Mengenal Fame Afo, Tarian Penyambut dari Nias Nias sangat kaya akan seni dan budaya. (Foto: instagram.com/niasoke)

FAME Afo adalah ritual tarian yang biasa dilakukan masyarakat Nias untuk menyambut tamu kehormatan. Tarian itu serupa tari sekapur sirih.

Tokoh pemuda Desa Bawomataluo Nias Tuha Fona Sohahau Duman Wau mengatakan tamu akan disambut dan diberi daun sirih.

Baca Juga: Tari Kancet Ledo Menyimpan Keanggunan Perempuan Kalimantan

Sirih tanda penghormatan dan rasa aman

Tari tradisional dari Nias. (Foto: instagram.com/ukm_nias)
Tari tradisional dari Nias. (Foto: instagram.com/ukm_nias)

Tarian fame afo dulunya biasa dilakukan di kalangan bangsawan yang melibatkan warga desa sebagai penghormatan pada tamu yang diundang untuk acara-acara adat.

"Sirih menjadi tanda penghormatan. Tamu yang memakan sirih, artinya dia percaya kepada si tuan rumah bahwa selama dia di tempat itu dia aman," kata Duman saat ditemui di Jakarta, seperti dikutip Antara.


Ditarikan oleh perempuan

Nias membiliki banyak tarian tradisional. (Foto: instagram.com/poppy.erni)
Nias membiliki banyak tarian tradisional. (Foto: instagram.com/poppy.erni)

Namun saat ini, fame afo lazim digunakan juga untuk menyambut tamu-tamu di luar acara adat.

Biasanya, fame afo ditarikan oleh enam sampai 12 penari perempuan dimulai dengan kalimat-kalimat penyambutan yang diserukan oleh seorang pemimpin.

Nantinya, pemimpin ini mengkomando warga untuk menghantarkan sirih kepada si tamu untuk dikunyah, seraya menyahut "hoooi" bersama-sama.

Selanjutnya, pada prosesi ini, penari perempuan mulai menari sambil membawa bolanafo atau tempat menyimpan sirih dengan iringan dua lelaki yang membawa alat perang. Ini menyimbolkan penjagaan untuk para penari agar tidak diganggu.

Baca Juga: Tari Pendet, Tarian Selamat Datang Tertua Bali


Tarian diiringi musik dan nasihat-nasihat

Para penari dengan pakaian tradisional Nias. (Foto: instagram.com/teddy12.12)
Para penari dengan pakaian tradisional Nias. (Foto: instagram.com/teddy12.12)

Tarian fame afo dipersembahkan tidak boleh lebih dari sembilan ragam gerak yang pada langkah keenam atau kesembilannya, penari menyuguhkan sirih pada tamu. Prosesi ini diiringi seruan dari pemuda yang mengawal sambil menyebut nama tamu yang disambut.

Setelah itu pemuda pengawal juga menyampaikan penyambutan dan kerendahan hati dengan bahasa Nias kepada para tamu. Semua prosesi ini biasanya diiringi juga oleh syair yang berisi nasihat, hikayat, folklore dengan iringan musik tradisional seperti fondrahi, seruling, aramba, canang, tamburu, serta gendang.

Dalam Jurnal "Ragam Tari Tradisional Nias untuk Program Wisata Budaya Berbasis Masyarakat" yang ditulis Dharma Kelana Putra pada 2017, tari ini disebut sering dimainkan juga oleh lebih dua puluh penari.

Asalkan jumlah penarinya genap dengan seorang penari utama. Ragam gerak tari ini pun diketahui sudah semakin berkembang. (*)

Baca Juga: Sejarah Tari Kretek, Representasi Buruh Rokok di Kabupaten Kudus


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy