Sering Dicela di Usia Muda Bisa Menyebabkan Depresi, Ini Cara Mengatasinya Atasi efek negatif bullying di usia muda (Foto: pixabay/fotorech)

MASA muda merupakan waktu dimana peralihan menuju dewasa. Semangat dan emosi yang kian berapi-api, terkadang membuat lupa jika telah melakukan hal yang negatif.

Salah satunya ialah mencela atau bullying pada seseorang. Tak banyak yang tahu, jika bullying ternyata dapat menyebabkan depresi.

Baca Juga:

Mandi Air Dingin Bisa Mencegah Depresi, Begini Penjelasan Ilmiahnya

Dilansir dari laman Alodokter, bullying atau perundungan merupakan sebuah perilaku intimidasi secara fisik maupun mental.

Dalam sebuah kasus, ada seorang anak muda yang memiliki depresi lantaran selalu di bully oleh temannya, sejak kelas 1 SD. Nahasnya, orang yang kerap membullynya di SD, satu sekolah ketika SMP. Banyak perubahan sifat dan karakter yang terjadi padanya, hingga mempengaruhi cara berfikirnya.

Melihat hal itu, tim alodokter pun berusaha memberikan solusi, seperti apa cara agar anak tersebut hidup normal seperti anak-anak lain.

Bullying bisa membahayakan kesehatan mental anak (Foto: pixabay/anemone123)

Menurut dr. Adhi Pasha, bullying bisa terjadi dimana saja dan kerap kali terjadi di lingkungan sekolah. Dalam hal ini, kondisi bully dapat menimbulkan efek negatif hingga dampak lebih berat pada korbannya.

Apalagi di era digital yang kian canggih saat ini. Bully tak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga bisa terjadi lewat media sosial.

Baca Juga:

Awas! Depresi Bisa Bikin Ukuran Otak Menyusut

Jika seseorang pernah mendapatkan perilaku demikian, perlu segera menceritakan hal itu pada orangtua maupun guru yang bisa dipercaya.

Tindakan bully wajib untuk dihentikan sesegera mungkin. Nantinya, pihak sekolah, orangtua pem-bully dan korban bullying perlu dipertemukan.

Di sini sang korban bullying juga perlu untuk lebih percaya diri, serta berani untuk melaporkan hal yang dialami pada pengajar di sekolah, saudara, maupun orangtua yang lebih tua agar mendapat perlindungan. Jika merasa takut, bisa melaporkannya dengan bercerita lewat email atau chat pada orangtua dan guru.

Apabila masih merasa takut untuk kembali ke sekolah, ceritakanlah hal tersebut pada orangtua. Agar nantinya bisa dilajukan wawancara dan konseling. Dengan begitu si korban bisa mengatasi kembali hidup tanpa rasa takut akan bully.

Orang tua harus peka terhadap perubahal perilaku sang anak, karena bisa jadi merupakan korban bullying (Foto: pixabay/artwithtammy)

Selain itu, bisa juga dibicarakan kepada orang tua, agar sang anak korban bullying memilih sekolah lain tanpa tindakan bullying. Dalam hal ini dukungan orang-orang terdekat sangatlah penting, guna membantu si korban agar dapat kembali bersekolah tanpa rasa takut.

Peran orangtua juga sangat penting, yakni melakukan pendekatan kepada anak. Apabila terlihat perilaku yang aneh pada anak, seperti halnya tak semangat berangkat ke sekolah, sebaiknya ditanyakan, karena bisa jadi si anak merupakan korban bullying. (Ryn)

Baca Juga:

3 Tren pada Generasi Milenial yang Seringkali Berujung pada Depresi

Kredit : raden_yusuf

Tags Artikel Ini

Raden Yusuf Nayamenggala

LAINNYA DARI MERAH PUTIH