Nyimas Gamparan Srikandi Perang Cikande Sisa-sisa reruntuhan bangunan Kesultanan Banten. (Foto: MerahPutih/Ctr)

MerahPutih Nasional - Tak banyak yang mengenal sepak terjang Wanita dari Banten yang berani menghadapi kebengisan penjajah pada saat itu. Namun ada sosok wanita menginspirasi yakni Nyimas Gamparan, ia merupakan wanita anggota kesultanan Banten yang melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda lantaran pihak Belanda dianggap menginjak- injak sejarah leluhur dengan dihapusnya sistem kesultanan Banten

Hal itu diungkapkan oleh sosok Bantenologi Mufti Ali belum lama ini dalam waancaranya dengan merahputih.com.

"Nyimas Gamparan adalah perempuan perkasa yang merupakan salah satu anggota keluarga Kesultanan Banten. Pasca dihapuskannya Kesultanan Banten pada 1813 pada era Sultan Muhammad Syafiudin, keluarga kesultanan Banten melakukan diaspora atau menyebar ke berbagai wilayah, bahkan keluar pulau Jawa dengan dendam membara atas penghapusan kesultanan," jelas Mufti Ali.

Dijelaskan pula oleh Mufti Ali, bahwa Nyimas Gamparan akhirnya memutuskan kembali ke tanah leluhurnya untuk memberikan perlawanan terhadap kolonial Belanda.

Mufti Ali mengatakan, "Nyimas Gamparan kembali ke Banten dengan menyamar sebagai rakyat jelata, dan secara diam-diam memobilisasi massa untuk melawan Belanda," tutur Mufti.

Nyimas Gamparan dengan tegas menolak Cultuurstelsel atau tanam paksa yang diterapkan oleh Gubernur Jenderal van den Bosch.

Kebijakan keji tanam paksa tersebut mewajibkan setiap desa menyisihkan sedikitnya persen tanah milik penduduk untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, teh, lada, kina, dan tembakau.

Tak tahan akan penderitaan itu membuat Nyimas Gamparan mengumandangkan perang Cikande, yang terjadi sekitar tahun 1829 hingga 1830. Nyimas Gamparan pun dengan gagah memimpin puluhan pendekar wanita untuk melawan Belanda.

Dengan menggunakan taktik perang gerilya untuk menghadapi pasukan Belanda, Serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Nyimas Gamparan dan puluhan prajurit wanitanya membuat kewalahan pasukan VOC dan banyak mengalami kerugian.

Berbagai cara pun dilakukan untuk menumpas pasukan Nyimas Gamparan termasuk menjalankan politik devide et impera.

Pihak VOC pun melirik Raden Tumenggung Kartanata Nagara yang menjadi Demang di wilayah Jasinga, Bogor untuk menumpas para milisi yang tergabung di bawah pimpinan Nyimas Gamparan. Tumenggung Kartanata dijanjikan akan dijadikan penguasa di daerah Rangkasbitung.

Iming-iming kekuasaan dari pihak kolonial tersebut disambut baik oleh Raden Tumenggung Kartanata Nagara. Pasukan Raden Tumenggung Kartanata Nagara kemudian memukul mundur seluruh laskar Nyimas Gamparan di kawasan Pamarayan. Nyimas Gamparan gugur. Jenazahnya disemayamkan di daerah Pamarayan, Serang-Banten.

Keberhasilan Ki Demang menumpas perlawanan Nyimas Gamparan pun mendapat anugerah dari Kompeni sebagai Bupati Rangkasbitung pertama (1830-1865) dengan gelar Raden Tumenggung Adipati Kartanata Nagara. (Man)

BACA JUGA:

  1. Nyimas Melati Singa Betina Tangerang\
  2. Ida I Dewa Agung Istri Kanya Wanita Besi Pengobar Perang Kusamba
  3. Siti Manggopoh Singa Betina Minangkabau
  4. Lopian Srikandi Tanah Batak
  5. Inggit Ganarsih, "Kartini" yang Dilupakan


Selvi Purwanti

LAINNYA DARI MERAH PUTIH