Dendeng Khas Banten, Kuliner Wajib Beli Kios Dendeng Bu Haji Marwiyah di Jl Yusuf Martadilaga Kota Serang Banten. dan berbagai jenis dendeng khas Banten

MENURUT catatan Cornelis De Houtman pada tahun 1596, seorang penjelajah asal Belanda, Banten sudah memiliki keraton, masjid dan alun-alun kota yang luas. Kemudian pelabuhan dan pasar yang mengesankan di zamannya, ia menyamakan situasi Banten dengan situasi di Amsterdam.

Banten juga memiliki perkampungan penduduk dari berbagai tempat di Indonesia. Kala itu struktur masyarakat Banten amat multietnis. Seperti yang berasal dari Melayu, Benggala, Gujarat, Abessinea, Cina, Arab, Pegu, Turki, Persia, Belanda dan Portugis. Juga para pedagang dari Nusantara seperti dari Ambon, Banda, Maluku, Selor, Makasar, Sumbawa, Jaratan, Gresik, Pati, Sumatera, dan Kalimantan.

Baca Juga:

Sri Sahuli, Tokoh Kemerdekaan dari Banten yang Tidak Dikenal Masyarakatnya

Sebagai kesultanan yang menjadi pusat perdagangan nusantara, adalah suatu hal yang wajar, jika Banten mewariskan produk budaya kuliner yang mengajak lidah kita berdansa. Banten memiliki kekhasan kulinernya semacam sate bandeng, rabeg, dan pecak bandeng. Ketiganya adalah jenis hidangan lezat warisan kebudayaan kesultanan Banten yang wajib kita cicipi jika berkunjung ke Banten.

Namun apa hidangan yang bisa kita bawa pulang? Jawabannya adalah dendeng.

dendeng
Bandeng daging kerbau yang menjadi ciri khas kuliner Banten. (Foto: MP/Sucitra)

Sejak kesultanan Banten dibumihanguskan oleh Daendels pada tahun 1882, Sultan Banten dibuang keluar jauh dari Banten beserta keluarga intinya. Sebagian memang tetap menetap di Banten yang kebanyakan bermukim di wilayah Kaujon Kota Serang, wilayah sepanjang sisi selatan sebuah sungai yang kita kenal dengan sebutan; Kali Banten. Di wilayah ini merahputih.com mendapati potongan-potongan daging kerbau yang tengah dikeringkan pada nampah. Salahsatu ciri, bahwa Dendeng Banten masih lestari, ada pembuatnya dan ada penikmatnya.

Penelusuran merahputih.com berakhir pada sebuah rumah di Jl Yusuf Martadilaga, tak jauh dari kawasan Kaujon. Rumah milik keluarga Ibu Haji Marwiyah, keluarga yang konsisten memproduksi dendeng. Dendeng yang diproduksi oleh ibu Haji Marwiyah dianggap lezat dan berkualitas, berdiri sejak tahun 1964.

Baca Juga:

Banyak Rusak dan Hilang, Sisa-sisa Banten Girang Teridentifikasi Tinggal 17 Situs

Umumnya pelanggan dendeng Bu Haji Marwiyah adalah penduduk Banten sendiri. Baik itu masyarakat yang berasal dari wilayah Serang, Cilegon, Pandeglang, maupun dari Rangkasbitung. Tak sedikit langganannya yang berasal dari Jakarta.

dendeng
Dendeng daging ayam. (Foto: MP/Sucitra)

Ketika ditanya mengenai resep, empunya produsen dendeng khas Banten yang rasanya manis ini merendah, ia mengatakan tidak ada resep istimewa. Karena ia hanya belajar dari orang-orang Serang yang telah lebih dulu membuat dendeng. Singkatnya, resepnya mengikuti bagaimana masyarakat Kota Serang mengikuti leluhurnya. Adapaun ketika dendeng buatannya disukai banyak orang, itu merupakan berkah. "Dendeng saya biasa saja, sama saja dengan yang lainnya," ungkapnya.

Proses pembuatan dendeng di tempatnya antara dua sampai tiga hari. Satu hari pembuatan, dan satu sampai dua hari penjemuran, karena prosesnya hanya mengandalkan sinar matahari. "Terkadang pelanggan meminta ketika prosesnya belum selesai, masih basah. Padahal penjemuran itu menentukan rasa," katanya.

Jenis dendeng yang dibuatnya pun ada beberapa pilihan, daging, paru, gajih, ikan mujaer, ayam, dan ikan belanak. Harga jualnya berkisar antara Rp25ribu sampai Rp 60ribu per seperempat kilogramnya. Menemukan lokasi kios bu Marwiyah sangat mudah, dari lampu merah kebon Jahe sekira 200 meter sebelah kanan ke arah alun-alun Kota Serang. (*)

Baca Juga:

5 Masjid Tertua nan Bersejarah di Banten


Tulisan dari Sucitra kontributor merahputih.com untuk wilayah Banten dan sekitarnya.

Kredit : dsucitra


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH