Lika-Liku Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Aceh Masjid Raya Baiturrahman (Instagram/ibnoesoan)

TANGGAL 26 Desember 2004 menjadi hari kelam bagi penduduk Ujung Barat Indonesia. Saat itu gulungan ombak setinggi 30 meter menghantam Aceh dan sekitarnya. Bencana ini juga menimpa negara Sri Langka, India dan Thailand.

Saking kuatnya bencana tersebut, sebuah Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung seberat 2.600 ton terseret hingga lima kilometer dari Pantai Ulee. Sebanyak 230 ribu - 280 ribu jiwa tewas. Tsunami juga menghancurkan hampir seluruh bangunan yang dilewatinya.

Namun, di tengah porak poranda bangunan dan para korban, terdapat sebuah masjid masih berdiri kokoh. Masjid Raya Baiturrahman ini bahkan menjadi tempat berlindung masyarakyat Aceh dari hantaman tsunami.

Banyak pendapat kokohnya bangunan ini merupakan bukti kekuasaan Allah Subhanahu Wa Taala. Namun, ada juga pihak lain mengatakan kalau konstruksi Masjid Raya Baiturrahman menjadi alasan mengapa bangunan ini tetap tegak berdiri.

Saksi bisu perjuangan rakyat Aceh

Masjid Raya Baiturrahman (Instagram/ramdani1807)
Masjid Raya Baiturrahman (Instagram/ramdani1807)

Masjid Raya Baiturrahman punya sejarah panjang. Masjid ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda di abad ke-16 tepatnya tahun 1612. Namun ada juga yang mengatakan kalau Masjid Raya Baiturrahman didirikan oleh Sultan Alauddin Johan Mahmudsyah tahun 1292.

Bangunan megah yang mirip Taj Mahal di India itu menjadi titik segala kegiatan di Aceh Darussalam. Bahkan banyak cendekiawan Muslim dari penjuru dunia yang datang ke masjid ini untuk belajar ilmu agama.

Pada tanggal 26 Maret 1873, Kerajaan Belanda menyatakan perang melawan Kesultanan Aceh. Johan Harmen Rudolf Köhler ditunjuk sebagai pimpinan tentara belanda untuk menyerang Aceh. Saat Köhler membawa 3.198 tentara. Namun, jumlah tersebut tak membuat pasukan Kesultanan Aceh gentar. Kesultanan Aceh menang dan berhasil membunuh Köhler.

Di masa-masa perang tersebut, masjid ini dipakai oleh pasukan Kesultanan Aceh untuk menyusun strategi dan taktik perang. Tercatat beberapa pahlawan asal Aceh seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien ikut mempertahankan Masjid Raya Baiturrahman.

Sempat dibakar oleh tentara Belanda

Masjid Raya Baiturrahman (Instagram/mertatristina)
Masjid Raya Baiturrahman (Instagram/mertatristina)

Pada peperangan kedua, Kesultanan Aceh berhasil dikalahkan Kerajaan Belanda. Pada tanggal 10 April 1873, tentara Belanda pimpinan Jenderal van Swieten berhasil membakar Masjid Raya Baiturrahman.

Namun pembakaran masjid yang sangat dibanggakan itu malah membuat warga Aceh semakin marah. Cut Nyak Dhien seorang putri terbaik Aceh berteriak dengan lantang di depan masjid. Ia membangkitkan semangat Aceh dengan mengumandangkan Jihad Fillsabilillah Bangsa Aceh.

Empat tahun berselang, Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali masjid yang telah dibakar oleh tentara Belanda. Pembangunan ini juga menjadi usaha Belanda untuk meredam kemarahar rakyat Aceh yang tak terima Masjid Raya Baiturrahman dibakar.

Pembangunan masjid berlangsung pada tahun 1879 hingga 1881 dengan arsitektur bergaya Moghul atau India. Di tahun 1935 masjid ini diperluas dengan menambah dua kubah. Kemudian tahun 1958 kembali diperluas lagi menjadi lima kubah dan dua menara di sisi barat. Terakhir tahun 1992 terdapat menambahan dua kubah, dan lima menara dan perluasan halaman masjid.

Sahabat Merah Putih, itulah perjalanan panjang Masjid Raya Baiturrahman. Masjid ini sangat layak dikunjungi saat bulan Ramadan. Selain artikel ini kamu juga bisa baca Masjid Menara Kudus, Saksi Bisu Dakwah Walisongo


Tags Artikel Ini

Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH