Yap Tjwan Bing, Anggota PPKI Keturunan Tionghoa Melalui rapat PPKI pula, dia ditunjuk sebagai anggota Komite Nasional Pusat sebagai badan pembantu Presiden yang berfungsi selayaknya parlemen. (Id.wikipedia.org/Rochelimit)

API berkobar melalap puluhan rumah, toko, dan properti milik orang Tionghoa di Bandung pada 10 Mei 1963. Pemiliknya telah menyelamatkan diri. Mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Hari itu, ribuan massa mengamuk, menjadikan orang Tionghoa sasaran kemarahan. Pangkalnya hanya keributan kecil antarmahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Keributan mahasiswa berubah jadi kerusuhan massal berbalut isu rasial.

Kemarahan massa tak pandang bulu. Rumah dan properti seorang keturunan Tionghoa yang pernah berjasa untuk kemerdekaan Republik Indonesia juga jadi sasaran.

Akibat kejadian itu, empunya rumah bersama istri dan anaknya yang tengah terserang virus folio mengungsi keluar negeri sampai akhir hayatnya. Dialah Yap Tjwan Bing, mantan anggota Panita Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Yap lahir di Solo pada 31 Oktober 1910. Ayahnya seorang pengusaha swasta yang moncer. Yap bersekolah dasar di Hollands Chineesche School (HCS), sekolah khusus keturunan Tionghoa. Meski begitu, pergaulan Yap dan keluarga dengan orang sekitarnya cukup cair. Entah itu dengan Jawa, sesama peranakan Tionghoa, atau keturunan Arab.

Yap kecil pandai berhitung dan menyukai cerita tentang tokoh pergerakan nasional. Di luar sekolah, dia hobi bermain seoak bola. Dia biasa bermain dari sore hingga senja. Kesehariannya membaur bersama orang sekitar. Termasuk memanjat pohon bersama-sama.

Baca juga:

Rusuh Rasial 10 Mei 1963 Terbesar di Bandung

yap tjwan bing
Ratusan massa mengamuk, menjadikan orang Tionghoa sasaran kemarahan di Bandung pada 10 Mei 1963. (Pexels/Dinul Hidayat)

Karakter ini terus berlanjut ketika Yap duduk di bangku Algemeene Middlebare School (AMS)-setara SMA-di Yogyakarta. Dia bergaul dengan pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan Pemuda Indonesia, Jong Java, Pemuda Sumatera, Jong Celebes, dan Sekar Rukun.

"Sebagai peranakan Cina, ia cukup luwes dalam pergaulan bahkan kadang-kadang menggunakan bahasa Jawa dan dengan lingkungan masyarakat Yogyakarta," kisah Darto Harnoko dalam Drs. Jap Tjwan Bing : Pelopor Pembaruan.

Setamas AMS, Yap meneruskan pendidikan di Amsterdam, Belanda. Dia mengambil jurusan farmasi. Di Belanda, Yap merapat bersama tokoh-tokoh mahasiswa nasionalis seperti Hatta, Sjahrir, dan Anwar Tjokroaminoto.

"Banyak pikiran tokoh tersebut mewarnai kehidupannya," lanjut Darto.

Yap berhasil menggondol gelar sarjana farmasi pada 1932. Dia pulang ke Hindia Belanda-nama lama Indonesia-dan membuka apotik di Cipaganti, Bandung.

Yap juga mulai tertarik dengan politik, menentang kolonialisme, dan mematangkan nasionalismenya. Orientasi nasionalismenya mengarah ke Indonesia. Ini berbeda dari dua orientasi lain kelompok Tionghoa yang ada saat itu : nasionalime ke negara Tiongkok dan Belanda.

Semasa pendudkan Jepang, Yap ikut menentang pendudukan tersebut. Bersama kawan-kawan keturunan Tionghoanya, dia bekerja sama dengan kelompok pemuda lain di Jawa Barat.

Pada 3 Juni 1945, Yap turut hadir dalam sebuah rapat kelompok pemuda untuk perlawanan terhadap Jepang di Jakarta. "Jap Tjwan Bing mengutarakan pendapatnya, bahwa para pemuda perlu mempunyai cita-citanya yaitu mencapai kemerdekaan tanah airnya secepatnya dengan kekuatan sendiri," urai Darto.

Baca juga:

Marga T, Kontribusi Penulis Keturunan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

jap tjwan bing anggota ppki
Yap seorang yang religius. (Farmasetika.com)

Rapat itu menghasilkan keputusan membentuk organisasi baru pemuda bernama Gerakan Angkatan Baru Indonesia. Nama-nama yang terlibat bersama Yap antara lain B.M. Diah (kelak menjadi pengetik naskah proklamasi), Sukarni, Sudiro (kelak menjadi walikota Jakarta), Sjarif Thayeb (kelak menjadi rektor UI), wikana, Chaerul Saleh, dan Asmara Hadi.

Menjelang kekalahannya atas Sekutu, Jepang membentuk PPKI pada 7 Agustus 1945. Sukarno terpilih sebagai ketuanya, sedangkan M. Hatta jadi wakilnya. Seluruh personilnya berjumlah 21 orang. Yap ikut terpilih sebagai personilnya, mewakili golongan peranakan.

Selama tiga hari rapat (18, 19, dan 22 Agustus 1945) di Gedung Pancasila, PPKI menetapkan Undang-Undang Dasar, merevisi Piagam Jakarta, mengangkat Sukarno dan Hatta sebagai presiden dan wakil presiden, membentuk Komite Nasional Pusat dan Daerah, membentuk delapan provinsi, menyusun kementerian dan departemen, dan mendirikan Badan Keamanan Rakyat.

Yap aktif di rapat-rapat PPKI yang membahas ekonomi dan keuangan. Melalui rapat PPKI pula, dia ditunjuk sebagai anggota Komite Nasional Pusat sebagai badan pembantu Presiden yang berfungsi selayaknya parlemen.

Ketika ibukota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta akibat serangan Belanda pada 1946, Yap mengikutinya. Dia menggalang dukungan masyarakat Tionghoa dari berbagai kelompok untuk membantu perjuangan Republik mempertahankan kemerdekaan. Dia menolak setiap usaha penggembosan Republik yang dilakukan berbagai pihak melalui pembentukan negara boneka.

Seusai pengakuan kedaulatan Indonesia dari Belanda pada 1949, Yap berjuang di parlemen melalui Partai Nasional Indonesia (PNI) hingga 1953. "Sejak itu Jap Tjwan Bing sudah tidak terdengar lagi dalam dunia percaturan politik," terang Darto.

Yap ternyata memilih panggung berbeda. Dia mulai aktif di organisasi pendidikan dan keagamaan. "Dia adalah anggota Dewan ITB, aktif dalam Gereja Kristen Indonesia, dan juga di organisasi Tionghoa pro-Republik, Chung Hua Chung Hui," sebut Mary F. Somers Heidhues dalam Archipel, Nomor 38, tahun 1989.

Mary juga menyebut Yap seorang yang religius. Dia tak pernah lupa berterimakasih pada gereja yang telah menghibur dan mendukungnya di segala kondisi. Dia juga memuji masyarakat Indonesia di Amerika Serikat yang telah membantunya melewati masa-masa sulit selama awal-awal tinggal di sana.

Yap wafat di Amerika Serikat 26 Januari 1988. Dia tak pernah pulang ke Indonesia, tapi hatinya selalu tertinggal di sini. Dia tak banyak mewariskan harta benda pada penerusnya. Warisan terbesarnya adalah amal perbuatannya untuk bangsa dan negara.

"A. H. Nasution (jenderal besar Indonesia-Red.) dan Sanusi Hardjadinata (tokoh pergerakan nasional Indonesia-Red.) mengatakan bahwa orang seperti Jap Tjwan Bing adalah orang yang mendambakan terwujudnya kesatuan bangsa tanpa melihat asal-usul rasnya, melainkan atas dasar pengabdiannya terhadap nusa dan bangsa," kenang Darto. (dru)

Baca juga:

Selisik Ritual Teh Pai Pernikahan Adat Tionghoa

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Mih Kocok Mang Dadeng, Legenda Kuliner di Kota Bandung
Kuliner
Mih Kocok Mang Dadeng, Legenda Kuliner di Kota Bandung

Mih Kocok Mang Dadeng ini terkenal dengan kelezatannya.

GELAR Cetak 100 Pegiat Literasi Perkuat Ekosistem Literasi Nasional
Hiburan & Gaya Hidup
GELAR Cetak 100 Pegiat Literasi Perkuat Ekosistem Literasi Nasional

Bertujuan mencetak 100 penggiat literasi serta meningkatkan keterampilan dan kemampuan membaca anak-anak.

Arsip Notaris Ungkap Kehidupan Orang Biasa di Batavia
Tradisi
Arsip Notaris Ungkap Kehidupan Orang Biasa di Batavia

Profesi ini sudah lama ada di dunia dan meninggalkan catatan penting tentang kehidupan manusia pada masa lampau.

Menjebak Diponegoro Lewat Undangan Damai Ramah-Tamah Hari Lebaran
Indonesiaku
Menjebak Diponegoro Lewat Undangan Damai Ramah-Tamah Hari Lebaran

Semula, Diponegoro enggan menjalin pembicaraan dengan seterunya lantaran ingin khusyuk menjalankan ibadah puasa Ramadan 1245 H.

Riwayat Miras Masa Kolonial
Tradisi
Riwayat Miras Masa Kolonial

Sebelum Holywings, kedai-kedai miras telah berdiri di Hindia Belanda

Jualain Camilan Khas Bangka Belitung Wajib Dicoba
Kuliner
Jualain Camilan Khas Bangka Belitung Wajib Dicoba

Belum ke Babel kalau enggak sempat icip-icip jajanan khasnya.

Bertahan Hidup di Kamp Cideng
Travel
Bertahan Hidup di Kamp Cideng

Makan kadal untuk bertahan hidup di penjara Jepang

Daerah Tujuan Wisata di Lampung Barat yang Wajib Dikunjungi
Travel
Daerah Tujuan Wisata di Lampung Barat yang Wajib Dikunjungi

Kabupaten Lampung Barat merupakan daerah tujuan pariwisata yang potensial.

5 Fakta Unik Pernikahan Kaesang-Erina
Tradisi
5 Fakta Unik Pernikahan Kaesang-Erina

Mengusung konsep Mataram Islam dan festival budaya, pernikahan Kaesang-Erina memiliki sederet fakta unik.

Berwisata Alam di Sekitar Jakarta
Travel
Berwisata Alam di Sekitar Jakarta

Simak yuk 8 tempat rekomendasi yang telah MerahPutih rangkum!