sudah menebak akan terjadi chaos. Meskipun di sisi lain kehadiran STM sangat dibutuhkan terutama di dunia industri Indonesia.

Usia sekolah kejuruan di tanah air juga tak bisa dibilang muda. Mereka sudah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Di tahun 1743, sekolah kejuruan pertama pertama didirikan. Sekolah itu adalah Academie der Marine atau Akademi Pelayaran. Sayangnya sekolah itu kemudian ditutup tahun 1755.

Di akhir abad ke-18, Belanda mendirikan sekolah kejuruan bernama Ambachts School van Soerabaia (Sekolah Pertukangan Surabaya) yang diperuntukan bagi anak-anak Indo dan Belanda. Tak lama setelah itu dibentuk sekolah serupa di Jakarta.

Baca juga:

Bikin Mata Perih dan Sesak Napas, Ini 5 Tips Atasi Gas Air Mata

Selama masa penjajahan, Belanda telah banyak mendirikan sekolah kejuruan. Tercatat setidaknya hingga tahun 1940 ada 88 sekolah kejuruan dengan total 13.230 siswa. Rata-rata sekolah yang didirikan di bidang pertukangan, teknik dan pertanian.

Di zaman kemerdekaan kehadiran sekolah kejuruan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Hingga akhirnya di tahun 70-an sekolah kejuruan dibuat agar memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Kebetulan pada saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang sangat baik yakni 7 persen per tahun.

Baca juga:

Ilistrasi pelajar SMA (Foto: Antara Foto/Embong Salampessy)
Ilistrasi pelajar SMA (Foto: Antara Foto/Embong Salampessy)

Lantas, kapan anak sekolah kejuruan, dalam hal ini STM identik dengan tawuran?

Tawuran pelajar marak terjadi di era 90-2000an. Kondisi tawuran ini terjadi karena kondisi psikologis anak sekolah pada saat itu. Banyak dari mereka yang bersekolah jauh dari rumah. Merasa terancam (dari anak sekolah lain), mereka lalu membuat barisan siswa (basis).

Basis ini akan selalu bersama, baik berangkat maupun pulang sekolah. Rata-rata basis dibuat karena rumah berdekatan atau memiliki jalur perjalanan ke sekolah yang sama. Di tahun 1993 basis mendapat predikat menakutkan dan disegani musuh-musuhnya. Basis inilah yang sering melakukan tawuran pelajar.

Baca juga:

Dulu Tentara Indonesia Makan Ini di Medan Perang

Cara tawuran selalu berubah-ubah, terkadang menyerang sekolah lawan atau menghadang bus yang ditumpangi basis sekolah lain. Di pertengahan 90an, ledakan penduduk di Jakarta membuat persoalan tawuran semakin rumit. Apalagi saat itu STM menjadi sekolah favorit.

STM yang siswanya rata-rata remaja pria membuat mereka lebih sering tawuran ketimbang SMA. Apakah setiap sekolah secara institusi bermusuhan? Jelas tidak, basis itulah yang membuat tawuran pelajar terjadi. Pertikaian ini juga yang menghidupkan musuh warisan.



Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH