Masjid Menara Kudus, Saksi Bisu Dakwah Walisongo Masjid Menara Kudus (Instagram/nyitnyitt)

INDONESIA memiliki segudang masjid bersejarah. Beberapa diantaranya menjelaskan bagaimana masuk dan tersebarnya agama Rahmatan Lil 'Alamin ini ke tanah Nusantara.

Salah satunya, Masjid Menara Kudus atau biasa juga disebut sebagai Masjid Al Manar. Seperti namanya, masjid ini terletak di Kudus, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Kauman, Kecamatan Kota.

Meskipun Masjid Menara Kudus menjadi tempat ibadah umat Islam, bagunannya justru memiliki arsitektur percampuran budaya Hindu-Budha yang sebelumnya sudah lebih dulu ada di Tanah Jawa.

Akulturasi budaya Islam dengan Hindu-Budha

Masjid Menara Kudus (Instagram/annamkuwox)
Masjid Menara Kudus (Instagram/annamkuwox)

Bangunan ini pertama dibangun di tahun 956 Hijriah atau 1549 Masehi oleh Sunan Kudus putera dari R.Usman Haji yang bergelar Sunan Ngundung. Sunan Kudus menggunakan batu dari Masjid Al Aqsha sebagai batu pertama bangunan ini.

Masjid ini memiliki lima pintu sebelah kanan dan lima pintu sebelah kiri. Di area masjid juga terdapat pancuran wudhu berjumlah delapan buah dengan arca di atasnya. Konon jumlah delapat itu diadaptasi dari kepercayaan Budha yakni Delapan Jalan Kebenaran atau Asta Sanghika Marga.

Terdapat pula menara setinggi 18 meter dengan bagian dasarnya berukuran 10 x 10 meter. Di sekeliling menara dihiasi piring bergambar dengan jumlah 32 buah. Kaki dan badan menara diukur dengan tradisi Hindu-Budha.

Banyak versi tentang asal menara ini. Ada yang mengatakan kalau bangunan ini adalah bekas candi orang Hindu. Apalagi Menara Kudus sangat mirip dengan Candi Kidal dan Candi Singosari.

Cerita lainnya, dulu di bawah menara ada sumber mata air kehidupan. Jika ada makhluk hidup yang telah mati dimasukan ke dalam mata air itu, kama akan hidup kembali. Karena dikhawatirkan menjadi musyrik, maka mata air itu ditutup dengan sebuah menara.

Saksi bisu dakwah Walisongo

Menara Kudus (Instagram/doddy_syahdian)
Menara Kudus (Instagram/doddy_syahdian)

Masjid Menara Kudus juga menjadi saksi tentang bagaimana cara Sunan Kudus dalam berdakwah di Tanah Jawa. Menantu dari Sunan Bonang ini memang dikenal sebagai orang yang bijaksana.

Sunan Kudus punya caranya sendiri dalam berdakwah. Ia sengaja mencari empati dari masyarakat Kudus yang saat itu masih menganut agama Hindu.

Contohnya, Sunan Kudus memerintahkan untuk tidak memotong sapi dan menggantinya dengan kerbau. Seperti yang diketahui sapi menjadi salah satu hewan yanng disucikan oleh pemeluk agama Hindu.

Ia juga sengaja menaruh sapinya di halaman masjid untuk menadapatkan perhatian masyarakat. Usahanya berhasil, banyak orang tadang untuk mendengar ceramah mengenai Sapi Betina atau Al-Baqarah. Teknik dakwahnya adalah berseri sehingga membuat masyarakat menjadi penasaran dan kembali lagi datang ke masjid.

Bila Sahabat MP sedang berada di sekitar Demak, atau berencana berkunjung ke sana di masa Ramadan, Masjid Demak bisa jadi tujuanmu menanti waktu berbuka puasa. Selain ngabuburit, kamu juga bisa berziarah dan belajar sejarah penyebaran Islam dan jejak perjalanan Wali Songo. (*)

Selain artikel ini kamu juga bisa baca Arus Kisah Jami Al Makmur, Salah Satu Masjid Tertua Jakarta di Cikini Raya

Kredit : yani


Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH