Aksi Soedirman Melucuti Senjata Jepang Tanpa Kontak Senjata (9) Panglima Divisi V Soedirman berpidato di hadapan peserta konferensi TKR di Yogyakarta. (Foto: Mengikuti Jejak Panglima Besar)

KABAR kemerdekaan Republik Indonesia sampai di Banyumas, beberapa hari usai Proklamasi di Jakarta. Desas-desus tentang pembubaran organ ketentaraan Jepang berhembus kuat. Keempat daidancho atau komandan batalyon pasukan Pembela Tanah Air (PETA) Banyumas berkoordinasi. Mereka bersepakat berpihak kepada Indonesia.

Bung Karno, seturut Tjokropranolo, kala itu menjadi shodanco atau komandan peleton di yugeki (daerah gerilya) Salatiga dalam Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia, sebagai presiden memutuskan untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR).

PETA

Seluruh pemuda, PETA, HEIHO, Seinendan, Kaigun, KNIL, dan lainnya bergabung pada BKR di daerah masing-masing daerah dan menjadikan badan perjuangan tersebut sebagai perjuangan bersenjata untuk menegakan kedaulatan Republik Indonesia.

Di Kroya, Cilacap, Jawa Tengah, Soedirman selaku Daidan PETA bertemu Shodanco Yasir Hadbroto dan meminta para perwira PETA berkumpul. “Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa daidan di Kroya sudah dibubarkan Jepang sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945,” tulis Brigjen TNI Agus Gunaidi Pribadi pada Mengikuti Jejak Panglima Besar Jenderal Soedirman, Pahlawan Pembela Kemerdekaan 1916-1950. Mereka lantas membentuk BKR.

Berbekal hasil perundingan tersebut, Soedirman bertandang ke Purwokerto untuk berkoordinasi dengan para perwira PETA di antero Banyumas. Pembahasan lalu berlanjut untuk melucuti senjata tentara Jepang.

PETA

“Di Banyumas, di bawah pimpinan Daidancho Soedirman, selaku kepala BKR, usaha untuk mendapatkan senjata dari pihak Jepang dilakukan dengan pendekatan atau jalan diplomasi,” ungkap Tjokropranolo.

Residen Ishak Tjokroadisurjo, Residen Banyumas, selaku pemimpin delegasi, dan Soedirman sebagai juru runding menemui komanda pasukan Jepang, Saburo Tamura dan Iwashige di Banyumas. Posisi Jepang sudah terpojok. Di berbagai daerah, insiden-insiden kecil memakan korban jiwa sempat terjadi kala badan-badan perjuangan melucuti senjata Jepang.

Komandan Jepang di Banyumas pun angkat bendera putih dan menyerahkan seluruh persenjataan. “Jumlah perlengkapan dan persenjataan yang berhasil diperoleh BKR Banyumas dari Jepang adalah cukup untuk menyusun satu resimen tempur sederhana,” terang Tjokropranolo.

BKR
Latihan Badan Keamanan Rakyat. (zonaunik)

Selama proses penyerahan senjata tentara Jepang, Soedirman tak pernah pulang. Dia harus tinggal dan tidur di markas untuk mengatur segala bentuk penugasan BKR.

Setelah dua bulan mengampu tugas menjadi pemimpin BKR Banyumas, dan berhasil melakukan peluncutan senjata Jepang tanpa kontak senjata, Pada 5 Oktober 1945, setelah keluar Maklumat Nomor 2/X/45 mengubah BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Soedirman terpilih menjadi Komandan Resimen I Divisi V TKR Banyumas, dengan pangkat Letnan Kolonel. Selanjutnya, Kepala Staf Oemoem (KSO) Oerip Soemohardjo mengangkat Soedirman sebagai Panglima Divisi V TKR Banyumas dengan kenaikan pangkat menjadi Kolonel. (*)

Sahabat MP, jangan lupa baca artikel seru terkait Jenderal Soedirman berikut ini:

Sekolah Ditutup Tak Lagi Jadi Guru, Soedirman Beroleh Didikan Militer Jepang (8)

Kisah Cinta Soedirman, Adik Kelas Berujung Pelaminan (7)

Tak Bermimpi Jadi Jenderal Besar, Soedirman Hanya Bercita-Cita Jadi Guru (6)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH