Kuliner
Pangan di Masa Sulit ala Indonesia Indonesia punya sajian khas di masa-masa sulit. (foto: pinterest)

KETAHANAN pangan akan diuji di masa-masa sulit seperti halnya ketika pandemi menyerang. Di masa sulit mendapatkan bahan pokok, orang akan kreatif menciptakan sajian yang tetap nikmat dengan bahan seadanya.

Indonesia pernah melalui masa sulit seperti penjajahan ataupun paceklik. Saat melewati masa itu, orang Indonesia bertahan dengan olahan nasi alternatif. Meskipun terbuat dari bahan pangan alternatif, sajian yang tercipta tak kalah nikmat.

BACA JUGA: Variasi Sandwich untuk Menu saat #DiRumahAja

1. Nasi liwet

nasi liwet
Nasi liwet berawal dari bekal sederhana para petani. (foto: Instagram @lindscakery)

Nasi liwet Sunda punya sejarah unik di balik kemunculannya. Sajian nasi satu ini berawal dari keinginan para petani untuk membawa bekal praktis saat bertani atau berladang. Agar hemat, mereka mencampur nasi dengan lauk pauk sederhana. Mereka lalu ngaliwet (membuat nasi liwet) dengan cara memasak nasi bersama bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, serai, dau salam, cabai, dan santan dalam panci khusus liwet atau yang disebut kastrol.

Setelah masak, nasi tersebut langsung dibawa ke ladang dalam wadah kastrol tertutup rapat. Tujuannya, agar nasi tetap hangat saat dimakan. Selain itu, jika mereka ingin menghangatkan, cukup dengan menaruh kastrol di atas api. Bisa dikatakan, hidangan ini sebenarnya hidangan rakyat yang kemudian naik kelas jadi sajian yang digemari semua kalangan.

Sekarang, nasi liwet Sunda disajikan dengan tambahan petai dan teri Medan yang bikin masakan ini makin gurih dan menggoda. Ditambah sambal dan lalapan, wuih enaknya.

2. Nasi Jagung

nasi jagung khas palu
Nasi jagung di Sulawesi Tengah disantap bersama sayur wempoi. (foto: geotravelly)

Di Jawa, nasi jagung disantap bersama urap dan tambahan lauk lainnya. Beda dengan di Sulawesi Tengah. Di sana, nasi jagung nikmat disantap bersama sayur saun kelor dan sayur wempoi (sayur asem).

Nasi jagung khas suku Kaili dari Sulawesi Tengah ini muncul karena kisah bertahan hidup suku Kaili. Suku tersebut bermata pencaharian utama bercocok tanam di sawah, ladang, dan menanam kelapa. Di samping itu, masyarakat suku Kaili yang tinggal di dataran tinggi juga mengambil hasil bumi di hutan, seperti rotan, damar, dan kemiri. Sebagian lagi ada yang beternak. Masyarakat suku Kaili yang dipesisir pantai, selain bertani dan berkebun, juga hidup sebagai nelayan dan berdagang antarpulau ke Kalimantan.

Sehari-hari, suku Kaili pada umumnya menyantap nasi, karena sebagian besar tanah dataran di lembah Palu, Parigi sampai ke Poso merupakan daerah persawahan. Meskipun demikian, ketika musim paceklik tiba, masyarakat menanam jagung. Agar mencukupi, mereka pun memakan nasi yang dicampur jagung.

Dari sanalah budaya makan nasi jagung lahir. Cara pembuatannya pun mudah. Jangung yang sudah tua ditumbuk kasar lalu dicampur beras. Jenis beras yang digunakan biasanya varian lokal dari Palu. Campuran itu kemudian dimasak menggunakan kukusan yang terbuat dari bambu.

Aroma bambu kukusan membuat nasi jagung ini sedap. Selain itu, nasi ini memiliki citarasa manis. Cocok berpadu dengan sayur daun kelor dan sayur wempoi (sayur asem).

3. Nasi Sela

nasi sela
Nasi sela disajikan bersama sambal matah dan ikan asin. (foto: MP/Dwi Astarini)

Orang Bali mengandalkan sela atau ubi jalar ketika masa sulit tiba. Mereka membuat nasi sela.

Nasi sela merupakan makanan khas Karangasem yang berisi campuran nasi putih dan cacahan ubi berukuran kecil-kecil. Pada 1970-an nasi sela sempet populer dan menjadi makanan pokok masyarakat setempat. Pada saat itu, beras sangat langka di Bali. Jadilah sela atau ubi jalar digunakan sebagai alternatif bahan campuran nasi, gaplek atau bahan makanan lain. Tujuannya, menambah volume makanan.

Nasi sela sangat sederhana. Beras yang dimasak bersama cincangan umbi ubi jalar. Tak hanya menambah volume, ubi jalar juga memberikan cita rasa khas manis dan membuat nasi jadi lebih lembut.

Di masa kini, nasi sela masih digemari. Makanan pokok ini biasanya disajikan bersama ikan asin, sambal matah, dan sayur urap khas Bali.(dwi)

BACA JUGA: 5 Nasi Goreng Khas Indonesia, Pas untuk Menu #DiRumahAja

Penulis : Dwi Astarini Dwi Astarini
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Menparekraf harap Desa Wisata dapat jadi Lokomotif Kebangkitan Parekraf
Travel
Menparekraf harap Desa Wisata dapat jadi Lokomotif Kebangkitan Parekraf

Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 merupakan salah satu cara untuk memulihkan perekonomian Indonesia.

Asyik, dari Malioboro ke Parangtritis Kini Bisa Naik Damri
Travel
Asyik, dari Malioboro ke Parangtritis Kini Bisa Naik Damri

Para wisatawan yang hendak mengunjungi Pantai Parangtritis dari kawasan Malioboro ini dapat naik bus Damri.

Lebih Dari Sekadar Motif, Ulos Menyimpan Nilai Kehidupan
Tradisi
Lebih Dari Sekadar Motif, Ulos Menyimpan Nilai Kehidupan

Dipakai di acara-acara adat tertentu.

Mengenal Tuak, Jamuan Penghangat Khas Suku Batak
Kuliner
Mengenal Tuak, Jamuan Penghangat Khas Suku Batak

Minuman ini biasanya dibuat dari hasil fermentasi nira, beras, maupun buah yang mengandung gula.

Kerokan, Solusi Mujarab 'Masuk Angin' Orang Indonesia Sehabis Pelesiran
Tradisi
Kerokan, Solusi Mujarab 'Masuk Angin' Orang Indonesia Sehabis Pelesiran

Paling nikmati jika dipadukan dengan teh manis hangat.

Rengginang Kini Punya kaleng Sendiri
Kuliner
Rengginang Kini Punya kaleng Sendiri

Jika selama ini rengginang identik dengan makan yang menjamur di saat Lebaran, kini ....

Upacara Yadnya Kasada Digelar dengan Prokes Ketat
Tradisi
Upacara Yadnya Kasada Digelar dengan Prokes Ketat

Yadnya Kasada kali ini diselenggarakan secara tertutup untuk umum.

Tradisi Lebaran Ketupat di Tanah Air
Tradisi
Tradisi Lebaran Ketupat di Tanah Air

Digelar pada 8 Syawal.

Hamper Kedai Kopi Mantap Djiwa Hadirkan Minuman Unik Berwarna Biru
Kuliner