Pentingnya Frekuensi Bercinta Agar Menjadi Aktivitas Sehat Frekuensi bercinta harus diatur (Foto: Pexels/Inna Lesyk)

MAU pengantin baru atau pengantin lama, bercinta memang menjadi aktivitas paling ditunggu-tunggu. Keinginan bercinta setiap pasangan selalu menggebu-gebu. Apalagi bagi pengantin baru. Pertanyaannya apakah frekuensi sebanyak itu normal-normal saja?

Laman Go Dok mencoba menjelaskan hal ini. Dalam seminggu sebenarnya ada frekuensi standar berhubungan seks yang bisa dilakukan pasangan. Intinya jangan kurang, dan jangan juga berlebihan. Jadi berhubungan seks juga harus menjadi suatu kegiatan yang 'sehat'.

1. Bercinta bisa dibilang sehat asal sama-sama mau

Seks harus sama-sama mau, jangan dipaksa(Foto: Pexels/Pixabay)

Meskipun sudah resmi jadi sepasang suami istri, pasti ada waktunya salah satu pihak enggak mau berhubungan seks. Entah karena sedang kelelahan atau enggak memiliki mood. Seks bisa dikatakan sehat kalau ada persetujuan dari kedua pihak, jadi enggak ada paksaan tanpa menyakiti salah satu dari kedua insan yang melakukannya. Berhubungan seks yang sehat seperti ini akan mendapatkan manfaatnya yaitu mendapatkan kesehatan mental, fisik, dan bahkan memperpanjang usia.

2. Frekuensi hubungan seks yang sehat enggak memiliki takaran pasti

Enggak ada frekuensi pasti dalam berhubungan seks (Foto: Pexels/Pixabay)

Enggak ada frekuensi yang pasti dalam berhubungan seks. Data yang ada menyajikan frekuensi seks dengan jumlah rata-rata. Untuk pasangan berusia 18-29 tahun bisa berhubungan seks 110 kali dalam setahun atau 3-4 kali dalam seminggu. Sementara pasangan berusia 30-40 tahun menikmati percintaan sekitar 54 kali dalam setahun atau 1-2 kali dalam seminggu.

Sebenarnya kuantitas hubungan seks enggak mempengaruhi manfaat dari seks yang kamu dapat. Kualitas lah yang penting. Ada yang puas berhubungan seks 1-2 kali dalam seminggu, ada juga pasangan yang tetap sehat prima walaupun berhubungan seks sampai 4-5 kali dalam seminggu.

Perlu diingat, jangan pernah mematok mau berhubungan seks berapa kali dalam seminggu. Hal ini akan memberatkan perempuan, yang memiliki siklus menstruasi, masa kehamilan, menyusui, serta menopause. Jadi, akan lebih baik jika kamu melakukannya kapanpun selama kedua belah pihak nyaman dan enggak merasa sakit.

Meski begitu, suatu penelitian yang melibatkan lebih dari 50 pasang mahasiswa (awal 20 tahun) menemukan bahwa mereka yang menjalani hubungan seksual sebanyak 1 -2 kali dalam seminggu memiliki level immunoglobin A (IgA) 30% lebih tinggi dibandingkan yang melakukannya lebih banyak atau tidak sama sekali.

3. Seks menjadi enggak sehat jika sudah mengganggu aktivitas harian

Seks enggak sehat kalau sampai mengganggu aktivitas harian (Foto: Pexels/Zun Zun)

Menurut dr. Laurie Mintz, Ph.D., seorang kontributor masalah hubungan seksual di Psychology Today, frekuensi berhubungan seksual mulai enggak sehat saat mengganggu aktivitas harian. Saat aktivitas seksual mulai mengganggu waktu makan, tidur, sekolah, kuliah, bahkan bekerja, membuat hubungan seks dapat dikatakan sudah enggak sehat. Jika mengalami hal ini kamu harus mulai mengimbangi kehidupan harian kamu dengan kehidupan diatas ranjang. Jangan sampai hidup kamu hanya bergantung dengan seks. (ikh)

Baca juga: Ingat, Seks Terbaik adalah yang Terjadwal!

Kredit : digdo


Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH