Home Schooling Ketika Orangtua Sibuk Bekerja Ilustrasi home schooling (Foto: Pixabay/Victoria_Borodinova)

SCHOOL from home yang tak kunjung usai karena pandemi COVID-19 membuat sejumlah orang tua tergoda untuk mulai menyekolahkan anaknya home schooling. Dan biasanya, hal pertama yang dilakukan untuk merealisasikan rencana tersebut yakni dengan mencari institusi pembelajaran di rumah.

Padahal, stigma tersebut salah. Secara prinsip home schooling menekankan pada pilihan orangtua/keluarga untuk bertanggung jawab sendiri dalam pendidikan anak. Home schooling berbeda dengan sekolah konvensional dari sisi pengelolaannya.

Baca juga:

Bulan Depan Spanyol Buka Lockdown demi Wisata

Home schooling menjadi pilihan (Foto: Expat Child)
Home schooling menjadi pilihan (Foto: Expat Child)

Pada sekolah, sistem dan standar sudah dibakukan sehingga orangtua dapat menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya pada sekolah. Sekolah bertanggung jawab penuh pada pendidikan anak sesuai mandat yang diberikan orangtua. Sementara pada home schooling tanggung jawab pendidikan itu ada pada orangtua.

Bahkan seandainya orangtua mengikuti sebuah komunitas home schooling tertentu, tanggung jawab itu tetap berada pada orangtua. Komunitas home schooling hanya menyediakan layanan dan bantuan untuk mempermudah proses home schooling yang sedang dijalankan.

Baca juga:

Putri Charlotte Mungkin Tak Masuk Jika Sekolah Dibuka Lagi

Banyak anggapan salah tentang home schooling (Foto: The South African)
Banyak anggapan salah tentang home schooling (Foto: The South African)

"Home schooling tidak boleh dan tidak bisa diperlakukan seperti sekolah, di mana orangtua mendelegasikan proses pendidikan anak pada sebuah lembaga tertentu," ujar praktisi home schooling, Sumardiono pada Webinar Menimbang Home Schooling, Rabu (27/5).

Lalu bagaimana jika orangtua yang bekerja ingin anaknya menjalani home schooling?

"Kalau orangtua dapat mengelola proses belajar anak secara baik (dengan tetap bekerja), maka HS dapat dijalankan. Jika anak masih belum bisa dilepas untuk mandiri dan proses belajar masih membutuhkan pendampingan yang besar, dibutuhkan pengaturan ulang mengenai pekerjaan yang dijalankan oleh orangtua jika," urai Sumardiono. (Avia)

Baca juga:

Asup Cokelat untuk Redakan Kecemasan


Tags Artikel Ini

Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH