Kamu Sering 'Ngegas' Saat Lapar? Ini Dia Penjelasan Ilmiahnya Kenali penjelasan ilmiah mengapa kamu sering 'ngegas' disaat lapar (Foto: pixabay/mohamed_hassan)

RASA lapar dapat membuat kondisi emosional seseorang berubah. Dalam hal ini berlaku untuk semua orang, baik laki-laki ataupun perempuan.

Kondisi emosional orang lapar sendiri cendrung tak stabil. Biasanya ditunjukan dengan 'ngegas' atau cepat marah, dan tersinggung tanpa alasan yang jelas.

Baca Juga:

Ancaman Gangguan Kesehatan di Balik Bubble Tea

Dalam bahasa inggris, kedaan tersebut telah memiliki padanannya yakni hangry. Kata hangry merupakan gabungan dari dua suku kata yaitu hungry dan angry.

Kata baru yang dimasukan dalam kamus besar Oxford tersebut, menunjukan jika keadaan hangry telah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Namun hangry sendiri tak terjadi tanpa adanya sebab.

Penjelasannya, disaat lapar kondisi gula darah menurun. Dengan begitu glukosa yang merupakan sumber makanan bagi otak pun ikut menurun. Nah, defisit glukosa dalam darah bisa mengakibatkan otak yang tak berfungsi secara maksimal gengs.

Saat lapar seseorang bisa berprilaku tak wajar (Foto: pixabay/studioessen)

Jika keadaanya sudah seperti itu, bisa mengakibatkan seseorang sulit melakukan hal-hal seperti berprilaku dengan wajar, atau mengingat sesuatu yang seharusnya mudah.

Seperti yang dilansir dari laman Go Dok, tanda-tandanya kadar gula dalam darah menurun antara lain yaitu lemah, letih dan gemetar. Menurut ahli diet klinis di Stanford Health Care, Leah Groppo. Perut yang telah keroncongan dan diikuti dengan mood kurang bagus, ialah akibat dari pasokan glukosa ke otak yang sedang berkurang.

Selain kadar glukosa, sebuah penelitian yang dilakukan University of Cambridge dan diterbitkan dalam the journal Biological Psychiatry, menyatakan, bahwa faktor yang memengaruhi kondisi emosional disaat lapar ialah level serotonin. Serotonin sendiri merupakan hormon yang membantu mengatur bagaimana seseorang berprilaku.

Kenaikan atau penurunan level seretonin sangat berpengaruh pada bagian-bagian otak, yang berfungsi untuk mengontrol emosi. Biasanya ketidakstabilan serotonin biasanya terjadi disaat kamu mengalami stress dan kelaparan.

Baca Juga:

Kenali Dampak Berbahaya Sandal Jepit Untuk Kesehatan Kaki

Di dalam melakukan penelitiannya, para peneliti dari University of Cambridge menggabungkan metode riset perilaku yang telah lama digunakan dan teknologi baru. Riset tersebut melibatkan beberapa sukarelawan yang pola makannya diatur untuk memanipulasi level serotonin mereka.

Lalu otak mereka pun dipindai dengan menggunakan Functional Magnetic Resonance Imaging (FMRI) guna melihat reaksi sel-sel otak pada wajah-wajah dengan ekspresi berbeda, seperti marah, netral maupun sedih.

Hasil penelitian itu menunjukan, jika level serotonin yang rendah membuat respon antar bagian-bagian otak tak berjalan normal seperti biasanya. Peneliti menyimpulkan, jika kondisi itu terjadi maka akan mengakibatkan otak kamu lebih sulit untuk mengatur respon emosional terhadap rasa marah.

Solusi mengatasinya ialah makan makanan yang mengandung protein, lemak dan karbohidrat yang seimbang (Foto: pixabay/sasint)

Solusi dalam negatasi hal itu ialah dengan langsung memakan sesuatu. Agar lebih ampuh makanlah makan yang mengandung protein, lemak serta karbohidrat yang seimbang. Karena makanan dengan kandungan tiga zat itu, bisa membantu menyeimbangkan kadar gula dalam darah, dan mengembalikan kondisi mood menjadi normal seperti semula. (ryn)

Baca Juga:

Mendengarkan Musik Sambil Berolahraga Baik Bagi Kesehatan, Ini Penjelasannya

Kredit : raden_yusuf

Tags Artikel Ini

Raden Yusuf Nayamenggala

LAINNYA DARI MERAH PUTIH