Laporan Khusus Jenderal Soedirman
Sekolah Ditutup Tak Lagi Jadi Guru, Soedirman Beroleh Didikan Militer Jepang (8) Sodirman di hadapan para pasukan. (Foto: Mengikuti Jejak Panglima Besar)

PADA September 1943, keadaan Indonesia kembali mencekam. Kedatangan Jepang ke tanah air membuat beberapa sekolah ditutup, termasuk tempat Soedirman mengajar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah Cilacap.

Sebelum ikut berperang bersama para pejuang kemerdekaan, Soedirman merupakan guru dan sekaligus Kepala Sekolah HIS Muhammadiyah. Bhaktinya di dunia pendidikan harus terhenti karena Pemerintah Pendudukan Jepang menghentikan seluruh kegiatan berkaitan dengan Eropa, kebarat-baratan, termasuk sekolah-sekolah Belanda. Jepang membuat Tentara ke-16 dengan melibatkan rakyat di Pulau Jawa untuk mendukung usaha perang melawan Belanda.

Seperti diberitakan koran Asia Raya, terbitan 13 September 1943, Jepang berkeinginan membentuk tentara sukarela untuk kepentingan para penduduk mengamankan Pula Jawa. "Segera membentuk tentara sukarela, bukan wajib militer, melainkan tentara yang akan membela pulau Jawa".

PETA

Badan intelijen militer Jepang diberi tugas untuk memperoleh dukungan penuh rakyat Jawa. Karena itu, 'tentara' yang akan dibentuk harus didukung penuh oleh tokoh-tokoh terkemuka khususnya para ulama.

Gayung pun bersambut. Pada 3 Oktober 1943, Jepang yang didukung ulama dan rakyat Jawa meresmikan terbentuknya Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Bo-ei Gyugun Kanbu Rensei-tai) disingkat Peta di Bogor.

Kemudian, untuk jabatan komandan batalyon (Daidan-co) diisi dari kalangan ulama, sedangkan untuk jabatan komandan kompi dan peleton (chodan-co dan shudan-co), direkrut dari pemuda berlatar belakang anak-anak priyai dan eks-pegawai pemerintah.

Untuk para bintara (budan-co) diambill dari pemuda muslim, bahkan panji-panji tentara Peta (daidan-co) harus berjiwa Islam. Hal itu digambarkan dengan simbol bulan-bintang putih di atas dasar merah.

PETA
Museum PETA Bogor, bekas pelatihan PETA tempat Soedirman menuntut ilmu militer.

Soedirman sebagai tokoh masyarakat ditunjuk dan kemudian terpilih untuk mengikuti latihan perwira tentara Peta angkatan kedua di Bogor.

Keseluruhan pendidikan para calon perwira Peta itu secara administratif dimasukkan ke dalam Yamaguchi Rensetai atau resimen di bawah pimpinan Kolonel Yamaguchi Taisha, sedang pimpinan sehari-hari dipegang oleh Maruzaki Tai'i dari Sambo atau General Staf.

Dalam pendidikan Peta, Soedirman mendapatkan wadah dan sarana yang cocok untuk menumbuhkembangkan bakat dan jiwa kemiliterannya. Soedirman mengikuti pendidikan Peta selama 4 bulan, selanjutknya setelah kembali ke daerah masing-masing mereka ditugasi untuk membentuk dan memimpin barisan Peta.

Di Cilacap, Soedirman ditugasi untuk membentuk Daidan Peta. Di Banyumas ada 4 Daidan, yaitu Daidan I di Cilacap, Daidan II di Sumpyuh, Daidan III di Kroya, dan Daidan IV di Banyumas.

PETA

Soedirman ditugasi di Kroya tempatnya di Desar Karangmangu, sebagai komandan batalyon (Daidan-co) Soedirman didampingi seorang perwira Jepang, bernama Letnan Fujita sebagai pengawas dan Penasehat Teknis Kemiliteran.

Sebagai komandan, Soedirman sangat dicintai oleh bawahannya karena ia sangat memerhatikan kesejahteraan mereka. Ia tidak takut menentang perlakuan buruk opsir-opsir Jepang, yang menjadi pelatih dan pengawas batalyonnya.

Sesudah terjadi pemberontakan Tentara Peta Blitar pada Februari 1945, Jepang mengadakan observasi terhadap para perwira Peta. Mereka yang bersikap melawan (recalcitrant), dikategorikan berbahaya.

Pada Juli 1945, Soedirman dan beberapa orang perwira Peta lainnya yang termasuk kategori 'berbahaya' dipanggil ke Bogor dengan alasan akan mendapat latihan lanjutan.

Sekalipun mereka sudah berada di Bogor 'Pelatihan Lanjutan' dibatalkan, karena tanggal 14 Agustus 1945 Jepang sudah menyerah kepada sekutu. Sesudah itu, Soedirman dan kawan-kawannya kembali lagi ke daidan masing-masing. (*) Noer Ardiansjah

Sahabat MP, jangan lupa baca artikel seru lainya tentang Jenderal Soedirman berikut:

Kisah Cinta Soedirman, Adik Kelas Berujung Pelaminan (7)

Tak Bermimpi Jadi Jenderal Besar, Soedirman Hanya Bercita-Cita Jadi Guru (6)

Infografis: Fakta-Fakta Jenderal Soodirman, Harus Banget Kamu Ketahui (5)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Aroma Kayu Manis yang Menambah Selera
Kuliner
Aroma Kayu Manis yang Menambah Selera

Dengan tambahan kayu manis, seluruh ruangan akan berbau seperti roti dan kue.

Belum Kenyang Kalau Belum Makan Nasi
Kuliner
Belum Kenyang Kalau Belum Makan Nasi

Nasi punya kandungan glikemik yang menggambarkan seberapa cepat karbohidrat diubah menjadi gula oleh tubuh manusia.

Berburu Foto Instagramable di Hutan Pinus Pengger Bersama Travel Trip
Travel
Berburu Foto Instagramable di Hutan Pinus Pengger Bersama Travel Trip

Kawasan Wisata Pinus Pangger sangat dikenal dengan keindahan alamnya yang asri.

Lakon Sejarah Dakon, Permainan Tradisional Paling Populer Saat Ramadan
Tradisi
Bangkitkan Pariwisata Indonesia Bersama Gerakan Kembali Berwisata
Indonesiaku
Bangkitkan Pariwisata Indonesia Bersama Gerakan Kembali Berwisata

Trip pertama menuju Pulau Pahawang, Lampung

BOP Kawasan Pariwisata Labuan Bajo Flores dapat Penolakan
Travel
BOP Kawasan Pariwisata Labuan Bajo Flores dapat Penolakan

Guna menyebarkan penolakan ini, Forum Masyarakat Penyelamat Wisata Manggarai juga membuat kampanye di situs change.org.

Super Sejuk dan Instagrammable, 5 Penginapan Rumah Bambu di Bali
Travel
Cascara Hasil Fermentasi Kopi
Kuliner
Cascara Hasil Fermentasi Kopi

Dari aromanya, persis wine.

Goa Pindul dibuka Terbatas, ini Persyaratan Wisata ke Sana
Travel
Goa Pindul dibuka Terbatas, ini Persyaratan Wisata ke Sana

Sebelum datang ke lokasi, Pengunjung diarahkan untuk mengisi data pribadi menggunakan aplikasi Visiting Jogja.

Mengenang Pemilik Gudeg Legendaris di Yogyakarta
Indonesiaku
Mengenang Pemilik Gudeg Legendaris di Yogyakarta

Mbah Lindu telah berjualan sejak umur 13 tahun di mana negara Indonesia belum merdeka.