Kesehatan

Perbedaan Pola Tidur dalam satu Pekan Pengaruhi Kesehatan Tubuh

Dwi AstariniDwi Astarini - Sabtu, 05 Agustus 2023
Perbedaan Pola Tidur dalam satu Pekan Pengaruhi Kesehatan Tubuh

Pola tidur yang sangat terganggu, terutama dalam kerja shift, diketahui berdampak negatif pada kesehatan. (Foto: freepik/tirachardz)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PERBEDAAN kecil dalam kebiasaan tidur antara hari kerja dan istirahat dapat menyebabkan perubahan yang tidak sehat pada bakteri di usus kita. Demikian terungkap dalam sebuah penelitian. Hal itu mungkin merupakan akibat dari orang-orang dengan 'jetlag sosial' yang memiliki pola makan yang sedikit lebih buruk. Demikian temuan para peneliti Inggris.

Pola tidur yang sangat terganggu, terutama dalam kerja shift, diketahui berdampak negatif pada kesehatan. Selain itu, menjaga waktu tidur dan waktu bangun yang konsisten serta mengonsumsi makanan yang seimbang juga dapat membantu mengurangi risiko penyakit.

BACA JUGA:

Tidur Bareng Boneka, Bikin Tidur Lebih Berkualitas

Studi terhadap hampir 1.000 orang dewasa oleh para ilmuwan Kings College London menemukan bahwa bahkan perbedaan 90 menit di titik tengah tidur malam kamu selama dalam kegiatan normal sepekan dapat memengaruhi jenis bakteri yang ditemukan di usus manusia.

usus
Memiliki berbagai spesies bakteri yang berbeda dalam sistem pencernaanmu sangat penting. (Foto: freepik/kjpargeter)

Memiliki berbagai spesies bakteri yang berbeda dalam sistem pencernaanmu sangat penting. Beberapa lebih baik dari yang lain, tetapi mendapatkan campuran yang tepat adalah kunci untuk mencegah sejumlah penyakit. "Jetlag sosial dapat mendorong spesies mikrobiota yang memiliki hubungan yang tidak menguntungkan dengan kesehatanmu," kata Kate Bermingham, penulis studi dan ilmuwan nutrisi senior di perusahaan ilmu kesehatan Zoe.

Tidur dan bangun pada waktu yang sangat berbeda selama seminggu jika dibandingkan dengan akhir pekan dikenal sebagai jetlag sosial. Diperkirakan, hal itu memengaruhi lebih dari 40 persen populasi Inggris. Fenomena itu paling umum terjadi pada remaja dan dewasa muda, kemudian berkurang seiring bertambahnya usia.

BACA JUGA:

Tidur Sambil Duduk, Bahaya Enggak Sih?

Peserta dalam penelitian yang diterbitkan European Journal of Nutrition itu dianalisis tidur dan darahnya. Sampel feses dikumpulkan dan dicatat semua yang mereka makan dalam kuesioner makanan. Mereka yang memiliki jetlag sosial (16 persen) lebih cenderung makan makanan yang sarat dengan kentang, termasuk keripik, ditambah minuman manis, dan lebih sedikit buah dan kacang.

Penelitian sebelumnya menunjukkan orang dengan jetlag sosial mengonsumsi lebih sedikit serat ketimbang mereka yang memiliki waktu tidur lebih konsisten. Studi lain menemukan jetlag sosial dikaitkan dengan penambahan berat badan, penyakit, dan kelelahan mental. "Kualitas tidur yang buruk memengaruhi pilihan, dan orang mendambakan makanan berkarbohidrat tinggi atau bergula," kata Bermingham seperti diberitakan BBC. Pola makan yang tidak sehat kemudian dapat memengaruhi kadar bakteri tertentu di usus.

pola makan sehat
Pola makan yang tidak sehat kemudian dapat memengaruhi kadar bakteri tertentu di usus. (Foto: freepik/freepik)

Para peneliti menemukan bahwa tiga dari enam spesies mikrobiota yang lebih banyak terdapat di usus kelompok jetlag sosial terkait dengan kualitas pola makan yang buruk, obesitas, dan tingkat peradangan serta risiko stroke yang lebih tinggi. Hubungan antara pola tidur, pola makan, dan bakteri usus rumit dan masih banyak yang harus diketahui.

Oleh karena itu, para peneliti menyarankan untuk menjaga konsistensi, jika bisa, selama seminggu. "Mempertahankan pola tidur yang teratur, jadi kapan kita pergi tidur dan kapan kita bangun setiap hari, adalah perilaku gaya hidup yang mudah disesuaikan yang dapat kita lakukan, yang dapat memengaruhi kesehatan melalui mikrobioma usus menjadi lebih baik," kata Dr Sarah Berry dari King's College London.

Lalu, bagaimana dengan pola makan yang sehat? Kamu disarankan untuk mencoba makan setidaknya lima porsi berbagai buah dan sayuran setiap hari. Pilih makanan pokok berserat tinggi seperti kentang, roti gandum, nasi atau pasta. Milikilah beberapa alternatif susu atau produk susu dan pilih yang rendah lemak atau rendah gula jika memungkinkan. Makanlah beberapa kacang, kacang-kacangan, ikan, telur, daging, dan protein lain. Pilih juga minyak tak jenuh dan olesan, dan makanlah dalam jumlah kecil. Terakhir, minumlah banyak cairan, setidaknya enam sampai delapan gelas sehari.(aru)

BACA JUGA:

Inemuri, Budaya Tidur Ala Jepang di Tempat Kerja

#Kesehatan
Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Love to read, enjoy writing, and so in to music.

Berita Terkait

Dunia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Perubahan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump meminta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) meninjau bagaimana negara-negara sejawat merekomendasikan vaksin.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
  AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Indonesia
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Pemerintah DKI telah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ihwal Super Flu ini.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Indonesia
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Dikhawatirkan, penyakit ini berdampak pada beban layanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Indonesia
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Indonesia
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Indonesia menjadi salah satu negara yang terpapar jenis virus ini.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Lifestyle
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Siloam Hospitals Kebon Jeruk memiliki dan mengoperasikan tiga sistem robotik, yakni Da Vinci Xi (urologi, ginekologi, bedah digestif, dan bedah umum), Biobot MonaLisa (khusus diagnostik kanker prostat presisi tinggi), dan ROSA (ortopedi total knee replacement).
Dwi Astarini - Jumat, 19 Desember 2025
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Indonesia
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Pemkot segera mulai menyiapkan kebutuhan tenaga medis, mulai dari dokter hingga perawat.
Dwi Astarini - Senin, 24 November 2025
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Indonesia
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya
emerintah memberikan kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan penghapusan tunggakan iuran sehingga mereka bisa kembali aktif menikmati layanan kesehatan.
Dwi Astarini - Rabu, 19 November 2025
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya
Berita Foto
Prodia Hadirkan PCMC sebagai Layanan Multiomics Berbasis Mass Spectrometry
Direktur Utama PT Prodia Widyahusada memotong tumpeng bersama Komisaris Utama PT Prodia Widyahusada, Andi Widjaja saat peresmian PCMC di Jakarta.
Didik Setiawan - Sabtu, 15 November 2025
Prodia Hadirkan PCMC sebagai Layanan Multiomics Berbasis Mass Spectrometry
Indonesia
Senang Ada Temuan Kasus Tb, Wamenkes: Bisa Langsung Diobati
Kemenkes menargetkan hingga akhir tahun ini bisa mengobati 900 ribu orang yang terkena Tb.
Dwi Astarini - Kamis, 13 November 2025
Senang Ada Temuan Kasus Tb, Wamenkes: Bisa Langsung Diobati
Bagikan