Menjuarai Piala Dunia DOTA 2, Berikut Fakta Menarik Tim OG dan The International 2019 Tim OG Juara The International 2019, turnamen DOTA 2 dengan total hadian fantastis (Foto: Twitter @wykrhm)

DOTA merupakan game Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) yang dikembangkan dari mod game Warcraft III. Kemudian game diakuisisi oleh Valve dan menjadi mendunia, dengan nama DOTA 2. Setiap tahunnya DOTA 2 mengadakan turnamen kelas dunia dengan nama The International. Piala dunia untuk DOTA 2 itu pertamakali diadakan pada 2011. Event tersebut pun menjadi revolusi bersejarah di dunia kompetitif esports.

Bagaimana tidak? Dengan total hadiah USD 1.6 juta atau sekitar Rp 22 miliar, The International pun menjadi turnamen esports dengan total hadiah terbesar sepanjang sejarah olahraga digital.

Baca juga:

Bukan Mobile Legends, Inilah 5 Turnamen 'esports' dengan Total Hadiah Fantastis

Sejak saat itu, The International terus berlanjut dan berkembang setiap tahunnya. Total hadiah The International 2019 yang baru saja berakhir Minggu (25/8), bahkan telah mencapai USD 34 juta atau sekitar 483 miliar.

Menjuarai Piala Dunia DOTA 2, Berikut Fakta Menarik Tim OG dan The International 2019
Piala Aegis'yang dipamerkan dan diperebutkan tiap tahun di The International (Foto: twitter @DOTA2)

Berbicara mengenai The International 2019, turnamen ini memiliki fakta-fakta yang menarik untuk diketahui. Para fans DOTA 2 mempercayai adanya sebuah 'kutukan' dalam ajang The International.

Kutukan yang pertama ialah tidak ada orang yang akan memenangkan The International dua kali. Kutukan tersebut akhirnya pecah di 2019. Kelima pemain dari tim OG kembali mendominasi The International tahun ini setelah mereka menang di The International tahun sebelumnya.

Kutukan yang kedua ialah sebuah pola yang menentukan tim akan menang. Dalam tahun ganjil, tim dari bagian barat dunia yang akan menang. Sedangkan tahun genap, tim dari Tiongkok yang akan menang.

Dari The International 2011 hingga 2017, kutukan tersebut benar adanya. The International pertama (2011) dimenangkan oleh tim Natus Vincere dari Ukraina. Tahun 2012, turnamen dimenangkan oleh tim Invictus Gaming asal Tiongkok.

Lalu oleh tim Alliance dari Swedia pada 2013, kemudian tim Newbee asal Tiongkok di 2014. Dilanjutkan tim Evil Geniuses yang berasal dari Amerika Serikat pada 2015. Berlanjut ke tim Wings Gaming dari Tiongkok di tahun 2016. Berikutnya dimenangkan oleh tim Liquid dari Eropa pada 2017.

Kemudian pada tahun 2018, kutukan tersebut akhirnya dipecahkan oleh tim OG dari eropa. Dengan menjadi juara The International 2019, tim OG sekaligus memecahkan kedua kutukan di atas. Tim yang satu ini memang hebat dan memiliki banyak kisah menarik untuk diceritakan.

OG sendiri awalnya didirikan oleh dua atlet esports yang telah lama bersahabat, Johan 'N0tail' Sundstein dan Tal 'Fly' Aizik. Mereka telah bermain dalam berbagai tim yang sama dan menjadi sahabat yang begitu dekat. Suatu ketika saat mereka tak dapat mengembangkan potensi karena selalu berpindah-pindah tim, mereka membuat tim mereka sendiri.

Di tahun 2015-2017, OG merupakan tim yang sangat kuat dan ditakuti banyak kompetitor. Meski perjalanan mereka tak selalu lancar, OG selalu memberikan performa yang menakjubkan. Mereka mampu memenangkan berbagai turnamen besar yang disebut sebagai 'Major' oleh komunitas DOTA 2. Lalu entah mengapa, semua berubah ketika memasuki The International 2017.

Baca juga:

Mengenal Game DOTA 2 dan Turnamen The International

Semenjak OG mendapatkan peringkat ketujuh di The International 2017, performa mereka menurun. Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan tersebut ialah Anathan 'ana' Pham. Pemain kunci di tim OG yang memutuskan untuk cuti dari DOTA 2.

Performa tim OG yang kian menurun menyebabkan adanya perpecahan di antara anggota tim. Termasuk juga pertemanan kedua pendiri OG, N0tail dan Fly. Beberapa minggu sebelum The International 2018 dimulai, kedua pemain dari OG 'Fly' dan Gustav 's4' Magnusson memutuskan pindah ke tim Evil Geniuses.

Menjuarai Piala Dunia DOTA 2, Berikut Fakta Menarik Tim OG dan The International 2019
Tim OG yang jadi juara DOTA2 The International 2019 (Foto: LiquidDota)

'N0tail' terpaksa harus mencari anggota baru untuk dapat bertanding di ajang terbesar DOTA 2 tersebut. Ia beruntung dapat menemukan salah satu pemain publik hebat bernama Topias 'Topson' Miikka Taavitsainen. Kemudian untuk melengkapi tim OG, pelatih OG Sebastien 'Ceb' Debs dan 'ana' kembali bermain DOTA 2. Dengan Jesse 'JerAx' Vainikka yang setia dengan tim OG, mereka siap untuk bertanding di The International 2018.

Banyak tim yang meragukan tim OG. Komunitas DOTA 2 pada saat itu mengatakan bahwa mereka bahkan tidak akan dapat tembus kualifikasi. OG dengan deretan pemain mereka yang terbilang baru dan performa yang kurang baik menjadi alasan kenapa komunitas DOTA 2 dapat mengatakan hal tersebut.

Ternyata, tebakan komunitas DOTA 2 salah besar. Mereka mampu mendominasi tiap lawan mereka dan bahkan menjadi yang terbaik di ajang The International 2018. Mereka bahkan sempat melawan mantan anggota tim mereka, 's4' dan 'Fly'.

Cerita mereka di The International 2018 bagaikan sebuah kisah dongeng. Terlebih lagi dengan prinsip yang tim OG pegang. Kemenangan bisa diraih, bersama dengan teman-teman yang siap berjuang bersama.

"Kita kalah bersama, kita menang bersama, kita bertarung bersama, kita bertarung bersama, kita bertarung bersama," ucap 'Ceb' di pertandingan final The International 2018. Banyak fans DOTA 2 yang masih terkagum ketika mendengar cerita perjuangan mereka.

Namun, banyak juga fans DOTA 2 yang merasa bahwa kemenangan mereka hanya berdasarkan keburuntungan. Menjawab pernyataan tersebut, OG kembali mendominasi ajang The International 2019. Bisa dikatakan mereka kini jadi legenda di dunia DOTA 2.

Kisah mereka ini mungkin akan terus diingat oleh komunitas esports. Jika penasaran dengan kisah mereka, kamu bisa tonton film dokumenter kisah mereka berjudul Against The Odds. (jhn/sep)

Baca juga:

Trove Carafe Immortals 2019 Dirilis, The International Dota 2 makin ‘Greget’



Ananda Dimas Prasetya

LAINNYA DARI MERAH PUTIH