Eksis Sejak Abad ke-16, Kenali 5 Motif Batik Kuno Khas Indonesia Mengenal sejarah batik kuno tertua milik Indonesia (Foto: antaranews/yashinta difa)

BATIK merupakan kain khas kebanggaan Indonesia, hadir dengan motif dan corak yang beragam. Menggunakan benang khusus dan proses pembuatan yang rumit, menjadikan kualitas serta harga kain batik sangat tinggi. Semakin rumit motifnya, bisa semakin mahal harganya.

Telah dikenal sejak abad ke 16, batik selalu berkembang mengikuti zaman. Untuk mengenangnya, batik pun telah dibangunkan museum tersendiri. Motif kuno dan bersejarah disimpan dan dijaga. Di Indonesia, hampir seluruh daerah memiliki jenis batiknya masing-masing. Dari yang kuno hingga modern.

Baca juga:

Kain Termahal di Dunia, Salah Satunya Batik Indonesia

Berikut lima motif batik kuno di Indonesia yang telah kami rangkum. Jenis-jenis batik ini telah dikenal sejak lama, bahkan ada motif yang diadopsi dari Belanda dan negara lainnya.

1. Batik Lasem

Motif Batik Lasem
Batik Lasem populer sejak abad ke-16 (Foto: pinterest/flic.kr)

Sejak abad ke-16 motif batik lasem sudah populer di kalangan wanita keturunan Tionghoa. Proses pembuatan batik lasem dengan teknik tulis yang dilakukan oleh tangan perajinnya langsung. Lengkap dengan lilin atau biasa dikenal dengan malam.

Melansir laman antaranews, pelaku UMKM batik tulis Lasem secara resmi memperkenalkannya ke delegasi pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia di Paviliun Indonesia. Guna meningkatkan pasar batik hingga mendunia.

Umumnya, setiap batik tulis Lasem memerlukan lebih dari tujuh kali proses pencelupan. Tak heran, proses produksi menghabiskan waktu yang lama. Bisa mencapai 25 hari atau lebih.

Maka dari itu, penawaran harga untuk kain batik lasem di pasaran mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 1,5 juta per meter. Disesuaikan jenis dan kualitasnya. Semakin detail motif, semakin tinggi pula harga jualnya.

2. Batik Cirebon

Motif Batik Cirebon
Batik Cirebon memadukan kebudayaan China, India, Arab, dan Persia (Foto: pinterest/dave)

Populer sejak abad ke-16, awalnya batik Cirebon hanya dipakai oleh kalangan Keraton. Diperkenalkan dari Pelabuhan Muara Jati yang merupakan tempat persinggahan para pedagang asing se-Asia. Keberagaman budaya inilah yang menciptakan batik Cirebon.

Motif batik Cirebon mewakili kebudayaan China, India, Arab, dan Persia. Terkenal sebagai motif awan megamendung. Diciptakan oleh Pangeran Cakrabuana saat tahun 1452 hingga 1479.

Memiliki ciri khas sebagai penanda melalui bentuk garis awan lonjong, lancip, segitiga dan bulat. Dimaknai sebagai peperangan antara kebaikan dan kejahatan hingga mencapai kemakmuran.

Baca juga:

Pesona Vintage di Kampung Batik Laweyan

3. Batik Pekalongan

Motif Batik Pekalongan
Batik Pekalongan sudah ada sejak 1800an (Foto: antaranews/Pradita Utama)

Sudah ada sejak 1800an, batik Pekalongan memiliki ciri khas pesisir yang kaya akan warna dan ragam hias secara naturalis. Memadukan pengaruh keturunan China dan Belanda, batik ini berkembang usai perang Diponegoro (tahun 1825-1830).

Delapan perpaduan warna motif batik Pekalongan jadi keunggulan dalam menarik daya tarik. Kini, batik Pekalongan telah tersebar hingga ke daerah luar Jawa. Di antaranya Jambi, Minahasa, Makassar, Sumatera Barat dan Selatan.

Perkembangan batik Pekalongan semakin mendunia. Penyebarannya menggarap ekspor ke Malaysia, Thailand dan negara bagian Timur Tengah.

4. Batik Belanda

Motif Batik Belanda
Batik Belanda berkembang pada tahun 1840-1940 (Foto: pinterest/fitinline.com)

Batik dengan dua kebudayaan yang berbeda. Telah ada saat zaman penjajahan Belanda. Diusung oleh wanita Indo-Eropa dan berkembang pada tahun 1840-1940. Corak yang dihasilkan berasal dari keseharian masyarakat Belanda. Ditambahkan juga cerita dongeng dari negara yang dikenal dengan bunga tulipnya.

Melihat perkembangan batik di Indonesia semakin maju, salah satu pengusaha asal Belanda Carolina Josephina von Franquemont membangun perusahaan batik Belanda pertama pada tahun 1840. Dengan pola bunga dan warna yang seirama. Batik ini cukup berkembang pada masanya.

5. Batik Keraton

Motif Batik Keraton
Batik Keraton populer sejak kerajaan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I (Foto: antaranews/Noveradika)

Batik kerajaan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Berpola larangan dengan motif Parang Rusak. Sudah dicetuskan oleh beliau sejak tahun 1785. Dipercaya oleh beberapa kalangan mampu memberikan suasana yang religius serta memiliki aura magis sesuai dengan makna motifnya.

Terdiri dari beberapa motif, antara lain motif Huk, Kawung, Parang, Semen dan Udan Liris. Batik dengan sebutan Awisan Dalem ini menjadi batik dengan motif terlama di Indonesia. Menjadi ciri khas kebudayaan warga Yogyakarta selama bertahun-tahun. (Dys)

Baca juga:

Jangan Sampai Keliru, Ketahui Perbedaan Jenis Batik



Ananda Dimas Prasetya

LAINNYA DARI MERAH PUTIH