Kisah Cinta Seribu Candi, Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso Instagram @michelleagatha

MerahPutih Budaya - Belakangan ini banyak meme yang menggambarkan perbedaan wanita zaman dulu dengan wanita zaman sekarang, wanita zaman sekarang hanya meminta perhatian dari lelakinya, tapi wanita zaman dulu minta dibuatkan seribu candi hanya dalam satu malam.

Meme ini mengingatkan kita pada sebuah lagenda Jawa kuno, yaitu kisah percitaan yang bertepuk sebelah tangan antara Roro Jonggrang dengan pangeran Bandung Bondowoso.

Dalam legenda, kisah cinta mereka dianggap sebagai asal muasal terbentuknya kompleks candi di Yogyakarta, yang dikenal dengan Candi Sewu, Candi Prambanan, Keraton Ratu Baka, dan arca Dewi Durga yang ditemukan di dalam candi Prambanan. Rara Jonggrang artinya adalah "dara (gadis) langsing".

Lalu siapakah Roro Jonggrang dan pangeran Bandung Bondowoso?

Alkisah hiduplah seorang pangeran yang sakti mandraguna bernama Bandung Bondowoso, sang pangeran adalah putra dari raja besar Damar Maya yang menguasai kerajaan Pengging.

Sayang seribu sayang kerajaan Pengging bermusuhan dengan kerajaan Baka yang dipimpin oleh seorang rasaksa bernama Prabu Baka, meski rasaksa, Prabu Baka memiliki seorang putri nan cantik jelita bernama Roro Jonggrang.

Dalam sebuah pertempuran antara kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka, sang Prabu Baka pun tewas dibunuh oleh Bandung Bondowoso, hingga kerajaan Baka pun dikuasainya.

Datanglah romobongan pangeran Bandung Bondowoso datang ke kerajaan baka, di sanalah ia melihat Roro Jonggrang dan terpikat akan kecantikannya dan ingin menikahinya.

Tapi Roro Jonggrang tentu tak sudi menikah dengan orang yang telah membunuh sang ayah, kemudian ia pun membuat tipu muslihat.

Karena Bandung Bondowoso terus membujuk dan memaksa, akhirnya sang putri bersedia dipersunting, namun dengan dua syarat yang mustahil untuk dikabulkan. Syarat pertama adalah pembuatan sumur yang dinamakan sumur Jalatunda. Syarat kedua adalah pembangunan seribu candi hanya dalam waktu satu malam. Bandung Bondowoso menyanggupi kedua syarat tersebut.

Sang pangeran berhasil menyelesaikan sumur Jalatunda berkat kesaktiannya. Setelah sumur selesai, Rara Jonggrang berusaha memperdaya sang pangeran agar bersedia turun ke dalam sumur dan memeriksanya. Setelah Bandung Bondowoso turun, sang putri memerintahkan Gupala untuk menutup dan menimbun sumur dengan batu. Akan tetapi, Bandung Bondowoso berhasil keluar dengan cara mendobrak timbunan batu berkat kesaktiannya. Bondowoso sempat marah, namun segera tenang karena kecantikan dan bujuk rayu sang putri.

Untuk mewujudkan syarat kedua, sang pangeran memanggil makhluk halus, jin, setan, dan dedemit dari perut Bumi. Dengan bantuan makhluk halus ini, sang pangeran berhasil menyelesaikan 999 candi. Ketika Rara Jonggrang mendengar kabar bahwa seribu candi sudah hampir rampung, sang putri berusaha menggagalkan tugas Bondowoso. Ia membangunkan dayang-dayang istana dan perempuan-perempuan desa untuk mulai menumbuk padi. Ia juga memerintahkan agar gundukan jerami dibakar di sisi timur.

Mengira bahwa pagi telah tiba dan sebentar lagi matahari akan terbit, para makhluk halus lari ketakutan bersembunyi masuk kembali ke perut Bumi. Akibatnya, hanya 999 candi yang berhasil dibangun sehingga usaha Bandung Bondowoso gagal. Setelah mengetahui bahwa semua itu adalah hasil kecurangan dan tipu muslihat Rara Jonggrang, Bandung Bondowoso amat murka dan mengutuk Rara Jonggrang agar menjadi batu. Sang putri berubah menjadi arca terindah untuk menggenapi candi terakhir.

Menurut kisah ini, situs Ratu Baka di dekat Prambanan adalah istana Prabu Baka, sedangkan 999 candi yang tidak rampung kini dikenal sebagai Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama di Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan tetap dikenang sebagai Lara Jonggrang yang berarti "gadis yang ramping".

Legenda ini adalah dongeng atau cerita rakyat yang menjelaskan asal mula yang ajaib dari situs-situs bersejarah di Jawa, yaitu Keraton Ratu Baka, Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama Prambanan. Meskipun candi-candi ini berasal dari abad ke-9, akan tetapi diduga dongeng ini disusun pada zaman yang kemudian yaitu zaman Kesultanan Mataram.

BACA JUGA:

  1. BPCB Yogyakarta Temukan Pagar Kuno Candi Prambanan
  2. Kampanyekan Cagar Budaya, BPCB Yogyakarta Manfaatkan Mobil Bioskop Keliling
  3. Pantai Ngedan Wisata Unik Gunungkidul Yogyakarta
  4. Goa Jomblang, Cahaya Surga di Yogyakarta
  5. Pesona Keindahan Pantai Drini Gunugkidul Yogyakarta


Ana Amalia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH