Masjid Caringin Bukti Pemberontakan Rakyat Banten kepada Daendels Masjid Caringin, Jalan Labuan-Carita, Caringin, Kabupaten Pandeglang, Banten. (Foto: dibudpar.bantenprov.go.id)
indonesiaku-singlepost-banner-2
indonesiaku-singlepost-Mobile-banner-7

MerahPutih Wisata - Masjid Caringin menjadi peninggalan muslim Banten pada masa pemerintahan kolonial Belanda di bawah Gubernur Jenderal Herman Hillem Daendels. Sebagian pekerja paksa dalam pembangunan Jalan Anyer-Panarukan memberontak dan melarikan diri mengarah ke selatan, hingga ke Caringin dan menetap di sana.

Hingga saat ini, Masjid Caringin masih dipakai untuk beribadah dan menjadi desnitasi wisata sejarah sekaligus wisata religius di Banten. Masjid Caringin terletak tidak jauh dari desnitasi wisata Pantai Carita. Jika Anda melakukan perjalanan ke Pantai Carita dari arah Pandeglang-Labuan, maka akan melewati masjid bersejarah ini.

Masjid Caringin terletak di pinggiran Jalan Raya Labuan-Carita, Kampung Caringin, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Pesisir pantai barat Pandeglang ini berjarak kurang lebih 43 kilimeter dari pusat kota Pandeglang. Sedangkan jika ditempuh dari Ibu Kota Serang kurang lebih 66 kilometer.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda Deandles memerintah pada 1808 hingga 1811. Pada masanya, Daendels menginginkan pembangunan jalan di Jawa dari barat hingga timur. Jalan tersebut dari Anyer, Banten hingga Panarukan, Jawa Timur. Disebut Jalan Raya Pos atau Jalan Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan sepanjang 1.000 km disebut sebagai ambisi pemerintah kolonial dengan menggunakan keringat rakyat pribumi melalui sistem kerja paksa.

Pembangunan jalan dengan sistem kerja paksa mendapat perlawanan di Anyer. Salah satunya sekelompok muslim yang dijadikan pekerja rodi melakukan pemberontakan. Kelompok itu dipimpin oleh Abdurakhman yang merupakan keturunan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Kelompok pimpinan Abdurakhman tersebut kemudian lari ke arah selatan hingga sampai di kawasan Caringin dan menetap di sana. Di Caringin, Abdurakhman bersama kelompoknya mendirikan masjid yang saat ini dikenal dengan Masjid Caringin. Caringin sempat ditinggalkan karena kejadian letusan Gunung Krakatau pada 1883, setelah 10 tahun kemudian mereka kembali ke Caringin.

Masjid Caringin juga menjadi saksi bisu dahsyatnya letusan Gunung Krakatau. Setelah 10 tahun ditinggalkan, pembangunan kembali masjid juga melibatkan seorang ulama bernama Syekh Asnawi dan penduduk. Secara gotong royong, Masjid Caringin kembali didirikan. Masjid ini kemudian menjadi pusat syiar Islam dan basis perjuangan rakyat Banten melawan penjajahan.

Majid yang dipengaruhi gaya moor ini berdiri megah di lahan seluas 2.500 meter persegi. Bahan bangunan menggunakan batu karang yang dicetak bata. Jika Anda berkunjung ke wilayah destinasi wisata Pantai Anyer, beristirahat di sambil menunaikan ibadah salat menjadi pilihan dengan singgah di Masjid Caringin, sambil mengingat kembali perjuangan masyarakat dahulu melawan ketidakadilan.


BACA JUGA:

  1. Kembali ke Zaman Megalitikum Lewat Situs Lebak Kosala di Banten
  2. Kesenian Buaya Putih Seserahan Ala Banten
  3. Mengenal Masyarakat Adat Citorek di Banten
  4. Selain Suku Baduy, Ada Masyarakat Adat Cisungsang di Banten
  5. Yuk Jalan-jalan ke Kampung Gerabah di Anyer Banten

 


indonesiaku-singlepost-Mobile-banner-3

Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


indonesiaku-singlepost-banner-4
indonesiaku-singlepost-banner-5
indonesiaku-singlepost-banner-6