Menapaki Jejak SMA Selamat Pagi Indonesia yang Inspiratif Sekolah Selamat Pagi Indonesia mendidik anak yatim dan duafa.(foto: MP/Aldi Fadillah)

DI wilayah Batu, Jawa Timur, terdapat sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berbeda dan inspiratif, yakni SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI).

Sekolah ini tepatnya berada di jalan Pandanrejo No 1, Batu, Jawa Timur. Jika dari Bandara Abdul Rachman Saleh, butuh 45 menit berkendara mobil untuk sampai ke lokasi.

BACA JUGA: Anak Garuda, Kisah Nyata Tujuh Alumni Sekolah SPI Meraih Kesuksesan

Yang membuat sekolah ini unik ialah SMA Selamat Pagi Indonesia merupakan sekolah gratis. Seluruh biaya hidup dan pendidikan ditanggung Yayasan yang menjalankan sekolah. SMA Selamat Pagi Indonesia tidak menerima dan meminta peserta didik atau wali murid mengeluarkan biaya apa pun. Peserta didik yang diterima di SMA Selamat Pagi Indonesia pun spesial. Mereka merupakan keluarga yatim puatu atau tidak mampu yang memerlukan pendidikan di jenjang SMA.

ko jul SPI
Berawal dari pernyataan sang Founder, Ko Jul. (foto: MP/Aldi Fadillah)

Nama SMA Selamat Pagi Indonesia pastinya akan membuat banyak orang mengernyit. Rupanya nama tersebut bukanlah sembarang nama. Ada filosofi tersendiri. Pagi hari yang identik dengan berbagai hal yang positif menjadi inspirasi penamaan bagi Founder SMA Selamat Pagi Indonesia Julianto Eka Putra. "Mengapa pagi hari? Karena pagi hari itu identik dengan hari yang baru, harapan yang baru. Adik-adik ini kan mereka hampir tidak bisa sekolah. Dengan mereka ada di sini, kita berharap mereka muncul harapan yang baru, impian yang baru, yang bisa mereka capai dalam hidupnya," jelas Julianto atau yang akrab disapa Ko Jul saat wawancara eksklusif bersama Merahputih.com di sekolah Selamat Pagi Indonsia.


Awal Mula Terbentuknya

sekolah SPI
Memberikan pendidikan bagi anak yatim dan duafa. (foto: MP/Aldu Fadillah)

Ko Jul mengaku sebelumnya tak pernah berpikir untuk membuat sekolah gratis SMA Selamat Pagi Indonesia. Semua berawal pada Juni 2000 silam. Kala itu, Ko Jul mengisi acara di hadapan 2.000 orang sebagai seorang pembicara. Entah bagaimana, ia berucap, 'pada 2010, kita akan membuat sekolah gratis untuk anak-anak yatim piatu yang tidak mampu'.

Ketika turun panggung, tim Ko Jul dari perusahaan HDI pun sontak heboh. Mereka langsung menanyakan kepada Ko Jul, "Uang dari mana? Kenapa bikin statement tak dirundingkan dulu?" Ko Jul langsung memberikan skrip aslinya dan berkata kepada mereka, "Nih, kamu baca, ada enggak di sana tulisan itu?". Mereka menjawab tak ada. Setelah itu, teman-teman Ko Jul malah naik pitam dan berkata, "Lain kali kalau mau ngomong pikir dulu, Ko." Ko Jul pun menjawabnya dengan lugas, "Kalau aku mikir, aku enggak akan ngeluarin statement itu, karena aku tahu itu besar dananya, duit dari mana?"

Statement ingin membuat sekolah gratis itu tak hanya membuat teman-temannya terkejut dan marah, tapi ketika pulang ke rumah, sang istri pun ikut marah. Hal itu lantaran ia kecewa Ko Jul yang berbpicara tanpa dipikir matang-matang terlebih dahulu. "Enggak cuma teman-teman yang marah, istri saya kan Suroboyo banget karena Surabaya asli kalau ngomong sering ngegas gitu. Aku bilang, 'tadi sore aku dimarahi teman-teman, malem ini kamu marahin aku. Lah aku mau marahin siapa coba?'. Jadi awalnya sama sekali enggak terpikir itu," jelas Ko Jul .

Namun, akhirnya Ko Jul memahami bahwa pernyataan itu amat mungkin trkait dengan kehidupan yang ia alami. Ia mengaku penggemar lagu-lagu Iwan Fals. Menurut Ko Jul, dari lagu-lagu Iwan Fals itu, ia belajar tentang kemanusiaan, idealisme, dan nasionalisme.

Di lain hal, ide sekolah yatim piatu mungkin muncul karena nenek Ko Jul ialah yatim piatu sejak kecil. Lima bersaudara neneknya diambil orang lain semuanya. Hingga meninggal dunia pun, nenek dari Ko Jul masih memiliki keinginan bertemu salah seorang saudara kandungnya. Sayangnya, hal itu tidak terwujud.

Sekolah SPI
Bahu-membahu membangun sekolah SPI. (foto: MP/Aldi Fadillah)

Melalui masa-masa SMA dengan menyanyikan lagu Iwan Fals, di jalanan Ko Jul sering melihat anak-anak menjadi pengemis dan tak sekolah. Ia lantas bertanya kepada mereka. Jawabannya, anak pengemis tersebut rata-rata tak punya uang dan sebagainya. Hal itulah yang memengaruhi alam bawah sadar Ko Jul hingga terlontarnya pernyataan akan membangun sekolah gratis untuk anak yatim piatu.

Setelah itu, Ko Jul pun berkata kepada teman-temannya. "Daripada kalian ngomelin saya melulu, mending cari duit dah supaya bisa bangun sekolah itu."

Ajaibnya, teman-teman Ko Jul dari perusahaan multilevel marketing HDI malah mau mendukung dan menyisihkan pendapatan mereka 5% untuk membangun sekolah.

Saat pernyataan ingin membangun sekolah gratis untuk anak yatim piatu itu terlontar, seseorang mungkin bisa tak menepati janji dan menghiraukannya. Namun, berbeda dengan Ko Jul. Baginya tak ada hal yang kebetulan di dunia ini. "Saya percaya enggak ada yang kebetulan di dunia ini. Satu daun pun tidak akan jatuh jika Tuhan tak menghendaki jatuh. Demikian pula kalimat yang saya ucapkan, toh niatnya dan tujuannya baik. Maka saya meyakini itu bukan sebuah kebetulan," ujarnya.

Lebih lanjut Ko Jul menambahkan, baginya hal itu sebuah amanah, jadi dia harus ikhtiar dan berjuang keras agar dapat terwujud.


Kesulitan di Awal Membangun Sekolah

Sekolah SPI
Banyak rintangan di awal pendirian. (foto: MP/Aldi Fadillah)

Dalam proses pembangunan SMA Selamat Pagi Indonesia, Ko Jul menemui berbagai macam kesulitan. Salah satunya, ia diterpa isu SARA. Hal itu membuatnya jengkel, tapi tekadnya tetap teguh untuk membangun sekolah gratis untuk anak yatim piatu tersebut.


Selain isu SARA, perizinan pendirian sekolah itu pun dipersulit. Meski demikian, Ko Jul tetap tak gentar menghadapinya.

Di balik kesulitan tersebut, Ko Jul bersyukur karena pemilik perusahaan HDI asal Singapura, mendukung untuk pembelian lahan pertama. Awalnya, sekolah SPI berada di tanah yang luasnya sekitar 3,3 hektare yang dibeli dengan harga saat itu Rp5,3 miliar. Namun seiring berjalannya waktu dan perkembangan yang cukup pesat, luas SMA Selamat Pagi Indonesia saat ini telah mencapai sekitar 21 hektare. Saat ini sedang dilakukan pembangunan untuk sekolah tinggi kewirausahaan jenjang S-1.

Awalnya, ia merasa cukup dengan lahan 3,3 hektare. Tak terlintas pikiran yang macam-macam. Hingga tebersit keinginan untuk membuat SMA Selamat Pagi Indonesia lebih banyak praktik. Dengan begitu, tentunya sekolah membutuhkan laboratorium agar mereka bisa mempraktikkan pengetahuan yang mereka pelajari di kelas.

sekolah SPI
Kini, sekolah SPI menempati lahan seluas 21 hektare. (foto: MP/Aldi Fadillah)

Pembangunan dimulai di 2005 hingga selesai pada 2007. Sekolah resmi dibuka pada Juni 2007. Saat itu, baru ada dua gedung, yakni gedung sekolah dan gedung asrama siswa.

Angkatan pertama diawali dengan 29 orang anak. Ketika itu, SMA SPI menargetkan 30 anak per tahun. Mengapa 30? Karena saat itu SMA SPI masih sangat baru, daya tampung asrama terbatas, orang belum banyak tahu, dan masih banyak juga yang berpikiran negatif. Saat ini, sekolah SPI bisa menampung 90 anak per tahun.

Di tengah perkembangan yang cukup pesat, penerimaan 90 orang anak itu justru menjadi dilema. Hal itu disebabkan peminat yang mendaftar bisa mencapai 300-500 orang setiap tahun. Pihak sekolah pun merasa tak tega. Jika dilihat dari lampiran formulir, banyak sekali mereka yang membutuhkan bantuan. Namun, karena keterbatasan tempat, sekolah hanya bisa menerima sekitar 90 anak.

Beda dari yang Lain

Sekolah SPI
Siswa belajar dengan sistem praktik langsung. (foto: MP/Aldi Fadillah)

Berbeda pada sekolah umum lainnya, SMA Selamat Pagi Indonesia menerapkan sistem dan model kurikulum yang bisa memberkali para murid hingga bisa betul-betul aplikatif dalam hidup mereka. Tak dimungkiri memang banyak hal yang dipelajari disekolah tapi tak terpakai di kehidupan kita.

Menurut Ko Jul, hal yang diutamakan di SMA SPI ialah life skill. Di era disruption ini, terjadi perubahan yang sangat besar. "Di era disruption terjadi perubahan yang sangat besar. Apa yang kita pelajari secara teknis, kalau kita hanya mempelajari teknis saja, bisa jadi pengetahuan teknis itu besok pagi sudah basi. Maka di sinilah yang disebut life skill serta soft skill-nya, bagaimana mereka dengan cepat beradaptasi. Life skill dan soft skill yang dimaksud ialah praktik," jelas Ko Jul.

Praktik itu langsung diaplikasikan pada beberapa divisi bisnis yang ada di SMA SPI. Saat ini, ada beberapa divisi yang dikelola, yakni divisi hotel, marketing, show, tour & travel, engineering, restaurant, food production, production house, dan merchandise store.

Divisi bisnis yang dikelola alumni SMA Selamat Pagi Indonesia itu sekaligus menjadi laboratorium siswa-siswi yang ingin belajar life skill langsung sesuai dengan peminatan.

Sekolah SPI
Punya divisi bisnis hotel. (foto: MP/Aldi Fadillah)

Ada satu hal yang cukup mengejutkan, Ko Jul menyebut pada 2018 penghasilan keseluruhan divisi bisnis tersebut mencapai Rp27 miliar per tahun. Jika dihitung-hitung, total penghasilan tiap bulan rata-rata sekitar Rp2 miliar.

Tak sampai di situ, tahun ini mereka menargetkan penghasilan sebesar Rp54 miliar. Hingga Juli 2019 ini, penghasilan divisi bisnis yang dikelola alumni dan siswa SMA SPI sudah di angka Rp19 miliar.

Namun, divisi-divisi bisnis tersebut tak berdiri begitu saja. Semua bermula ketika angkatan pertama sekolah itu galau dan menangis ketika mau lulus karena bingung melakukan apa setelah lulus nanti. Akhirnya mereka pun mendatangi Ko Jul. Dari sanalah tercetus ide Ko Jul untuk membukakan siswa-siswi sebuah bisnis. Pengelolaanya didampingi, diberi modal dan pengetahuan.

Bisnis siswa-siswi itu mulai berjalan, dan semakin banyak alumni yang ingin tetap tinggal di SMA Selamat Pagi Indonesia. Dari satu bisnis, muncullah beberapa bisnis lainnya yang semakin lama makin banyak.

Dari sekian banyak divisi tersebut, semuanya saling mendukung dan memberikan efek pantul. Contohnya, hal yang membuat orang ingin datang ke SPI ialah show yang bisa menarik pengunjung untuk ke divisi lainnya.

"Contohnya show and entertainment. Mereka kan punya showbiz bisnis. Secara pendapatan mereka masih lemah, tapi itu yang membuat orang senang training di sini, tinggal di hotelnya, datang terus belanja merchandise-nya dipusat oleh-olehnya-nya, makan di restorannya. Itu dari hasil adanya show tadi," kata Ko Jul

Sekolah SPI
Divisi show yang banyak menarik pengunjung. (foto: MP/Aldi Fadillah)

Ko Jul menambahkan, show merupakan magnet yang kuat dan besar untuk pengunjung bisa datang ke SMA Selamat Pagi Indonesia. "Kalau enggak ada show, apa bedanya di sini sama makan di luar? Makanannya enak pemandangan bagus oke, tapi apa bedanya dengan yang lain? Demikian pula hotelnya, ngapain hotel di sini yang lain juga bagus kok? Namun, dengan adanya show best of glory dan pesona Sang Garuda, ini yang jadi daya tarik kuat, apalagi di era bisnis 4.0 ini. Pilihannya ialah kolab atau kolaps, harus bisa kolaborasi kalau engga kolaps beneran," lanjutnya.

Total keuntungan divisi bisnis akan dibagi 50% untuk alumni dan siswa yang mengelola. Sisa 50% lagi untuk pengembangan divisi, contohnya di tour and travel digunakan untuk penambahan armada mobil atau di divisi resto untuk penambahan pembelian alat-alat masak.

Untuk targetnya sendiri, alumni dan siswa-siswi yang menentukan sendiri, karena Ko Jul mendidik mereka dari awal agar bisa memilih sendiri pilihan mereka. "Targetnya dari siapa? Mereka sendiri. Saya memang didik dari awal, demikian pula mereka yang posisinya seperti manajer. Saya bilang ke mereka, 'kamu enggak perlu ditargetin, buatlah targetmu sendiri'. Contoh, untuk perusahaan di luar sana omzet dinaikkan 10% sudah pada ngomel, tapi minta naik gaji 30%. Jadi kalau kamu ingin pendapatan kamu pesat naik, gue mau targetin 100%, gue mau tahun depan dapetnya 100% kenaikan. Secara corporate pasti ada dana buat ngasih itu," kata Ko Jul.

sekolah SPI
Punya merchandise store. (foto: MP/Aldi Fadillah)

Dalam perkembangannya, alumni dan siswa-siswi merasa sangat happy. Hal itu mendorong lahirnya divisi-divisi baru di bawahnya. Hal itu juga tak terlepas dari Ko Jul yang mengajarkan mereka untuk melihat peluang dan cepat menangkap peluang yang ada.

Selain itu, digelar juga beberapa pelatihan valuable series. Di dalam pelatihan itu, mereka dilatih secara bertahap dengan beberapa jenjang, mulai dari valuable person, valuable team, valuable leader, dan valuable leader maker, termasuk outbond experimental learning. Setiap tahun, siswa-siswi SMA Selamat Pagi Indonesia berkesempatan melakukan experimental learning keluar negeri seperti Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Makau, dan negara-negara di Eropa.

Sekolah SPI
Menjual produk di toko sendiri. (foto: MP/Aldi Fadillah)

Menariknya, di SMA Selamat Pagi Indonesia, banyak sekali spot-spot keren, dari mulai hotel dengan pemandangan menghadap gunung, restoran dengan pemandangan alam yang indah, hidroponic house, labirin, berbagai ruang kelas yang antimainstream, Happy Farm Ville, area outbond, area pertunjukan, dan banyak sekali spot keren dan tentunya sangat Instagramable.

Pastinya enggak akan nyesel berkunjung ke SMA Selamat Pagi Indonesia. FYI, waktu seharian saja enggak cukup deh untuk berkeliling berbagai spot-spot keren di sekolah ini. Jadi menginaplah 2-3 hari atau bahkan 1 minggu untuk benar-benar puas berkeliling SMA Selamat Pagi Indonesia.(ryn)

BACA JUGA: Syuting Di Eropa, Tissa Biani Jerawatan dan Kangen Mi Jawa

Kredit : raden_yusuf

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH