Nostalgia Penyiar Radio: Jungkir Balik Melayani 'Request' Lagu Penyiar radio punya kenangan tersendiri. (ilustrasi: Fikri Pratama/MP)

BAGI saya yang menghabiskan sebagian masa remaja di era 90-an, radio jadi teman setia. Di kala itu, TV belum 'semerajalela' saat ini. Apalagi Youtube dan layanan streaming. Masih jauh banget!

Dari saat membuka mata di subuh, radio sudah menyala kencang memenuhi seisi rumah. Di jam-jam itu, sandiwara radio silat sudah mengudara. Siangan dikit, giliran lagu-lagu berbagai genre diputar. Jangan bayangkan lagu R&B atau EDM macam zaman now. Isinya paling banter lagu Betharia Sonata atau Ebiet G Ade.

BACA JUGA: Nostalgia Banget, Hit Boy Band ini Pernah Merajai Radio di 90-an

Sebelum tidur di malam hari pun, radio masih menemani dengan (apalagi kalau bukan) sandiwara radio lagi! Intinya sih, hidup sehari tuh berawal dengan radio, diakhiri juga dengan radio.

boy
Hari berawal dan berakhir dengan siaran radio. (foto: pixabay/victoria-Borodinova)

Kelekatan saya dengan radio berlanjut hingga awal era milenium. Namun, saya enggak lagi hanya terobsesi mendengar radio. Saya bahkan sampai bercita-cita jadi penyiar radio. Bayangan ketika itu, pasti enak banget kerja setiap hari ditemani lagu-lagu asyik. Sudah gitu, bisa sesuka hati memutarkan lagu kesukaan.

Obsesi itu terwujud di 2003. Saya resmi jadi penyiar junior di salah satu radio anak muda di Bali. Bayangan awal yang indah-indah mendadak buyar. Ambyar. Ternyata jadi penyiar enggak semudah itu, Bambang....

Tiga bulan pertama saya diharuskan berlatih intonasi, artikulasi yang jelas, membuat skrip siaran, hingga yang terpenting melatih wawasan musik. Poin terakhir amat penting soalnya penyiar enggak cuma modal suara dan cuap-cuap. Penyiar mesti dan wajib punya pengetahuan luas, entah itu dalam pengetahuan umum ataupun musik.

Jadilah selama 3 bulan itu, saya harus menghafal timbunan kaset dan CD di library musik stasiun radio itu. Ya, benar! Di kala itu, radio tempat saya bekerja belum memakai alat-alat pemutar digital.

Di ruang siaran, ada 3 tape Tascam dan 2 pemutar cakram padat, mixer besar, dan dua set mikrofon sebagai sarana memutar lagu bagi pendengar.

Beda banget sama radio masa kini yang cukup dilengkapi komputer, mixer kecil, dan mikrofon. Tak ada lagi pemutar cakram padat apalagi tape Tascam. Semua serbadigital kini.

Kembali ke pelatihan saya. Library musik merupakan ruang kecil memanjang, sekira 3 x 4 meter ukurannya. Di dalamnya, ada rak-rak kayu tinggi, menjulang hingga ke langit-langit ruangan. Mungkin lebih dari 2 meter. Semuanya berisikan deretan kaset. Ada bagian album, ada bagian single. Semua disusun berdasarkan abjad nama penyanyi atau musisinya.

music library
Music library yang penuh dengan kaset. (foto: youtube/eliasmusiclibrary)

Tugas saya ketika itu ialah mengompilasi lagu untuk sebuah siaran selama 2 jam. Tentunya sambil menghafal lagu yang dikompilasi, letaknya di rak, siapa penyanyinya, sekaligus judul albumnya. Berat. Sudah pasti. Memeras otak banget.

Pelatihan itu baru sebagian. Di hari lain, saya ditugasi membuat rekaman siaran sendiri. Tujuannya, melatih keluwesan saya memutar lagu dan mengoperasikan mixer secara bersamaan. Bagian ini sudah kayak akrobat tangan dan mulut.

Setelah 3 bulan, saya mulai diizinkan siaran tandem dengan penyiar yang lebih senior. Di ruang siaran yang terletak di lantai dua sebuah gedung di kawasan Sanur itu, saya memulai pengalaman jadi penyiar radio. Banyak pengalaman seru selama masa siaran.

BACA JUGA: Radio Analog Vs Radio Digital Vs Radio Daring, Apa Sih Bedanya?

Setiap kali akan memulai siaran, saya akan membawa keranjang kecil berisikan tumpukan kaset lagu yang akan diputar. Namun, di kali lain, saya harus membawakan acara khusus request lagu. Ini nih yang paling menantang. Suka bikin emosi dan jungkir balik.

Selama 2 jam, saya harus sigap menerima telepon dari pendengar, berbincang basa-basi dengan mereka, lalu mencarikan dan memutar lagu yang diminta.

Enggak mudah menemukan lagu yang diminta. Saya harus berlari dari ruang siaran ke library musik yang berjarak sekitar 2 meter. Dalam waktu kurang dari 2 menit, saya harus bisa menemukan kaset yang berisi lagu yang dimaksud, lalu memutarkannya.

Loh? Apakah tak ada operator siaran yang membantu? Tentu saja ada. Namun, terkadang mereka juga butuh bantuan untuk menemukan lagu yang diminta. Ada kalanya juga si operator tengah ke toilet atau jeda salat. Terpaksa berjuang sendiri mencari lagu-lagu yang diminta.

Itu belum seberapa. Tak jarang, pendengar meminta lagu yang tak mereka tahu judulnya. Nah lo!

"Putarin lagu itu dong," katanya.
"Yang mana?," tanya saya.
"Itu loh, yang lagi ngetop itu. Yang itu tuh, yang gini, 'na..na.na..," jelasnya sambil bersenandung ala kadarnya.

Oke, di saat inilah kesabaran dan pengetahuan musik penyiar diuji. Kayak main tebak-tebak lagu di kuis gitu deh. Ujung-ujungnya, saya malah menawarkan beberapa judul yang menurut si pendengar benar.

Di lain waktu, ada yang tiba-tiba request lagu My Heart Will Go On dari Celine Dion. Lagu tahun 1996 itu memang pernah hit bersama dengan filmnya, Titanic. Yang request ialah penggemar berat penyanyi Kanada tersebut. Biarpun lagunya pernah hit, tetap saja butuh waktu untuk berlari ke ruang kaset untuk mencari lagu itu di antara deretan kaset album dan single milik Dion.

Percayalah, enggak mudah menemukannya. Kalau deretan kasetnya ada di bagian atas, saya harus menggunakan tangga kecil yang tersedia di ruang kaset. Menyeimbangkan tubuh di atasnya sambil mencari-cari sampai kasetnya ketemu.

Ada banyak album milik Dion. Saya harus mengingat-ingat di album mana lagu itu dimasukkan. Atau apakah stasiun radio punya lagu itu dalam bentuk single dalam satu kaset. Ketajaman ingatan amat berperan. Kalau lagi skip, buyar sudah hari saya.

tape tascam
Tak ada perangkat pemutar digital. Hanya tape Tascam. (foto: theregister.uk)

Pengalaman lucu lainnya, ada yang mendadak request lagu dangdut. Oho! Padahal, radio tempat saya bersiaran sama sekali tak memutarkan genre dangdut. Hanya lagu-lagu hit, top 40, rock, R&B, dance, dan jazz. Itu pun 60% lagu Barat, sisanya lagu Indonesia.

"Siang, mau request dong. Wulan Merindu-nya Cici Paramida," kata si penelepon.
"HAH?" jawab saya.
"Iya, buat joget-joget gitu lo," ujarnya tak kalah ngotot.
"Ya ampun, kita nih, enggak mutarin lagu dangdut loh," kata saya sambil menahan tawa yang akan meledak.
"Oh gitu ya. Kalau lagu lain boleh?"
"Boleh. Mau lagu apa?"
"Terserah deh. Pokoknya buat goyang," jawabnya sekenanya.

Nah, bagian 'terserah' itu yang menguji kreativitas penyiar. Katanya terserah, tapi mesti milihin lagu buat goyang. Penyiarnya putar otak kan memilihkan lagu yang pas dan sesuai selera si pendengar. Tentunya dilengkapi dengan perjuangan menemukan kaset atau CD yang tepat di ruang kaset.

Hal-hal 'ajaib' seperti itu tetap saja tak bikin saya kapok. Bagi saya, itu sisi lain dari asyiknya jadi penyiar radio. Saat tak membawakan acara request, saya bisa berbincang dengan music director dan berbagi lagu terbaru yang bahkan belum diputar di radio.

Ya, setiap minggu akan ada puluhan lagu yang dikirim label musik dalam bentuk cakram padat atau kaset. Ada yang merupakan single terbaru, ada juga album penuh sang artis. Dalam seminggu, selalu ada lagu baru, selalu ada artis baru untuk dikenalkan ke pendengar.

radio
Butuh ketajaman dan intuisi untuk jadi penyiar radio. (Foto: Pixabay/StockSnap)

Ini nih untungnya jadi penyiar. Saat yang lain belum pernah dengar materi terbaru Coldplay, saya sudah seminggu penuh mencekoki telinga dengan lagu mereka yang notabene jauh dari istilah 'easy listening'.

Di zaman now, teknologi digital mengubah cara penyiar membawakan siaran request. Lagu-lagu tak lagi diputar dari kaset dan tape Tascam. Ada perangkat lunak yang melakukannya. Lagu-lagu bisa disimpan ke komputer sehingga bisa dengan mudah ditemukan. Cukup dengan mengetikkan judul atau nama penyanyinya. Klik! Semua langsung terpampang di layar dan siap diputarkan.

Semuanya dalam genggaman tangan saja. Tak perlu lari pontang-panting bolak-balik mencari kaset di tumpukan library stasiun radio.

Namun, apa pun itu, dari era 90-an sampai sekarang, request lagu memang jadi nilai lebihnya radio. Biarpun bisa saja beli albumnya sendiri atau dengar streaming, mendengar lagu yang diminta di radio seperti membawa kesenangan tersendiri. Apalagi kalau dibolehkan pakai kirim-kirim salam. Semua kawan, sampai gebetan juga pasti disebut. Ya kan? (Dwi Astarini)

BACA JUGA: Podcast Serupa dengan Radio

Kredit : dwi

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH