Tak Bermimpi Jadi Jenderal Besar, Soedirman Hanya Bercita-Cita Jadi Guru (6) Soedirman semasa remaja dituding tanda panah. ((Foto: Mengikuti Jejak Panglima Besar)

TIDAK selamanya kisah Soedirman tentang dunia militer. Tersua sisi-sisi lain tentang kehidupannya. Salah satunya, tentang cerita semasa sekolah.

Uniknya, sang panglima besar nan menentang aksi polisionil Belanda, sempat mencecap pendidikan ala Belanda. Lalu bagaimana kisah awal mula pemahaman tentang nasionalisme tumbuh pada dirinya?

Cerita Soedirman Semasa Sekolah

Sedari bayi, Soedirman telah diangkat anak oleh pamannya, R Tjokrosoenarjo, Asisten Wedana Bodas Karangjati. Melalui jalur tersebut, anak seorang ambtenaar, dia bisa menempuh pendidikan Eropa pada Hollandsch-Inlandsche School (HIS) setara sekolah dasar tahun 1923.

Kemudian pada 1930 Soedirman lulus dari HIS, dan melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) setingkat sekolah menengah pertama, lalu pindah ke Parama Wiworotomo, Cilacap.

Pada masa itu merupakan momen penting bagi Soedirman. Di sekolah Wiworotomo, Soedirman mulai mendapatkan pemahaman nasionalisme dari para guru aktivis organisasi Boedi Oetomo, seperti Raden Soemojo dan Soewardjo Tirtosoepono.

Baca Juga: Kisah Jenderal Soedirman Kecil, Polemik Orang Tua Hingga Jajal Sekolah Eropa (3)

Baca Juga: Cara Jenderal Soedirman Melatih Ketahanan dan Kesetiaan (4)

Baca Juga: Infografis: Fakta-Fakta Jenderal Soedirman, Harus Banget Kamu Ketahui (5)

Menurut Agus Gunaedi Pribadi dalam buku Mengikuti Jejak Panglima Besar Jenderal Soedirman - Pahlawan Pembela Kemerdekaan 1916-1950 menyebutkan, setelah lulus dari Parama Wiworotomo tahun 1934, Soedirman diminta oleh Raden Mohammad Kholil, perintis HIS Muhammadiyah, Cilacap untuk menjadi guru.

Pilihan itu tidak keliru, karena Soedirman mempunyai jiwa dan bakat sebagai guru. "Namun, sebagai lulusan MULO tampaknya Soedirman belum memiliki kompetensi untuk menjadi guru," kata Agus dalam buku tersebut.

Meskipun pernah mengenyam pendidikan sekolah guru di HIS Muhammadiyah Solo, masih kata Agus, tetapi hanya sebentar karena kesulitan dana setelah ayahnya mangkat. Menyadari adanya kendala dan peluang yang ditawarkan Raden Mohammad Kholil, untuk mengatasi permasalahan itu Soedirman mengikuti les privat kepada guru-guru senior yang pernah mengajar di Perguruan Wiworotomo.

"Dengan keseriusan, ketekunan, dan ketabahannya dalam waktu singkat Soedirman mampu menguasai teori-teori dan praktik sebagaimana layaknya seorang guru yang mengajar di HIS pada zaman penjajahan Belanda," kata Agus.

Sebagai guru, sikap kebapakannya sangat menonjol. Walau usianya masih muda, ia bersikap tenang dan mencoba memberikan pelayanan atau bantuan bagi murid yang kesulitan. Sikap kasih sayang pun dicurahkan kepada murid-muridnya. "Karena itu, tidak mengherankan jika Soedirman juga sangat disenangi, dihormati, dan dikagumi anak didiknya," katanya.

Kemudian, atas prestasi dan jiwa kepemimpinan Soedirman selama di HIS Muhammadiyah, terpilih dan dipercaya menjadi kepala sekolah. Terpilihnya Soedirman sebagai Kepala Sekolah HIS Muhammadiyah, sejalan dengan pemikiran yang berkembang di lingkungan pimpinan organisasi Muhammadiyah Cilacap.

"Dukungan dan legalitas pada diri Soedirman menambah semangat dalam menjalankan peranannya di dunia pendidikan," katanya.

Meski demikian, pada awal pendudukan kolonial Jepang sekolah tersebut sempat ditutup. Pasalnya, pemerintahan penjajah itu menganggap jika terus dibiarkan, sekolah Muhammadiyah tempat Soedirman mengajar bisa menjadi berbahaya bagi Jepang.

"Namun, berkat perjuangan Soedirman sekolah tersebut akhirnya dibuka kembali," tandas Agus dalam buku Mengikuti Jejak Panglima Besar Jenderal Soedirman - Pahlawan Pembela Kemerdekaan 1916-1950. (Noer Ardiansjah/Bersambung)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH