Pemekaran Provinsi Diharapkan Percepat Kesejahteraan Orang Asli Papua Wakil Ketua Komisi II DPR RI Saan Mustopa. (Foto: DPR RI)

MerahPutih.com- Pemekaran daerah di Papua masih dalam pembahasan. Kebijakan Otonomi Khusus Papua ditujukan untuk mempercepat pemerataan pembangunan, mempercepat peningkatan pelayanan publik.

Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Saan Mustopa mengatakan, otonomi khusus ini untuk mempercepat kesejahteraan masyarakat dan mengangkat harkat martabat Orang Asli Papua.

Baca Juga:

Kapolda Papua Pastikan 2 Senjata Brimob di Tangan KKB Nduga

Tentunya, dengan memperhatikan aspek politik, administratif, hukum, kesatuan sosial budaya, kesiapan SDM, infrastruktur dasar, kemampuan ekonomi, perkembangan pada masa yang akan datang dan aspirasi masyarakat Papua.

Menurut Saan, hal yang terpenting dari pemekaran daerah provinsi di Provinsi Papua merupakan salah satu wujud implementasi dari otonomi daerah. Sehingga mampu menjamin hubungan yang serasi antara daerah dengan Pemerintah Pusat.

"Serta, dapat memelihara dan menjaga keutuhan wilayah negara dan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam rangka mewujudkan tujuan negara,” ujar Politisi Fraksi Partai NasDem itu yang dikutip, Rabu (22/6).

Menurut Saan, tiga RUU Pemekaran daerah Provinsi Papua yang akan dibahas saat ini antara Komisi II DPR RI dengan Pemerintah.

Yakni satu pembentukan RUU tentang Provinsi Papua Selatan, dua RUU Pembentukan Provinsi Papua Tengah, dan RUU Pembentukan Provinsi Papua Pegunungan Tengah.

Sedangkan RUU Pembentukan Provinsi Papua Barat Daya akan diajukan ke Bamus DPR RI untuk diagendakan dalam Rapat Paripurna DPR RI sebagai usul inisiatif DPR RI.

Oleh karena itu, Komisi II mengajukan RUU Pembentukan Provinsi Papua Selatan, RUU Pembentukan Provinsi Papua Tengah, dan RUU Pembentukan Provinsi Papua Pegunungan Tengah ini sebagai RUU inisiatif DPR.

Baca Juga:

Pemekaran Daerah Otonomi Papua Dinilai Perlu Dilakukan meski Tuai Kontroversi

Ini sesuai Pasal 21 UUD 1945 dan telah memenuhi syarat sebagaimana diatur Pasal 101 ayat 3 dan Pasal 112 ayat 1, ayat 2 dan ayat 3 tatib DPR RI.

Termasuk Pasal 10 Peraturan DPR RI tentang cara mempersiapkan tiga RUU Pembentukan Provinsi di Papua juga telah memenuhi syarat untuk diajukan.

"Karena sesuai ketentuan Pasal 16, Pasal 23 ayat 1 UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan mengenai kumulatif terbuka,” jelas Saan.

Ketua Komisi II DPR RI, Ahmad Doli Kurnia menyampaikan, Komisi II menargetkan Pembahasan Tiga Rancangan Undang-Undang (RUU) Pembentukan Tiga Provinsi di Papua selesai pada 30 Juni 2022.

"Kami sudah susun jadwal pembahasan RUU, dan tanggal 30 Juni 2022 ada Rapat Paripurna sehingga diharapkan pembahasan RUU ini bisa selesai sebelum tanggal 30 Juni 2022," papar Ahmad Doli.

Dia mengungkapkan, Komisi II secara resmi telah membentuk Panja Pembahasan Tiga RUU Pembentukan Provinsi di Papua. Sehingga, diharapkan para Kepala Kelompok Fraksi (Kapoksi) segera melengkapi daftar nama anggotanya untuk dimasukkan dalam keanggotaan panja.

Doli menjelaskan, Komisi II DPR mulai membahas RUU tersebut pada Rabu (22/6) dan akan menyerap aspirasi masyarakat Papua hingga Minggu (26/6).

Doli menjabarkan, Komisi II menargetkan finalisasi RUU tersebut dilaksanakan Senin-Rabu (27-29 Juni) sehingga pada Kamis (30/6) bisa dibawa dalam Rapat Paripurna DPR untuk diambil keputusan disetujui menjadi undang-undang. (Knu)

Baca Juga:

KKB Tembaki Pesawat Sam Air di Bandara Kenyam Papua

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Tambah Lagi, Kasus COVID-19 Melonjak hingga 46.843 Hari Ini
Indonesia
Tambah Lagi, Kasus COVID-19 Melonjak hingga 46.843 Hari Ini

Peningkatan COVID-19 akibat penyebaran varian Omicron semakin tinggi.

Polisi Tangkap Seorang Pria Hendak Bakar SPBU
Indonesia
Polisi Tangkap Seorang Pria Hendak Bakar SPBU

Seorang pria paruh baya diduga hendak membakar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Tangkil yang berada Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat pada Kamis (8/9).

8 Fraksi di Parlemen Minta MK Tolak Gugatan Sistem Proporsional Tertutup
Indonesia
8 Fraksi di Parlemen Minta MK Tolak Gugatan Sistem Proporsional Tertutup

Mereka mendesak MK menolak gugatan terkait UU Pemilu tersebut.

Tingginya Kans Ganjar di Pilpres 2024 Tak Buat PDIP Tergoda
Indonesia
Tingginya Kans Ganjar di Pilpres 2024 Tak Buat PDIP Tergoda

Belum jelas apakah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) akan mengusung kadernya itu atau tidak.

Persis Kalah dari PSIS, Gibran Harap Laga Selanjutnya Menang
Olahraga
Persis Kalah dari PSIS, Gibran Harap Laga Selanjutnya Menang

"Sesok kudu menang (besok harus menang), suporter bagus dan kompak semua," kata Gibran, Selasa (21/6).

Angka COVID-19 Naik, Penumpang KRL Alami Penurunan
Indonesia
Angka COVID-19 Naik, Penumpang KRL Alami Penurunan

KAI siap mengikuti dan mematuhi kebijakan pemerintah

Cegah Korban Berulang, DPR Setuju Tambah Anggaran Pemilu 2024
Indonesia
Cegah Korban Berulang, DPR Setuju Tambah Anggaran Pemilu 2024

Komisi II DPR RI memutuskan menyetujui penambahan anggaran untuk KPU sebesar Rp 7 triliun dan untuk Bawaslu sebesar Rp 6 triliun.

PSSI Lakukan Lobi Agar Indonesia Terhindar Sanksi FIFA
Indonesia
PSSI Lakukan Lobi Agar Indonesia Terhindar Sanksi FIFA

Tragedi ini dikabarkan telah merenggut 130 nyawa versi Kementerian Koordinator Manusia dan Kebudayaan. Sedangkan BPBD Jawa Timur mencatat 174 korban jiwa per Minggu (2/10).

Respons AHY saat Ditanya Peluang Koalisi dengan NasDem
Indonesia
Respons AHY saat Ditanya Peluang Koalisi dengan NasDem

"Sangat terbuka, sangat terbuka (koalisi dengan Partai Nasdem di Pemilu 2024)," kata AHY di DPP Partai Nasdem.

Partai Baru Minta Diberikan Kemudahan Saat Verifikasi Parpol
Indonesia
Partai Baru Minta Diberikan Kemudahan Saat Verifikasi Parpol

PU menggunakan Metode Krejcie dan Morgan yang dinilai memberatkan bagi partai nonparlemen maupun partai baru.