Piercing dan Tato Dianggap Nakal? Ini Tanggapan Mike Marjinal Mike Marjinal, Piercing, dan Tato (Foto: MP/Rizki

KETIKA para pemerhati fenomena sosial diberkahi talenta musik ciamik, tak perlu heran saat karya-karyanya menyuarakan berbagai situasi sosial yang terjadi di masyarakat. Hal tersebut meliputi bidang kemanusiaan, hukum, keadilan, kaum pinggiran, sampai politik. Menjadi panutan bagi banyak orang, mereka adalah salah satu band punk paling berpengaruh di Indonesia, Marjinal.

Piercing dan Tato Dianggap Nakal? Ini Tanggapan Mike Marjinal
Marjinal saat tampil di Festival Hammersonic (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

Mulai berkarya sejak 1997, mereka tidak hanya mendukung keadilan sosial dari balik layar. Marjinal juga ikut bersama para pejuang keadilan. Lewat orasi maupun penampilan (musik), mereka sering berdiri di barisan terdepan saat ujuk rasa demi memperjuangkan hak individu atau kelompok yang diciderai.

Baca juga:

Hari Buruh Internasional, Mike Marjinal Jawab Pertanyaan Seputar Perburuhan di Indonesia

Mengangkat tema 'enggak nakal, enggak merdeka' Agustus ini, nampaknya sangat cocok untuk melakukan wawancara khusus dengan pentolan sekaligus vokalis Marjinal, Mike. Menanggapi stigma masyarakat terhadap piercing dan tato yang kerap dianggap sebagai sebuah 'kenakalan' oleh banyak masyarakat.

Tubuh penuh piercing dan tato seringkali dicap sebagai sesuatu yang nakal, berandalan, dan berbagai label negatif lainnya. Lantas, apakah menilai seseorang lewat penampilan merupakan hal benar dan mulia? Berikut perbincangan hangat merahputih.com dengan Mike menanggapi stigma piercing dan tato di Indonesia.

Bagaimana pendapat Mike tentang stigma piercing dan tato yang sering dikonotasikan sebagai hal negatif bagi sebagian orang?

Sebagian orang yang di maksud itu juga harus punya tanggung jawab. Baik sebagai masyarakat sosial, sebagai warga negara dan yang sadar-sadar harus di rasakan adalah sebagai dirinya, juga sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran. Menurut saya sederhana saja, ini cuma soal bagaimana cara menyikapi persoalan yang ada. Kalau berangkatnya dari aspek negatif semata, maka bisa di pastikan akan berakhir pada kesimpulan negatif, begitu pun sebaliknya.

Di sini kita semua bisa belajar ukuran atau level kecerdasan masyarakat yang ada di bangsa kita ini. Pemberian stigma pada seseorang ataupun kelompok yang ada di masyarakat sangat bertentangan dengan pandangan bangsa ini yang terangkum dalam Undang-Undang Dasar 1945, yang menjamin atas kemerdekaan sebagai warga negara.

Contoh, ada Undang-Undang berikut dengan turunannya yang mengatur soal kebebasan berekspresi, ada juga asas hukum praduga tak bersalah. Nah, kegemaran memberikan stigma negatif ini bertentangan dengan nilai-nilai kemanusian dan juga sebagai perbuatan melawan undang-undang dan hukum yang sah di bangsa ini.

Bagi saya, piercing dan tato selama tidak melanggar hukum dan berbuat hal yang merugikan di masyarakat, kenapa harus di salahkan? Justru seharusnya kita bangga sebagai bangsa. Piercing dan tato adalah bagian dari kekayaan kearifan lokal yang kita punya di bangsa tercinta kita ini.

Baca juga:

5 Stereotip 'Nakal' Tentang Tato yang Kini Sudah Tidak Relevan



Ananda Dimas Prasetya

LAINNYA DARI MERAH PUTIH