Tari Rampak Gedruk Buto, Gambaran Kemarahan Raksasa Tari Rampak Gedruk Buto ditampilkan sejumlah seniman pad Kamis (18/5) di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Foto: ANTARA/ Aditya Pradana Putra)

Tari Rampak Gedruk Buto, atau yang sering disebut sebagai Tari Rampak Buto, merupakan salah satu babak dari kesenian Jathilan, dengan penggunaan musik yang sama. Tarian ini berasal dari Kota Magelang dan berkembang di sejumlah daerah Jawa Tengah seperti Yogyakarta dan juga Semarang. Melalui gerakan hentakan kaki dan kelincahannya, tarian ini menggambarkan kemarahan raksasa atau buto, yang membuatnya nampak sehebat manusia.

Jathilan sendiri merupakan kesenian yang lama dikenal masyarakat Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah, yang juga dikenal dengan nama kuda lumping, kuda kepang atau jaran kepang. Secara kata, Jathilan berasal dari kalimat bahasa Jawa 'jaranne jan thil-thilan tenan', yang artinya 'kudanya benar-benar berjoget tidak beraturan'. Hal ini karena kesenian ini menggabungkan unsur magis dan para penarinya bisa kerasukan. Nah, tari rampak buto ada agar pertunjukan Jathilan lebih menari dan meriah.

Diperlukan kemampuan besar dalam menarikan Rampak Buto agar 'kemarahan' dan kelincahan sang raksasa bisa tergambarkan dengan baik. Selain itu, banyak perlengkapan kostum dan aksesoris yang harus dipersiapkan. Misalnya saja sayak atau krembyah-krembyah, bagian dari pakaian sang Buto, lalu sampur atau selendang, hiasan uncal, serta rambut sang buto. Rambut ini dibuat dari wol, bulu sapi, rami atau bahan sintesis. Kemudian ada buntal, kostum dengan bahan kain atau tameng dada, kerincing atau lonceng kecil yang ditalikan pada alas spons dan dipasang di kaki, serta topeng buto.

Dari kiri atas: sayak, sampur, uncal, rambut. Dari kiri bawah: buntal, kostum, kerincing, topeng (Foto: Blogspot Butowedhus)

Kata rampak sendiri berasal dari Bahasa Indonesia, serempak, yang berarti gabung atau bersama. Kesenian tarian Rampak Buto merupakan wujud eksplorasi dan pernyataan para pelaku seni untuk melestarikan kesenian. Tarian ini terinspirasi dari cerita perang Prabu Baka dan Babad Tanah Jawa. Tarian ini mengambil unsur 'garang' dari kemarahan sang buto serta unsur keindahan seni tradisional dan iringan alat musik tradisional.

Baca juga: Makna Di Balik Kalimat Hompimpa Alaium Gambreng



Irene Gianov

YOU MAY ALSO LIKE