Alasan Menunda Resign Meski Terjerat Toxic Work Environment Tak mudah keluar dari kondisi toksik. (Unsplash-Ben White)

MERASA seperti mimpi buruk ketika ingin berangkat kerja. Sudah duluan menjengkelkan membayangkan tim kerja dipelopori atasan acap saling menyalahkan ketika muncul permasalahan. Namun, saat hasil kerja tim memuaskan selalu nama atasan disanjung setinggi langit.

Baca juga:

Ngapain Harus Ditunda, Ayo Workout Demi Tubuh Lebih Sehat di Tahun 2022

Belum lagi, tak terhitung jari muncul drama di tiap menjalankan tugas. Kalau ditelisik tentu pemicunya tak lain lantaran kepala divisi gagal menjalin pola komunikasi baik pada rekan kerjanya.

Drama juga semakin mejadi-jadi lantaran kurangnya rasa percaya anak buah terhadap kepala divisi karena tak ada adil menerapkan hukuman ketika terjadi kelalaian.

toxic
Menunda resign karena berbagai alasan. (Unsplash-Luis Villasmil)

Situasi kerja seperti itu tentu cenderung kontraproduktif terhadap capain kerja. Lingkungan kerja kurang sehat atau Toxic Work Environment bukan saja mengganggu capaian kerja, lebih jauh justru dalam jangka panjang bisa merusak kesehatan mental karyawan.

Meski beroleh lingkungan kerja tak sehat, ada saja karyawan tetap bertahan dengan pelbagai alasan. Mau tak mau, mereka harus tutup mata dan telinga terhadap situasi buruk di lingkungan kerja.

Baca juga:

Mengapa Harus Nunda Punya Momongan?

Biasanya, mereka enggan resign lantaran tidak berani cari tantangan baru. Meski bukan zona nyaman, paling tidak tempat kerjanya mencetak ritme hidup secara baku. Ketika mencari tantangan baru di tempat kerja lain tentu saja ritme hidupnya akan berbeda.

Memang terkadang keluar dari kondisi toksik tidak semudah membalikan telapak tangan. Namun, bukan tidak mungkin dicoba meski butuh usaha besar. Paling tidka berkorban untuk kebahagian diri.

toxic
Tidak siap dengan budaya kerja baru. (Unsplash-Nadine Shaabana)

Alasan lain bertahan di lingkungan kerja buruk karena cicilan masih banyak. Apalagi jika sudah berkeluarga, rasanya cicilan tidak akan ada habisnya. Ketakutan tak bisa membayar cicilan ketika pindah kerja jadi momok tak sedikit orang.

Belum tentu pula karyawan di lingkungan kerja toksik mau pindah kerja lantaran tak siap dengan budaya kerja baru. Memang tidak bisa dipungkiri kalau biar lingkungan kerja buruk tetap saja karyawan tahu seluk-beluk tempat kerjanya sehingga bisa menyiasati diri.

Kenyamanan dalam bekerja merupakan salah satu faktor terpenting untuk memompa kinerja seseorang. Percuma bertahan di lingkungan kerja buruk karena selain mengganggu kinerja juga tak baik bagi kesehatan mental. (Rey)

Baca juga:

Jangan Kebanyakan 'Tarsok', Segera Lamar Pekerjaan di Tahun 2022

Kanal