Banyak Rusak dan Hilang, Sisa-sisa Banten Girang Teridentifikasi Tinggal 17 Situs Kepala BPCB Banten Rusmeijani Setyorini (MP/Sucitra)

MerahPutih.Com - Nama Banten Girang, pertama kali diketahui dari naskah Sajarah Banten yang disusun dan untuk pertama kalinya pada tahun 1662/1663, naskah tersebut menamainya "Wahanten Girang," yang berarti Banten Hulu yang letaknya berada di pedalaman. Saat ini berada di wilayah Blok Sempu Kel Cipare Kecamatan Serang Kota Serang-Banten.

Sajarah Banten, berkisah tentang perjalanan Sunan Gunung Jati dan puteranya Hasanuddin ke Wahanten Girang diteruskan semakin ke pedalaman, tepatnya wilayah Gunung Pulosari yang ketika itu merupakan tempat keramat bagi Kerajaan Sunda. Di tempat yang kini secara administratif masuk kedalam wilayah Kab Pandeglang tersebut, Sunan Gunung Jati menjadi pemimpin agama Islam, membimbing orang-orang Sunda yang baru saja memeluk Islam. Tak lama setelahnya, Sunan Gunung Jati dan Hasanudin menaklukan Wahanten Girang secara militer, yang saat itu merupakan pusat Kerajaan Sunda.

Sisa-sisa peninggalan Wahanten Girang
Gua Pertapaan peninggalan Kerajaan Sunda yang peninggalan raja Prabu Jaya Dewat yang merupakan sisa-sisa Wahanten Girang (MP/Sucitra)

Wilayah yang menyimpan begitu banyak bukti arkeologi tentang peradaban manusia yang bernilai sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan masyarakat Banten di masa Pra Islam tersebut, kini dalam kondisi memprihatinkan, banyak situs yang hilang karena berbagai sebab, hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten Dra Rusmeijani Setyorini.

"Peran masyarakat sangat penting untuk menjaga kelestarian situs-situs yang ada di kawasan Banten Girang, terutama masyarakat setempat," katanya Rabu (6/12) di Le Semar Hotel Kita Serang dalam acara Sosialisasi Cagar Budaya kepada masyarakat.

Masih menurutnya, upaya pelestarian berdasarkan undang-undang itu tidak lepas dari tiga hal yang meliputi perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Dalam pengembangan, pihak BPCB bekerjasama dengan masyarakat dan komunitas, belum lama ini melakukan penelitian yang berlangsung pada bulan Mei 2019.

Koordinator Kajian Pelestarian Situs Banten Girang Mimi Lumbiyantari
Koordinator Kajian Pelestarian Situs Banten Girang Mimi Lumbiyantari (MP/Sucitra)

Koordinator Kajian Rencana Pelestarian Situs Banten Girang Mimi Lumbiyantari mengatakan, berdasarkan penelitian tersebut sisa-sisa situs Banten Girang teridentifikasi sebanyak 17 situs yaitu: Watu Gilang yang berfungsi untuk ritual penobatan raja, makam Ki Mas Jong dan Ki Mas Ju yang merupakan dua tokoh penting dalam peralihan kekuasaan dari Kerajaan Sunda kepada Kesultanan Banten, punden perundak, goa Banten Girang, jembatan gantung, tangga yang tersebar di empat titik berbeda, enam situs parit yang berfungsi sebagai benteng pertahanan dan tersebar di tiga sisi wilayah Banten Girang kecuali sebelah utara.

BACA JUGA: Wahanten Girang, Kerajaan Sunda yang Direbut Kesultanan Banten

Kontroversi Asal-usul Masyarakat Baduy dan Wahanten Girang

"Demi penyelamatan situs-situs tersebut, kita mendorong pihak pemerintah Kota Serang untuk mendaftarkan bangunan, struktur, dan situs yang terdapat di Banten Girang. Untuk dimasukan dalam Register Nasional Cagar Budaya. Dengan demikian, maka upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan wilayah Banten Girang dapat kita laksanakan secara maksimal," tutupnya.(*)

Berita ini ditulis berdasarkan laporan Sucitra De, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Banten dan sekitarnya.

Kredit : dsucitra


Eddy Flo